You are currently viewing Masjid Ar-Rahmah sebagai Masjid Pendidikan
DCIM100MEDIADJI_0064.JPG

Masjid Ar-Rahmah sebagai Masjid Pendidikan

Penulis: Dr. Anas Burhanuddin

(Dosen Prodi Hukum Keluarga Islam STDI Imam Syafi’i Jember)

Dalam dunia pendidikan tinggi umum, dikenal ada Rumah Sakit Pendidikan (RSP). Saat ini sudah ada belasan universitas di Indonesia yang memiliki RSP, yang disamping melayani masyarakat juga menjalankan fungsi pendidikan untuk para mahasiswa prodi-prodi terkait kedokteran dan kesehatan. Dalam ranah pendidikan tinggi keagamaan, Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah Imam Syafi’i (STDIIS) Jember juga ingin memiliki fasilitas dengan konsep serupa dalam wujud masjid pendidikan. Maksudnya bukan menutup diri dari masyarakat umum, tapi lebih fokus dengan kegiatan pendidikan yang berorientasi pada mahasiswanya yang tahun ini sudah mencapai 2.803 orang.

Masjid Ar-Rahmah dilihat dari dalam

Selama 15 tahun pertama sejak perintisan STDIIS, masjid kampus Ar-Rahmah cukup banyak mengakomodir kegiatan dakwah umum. Dan mulai tahun ini, Masjid Ar-Rahmah akan lebih fokus pada pendidikan mahasiswa. Hal ini seiring dengan berdirinya beberapa masjid di sekitar kampus yang bisa berbagi peran untuk mengcover dakwah dan kajian umum untuk umat Islam di Jember, seperti Masjid Abdillah dan Masjid Bahmudah. Para peminat kajian umum di Jember bisa bergeser ke masjid-masjid ini agar bisa tetap mengikuti kajian rutin dengan Bahasa Indonesia.

Kajian umum berbahasa Indonesia di Masjid Ar-Rahmah yang telah berjalan belasan tahun diubah menjadi kajian khusus untuk mahasiswa dengan berbahasa Arab. Ada hampir 40 kajian mulazamah -dengan variasi pilihan waktu dan tempat, dan sebagian besarnya di Masjid Ar-Rahmah- yang bisa dipilih oleh mahasiswa dan mahasiswi STDIIS pada semester ini, yaitu semester ganjil tahun akademik 2025-2026. Ini di luar perkuliahan untuk mata kuliah Metode Dakwah, halaqah Hifzhul Qur`an, halaqah hafalan hadits muqarrar dan kegiatan UKM Huffazhul Wahyain yang juga diselenggarakan di Masjid Ar-Rahmah. Khutbah Jum’at juga disampaikan dengan Bahasa Arab. Begitupun motivasi praktik bahasa Arab oleh dosen, nasihat dari mahasiswa S1 dan latihan speaking untuk mahasiwa Program I’dad Lughawi, semuanya disampaikan dengan Bahasa Arab.

Mahasiswa/i STDIIS wajib mengikuti sebagian kajian mulazamah (kokurikuler) yang diselenggarakan oleh Urusan Kegiatan Kokurikuler (UKK) sesuai dengan minat dan bakatnya. Dengan demikian, kajian kokurikuler bersifat wajib pilihan (wajib mukhayyar). Selama kuliah di STDIIS, mahasiswa wajib menyelesaikan paling tidak 4 kajian kokurikuler tanpa batas maksimal.

Perubahan ini mencerminkan komitmen STDIIS untuk terus meningkatkan kualitas seiring dengan kompetisi dan persaingan antar PTKI yang semakin ketat. Juga menegaskan komiten STDIIS sebagai kampus berbahasa Arab. Jika selama ini Bahasa Arab sudah menjadi pengantar utama perkuliahan -namun kajian mulazamah (kokurikuler) masih berbahasa Indonesia-, mulai tahun ini kajian kokurikuler juga menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar.

Dengan demikian, kajian diharapkan bisa menjadi lebih efisien, tidak membutuhkan syarah yang terlalu panjang dan mahasiswa bisa lebih sering khatam kitab. Kalau untuk mengkhatamkan kajian Kitab Kifayat al-Akhyar, Dr. Muhamad Arifin membutuhkan waktu 12 tahun, maka kajian Kitab Qawa’id al-Ahkam fi Mashalih al-Anam yang beliau mulai tahun ini diharapkan bisa khatam dalam waktu yang jauh lebih singkat. Selamat datang era baru Masjid ar-Rahmah sebagai Masjid Pendidikan!

Leave a Reply