Disclaimer : Bukan untuk mengungkap aib atau menjatuhkan ulama’, namun untuk membuka wawasan agar urat urat leher anda tidak mudah menegang.
Tak seorangpun meragukan keilmuan, ketokohan dan kepiawaian Imam Syafi’i dalam manajerial murid dan pengikutnya.
Wajar dalam berbagai kondisi sulit, beliau bisa mengatasinya, termasuk dalam urusan “aura persaingan” dengan perguruan lain, semisal perguruan murid murid Imam Malik selain beliau, demikian pula perguruan murid murid imam Abu Hanifah, Al Laits bin Sa’ad dan lainnya.
Di sisi lain, beliau adalah perintis mazhab, sehingga secara alami murid murid beliau ta’zhim, hormat dan patuh, tidak ada pikiran untuk menjadi pesaing beliau.
Kondisi jauh berbeda dengan murid murid beliau sepeninggal sang Imam rahimahullah.
Dari majelis majelis beliau, lahir ulama’ ulama’ besar, namun demikian, berbagai aspek yang semula bersatu pada diri Imam Syafi’i tidak semuanya bisa mereka tiru atau kuasai.
- Senioritas dalam hal ilmu.
- Senioritas dalam hal umur.
- Kemampuan dalam hal manajerial.
- Jam terbang menimba ilmu dan berinteraksi dengan ulama’ lain.
- Dan lain-lain.
Tua umur bisa jadi muda keilmuan, tua keilmuan dan umur namun minim manajerial, matang dalam hal manajerial namun ilmu kurang senior, demikian seterusnya.
Sebagai contoh, Imam Az Zahabi membuat perbandingan antara dua murid senior Imam As Syafi’i, yaitu Imam Al Muzani dan Imam Ar Rabi’ Al Muradi:
قد كان من كبار العلماء، ولكن ما يبلغ رتبة المزني، كما أن المزني لا يبلغ رتبة الربيع في الحديث
Ar Rabi’ bin Sulaiman Al Muradi termasuk ulama’ besar, namun beliau belum selevel dengan Al Muzani (dalam masalah fiqih) sebaliknya, Al Muzani tidak selevel dengan Ar Rabi’ dalam hal periwayatan hadits . (Siyar A’alam An Nubala’ 12/589)
Az Zahabi juga menceritakan perihal ketegangan yang terjadi antara dua murid Imam Syafi’i lain, yaitu antara Imam Yusuf Al Buwaithi dengan Imam Muhammad bin Abdillah bin Abdil Hakam, yang bersaing untuk menggantikan Imam Syafi’i mengajar di majelis beliau.
Sebagai seorang imam besar kenyang dengan pengalaman dan memiliki kematangan jiwa, Imam Syafi’i rahimahullah mengetahui kemampuan dan kelemahan masing masing muridnya, sehingga dengan mempertimbangkan banyak aspek, beliau lebih memilih Al Buwathi sebagai calon pengganti beliau, meneruskan majlis ilmunya.
Namun pilihan ini tentu tidak sepenuhnya bisa diterima oleh semua murid beliau, salah satunya oleh Muhammad bin Abdillah bin Abdil Hakam. Karena kecewa dengan pilihan ini, beliau memilih untuk kembali ke mazhabnya semula yaitu Maliki, dan sejak itu hubungan kedua antara Imam Muhammad bin Abdillah bin Abdul Hakam dengan Imam Al Buwaithi dan juga murid murid Imam Syafi’i lainnya tidak harmonis, bahkan cenderung bernuansa perseteruan.
Sampai sampai Imam Muhammad bin Abdillah bin Abdul Hakam menulis buku “Ar Raddu ‘ala As Syafi’i” untuk membantah pendapat pendapat gurunya sendiri yaitu Imam Syafi’i.
Ketegangan antara murid murid Imam Syafi’i bukan hanya antara dua tokoh di atas saja, bahkan melebar hingga menyeret Imam Al Muzani, Imam Ar Rabi’ bin Sulaiman Al Muradi, Imam Harmalah bin Yahya rahimahumullah.
Kisah kisah suksesi murid dalam mengisi kekosongan guru mereka semacam di atas, bukanlah hal yang asing, namun banyak terjadi di sepanjang masa.
Kondisi serupa juga terjadi antara murid murid Imam Malik rahimahullah.
Di era moderen, persaingan murid murid Syeikh Muqbin bin Hadi Al Wadi’i di yaman, demikian pula dengan murid murid Syeikh Al Albani di Yordania, bahkan juga murid murid Syeikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rahimahumullah bukanlah hal yang asing lagi.
Seusai menceritakan ketegangan yang terjadi antara murid murid Imam Syafii di atas, Imam Az Zahabi merasa perlu untuk menegur diri sendiri alias instropeksi diri dan tidak hanyut dalam kejadian kejadian seperti ini, sehingga berkata kepada :
استفق، ويحك، وسل ربك العافية، فكلام الاقران بعضهم في بعض أمر عجيب، وقع فيه سادة، فرحم الله الجميع.
Sadarlah, dan mohonlah perlindungan kepada Allah agar terbebas dari ujian semacam ini. Ucapan sesama teman selevel itu sesuatu yang sungguh mengherankan, tokoh tokoh besarpun terjatuh dalam kejadian seperti ini, semoga Allah senantiasa merahmati mereka semua. (Siyar A’alam An Nubala’ 12/61)
Sekali lagi, kisah ini saya angkat untuk menjadi pelajaran agar anda semua menyadari bahwa hanya Allah yang sempurna, dan menjadi menggugah saya dan juga anda sekalian agar lebih dewasa dalam menyikapi kejadian serupa.
Oleh: Dr. Muhamad Arifin Badri, M.A., Ketua STDI Imam Syafi’i Jember
