STDIIS Jember kembali menerima kunjungan dari Yayasan Cahaya Al-Furqan Paser pada Senin, 22 Desember 2025 bertepatan dengan 1 Rajab 1447 H. Kunjungan dilaksanakan dalam rangka penandatanganan Nota Kesepahaman Bersama (Memorandum of Understanding/MoU) guna peningkatan layanan mutu akademik serta pengembangan sumber daya manusia (SDM).
Penandatanganan MoU berlangsung di ruang rapat lantai dua Gedung Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani, pertemuan ini dihadiri oleh jajaran pimpinan STDIIS serta delegasi Yayasan Cahaya Al-Furqan Paser. Delegasi yayasan diwakili oleh Ustadz Moclish Sadono, Lc. selaku Ketua Yayasan Cahaya Al-Furqan, Ustadz Ahmad Zaini Shabri, Lc. selaku Pimpinan Pondok Pesantren, dan Ustadz Ahmad Mas’ud Badree, S.H.I. selaku Kepala Madrasah Aliyah.
Ruang lingkup MoU meliputi beberapa poin di antaranya: penerimaan mahasiswa baru melalui jalur prestasi, pengembangan dakwah skala nasional, beasiswa kader lembaga, kuliah tamu (visiting lecture), penyelenggaraan program Kampus Merdeka, rekrutmen alumni, pengabdian kepada masyarakat berupa KKN, serta berbagai kegiatan lain yang disepakati oleh kedua belah pihak.


Dalam sambutannya, Ustadz Moclish Sadono, Lc. menyampaikan bahwa kerja sama ini dilatarbelakangi oleh kondisi pendidikan Islam yang saat ini terus berkembang dan membutuhkan kesiapan SDM dari segi kuantitas maupun kualitas. Menurutnya, lembaga pendidikan Islam harus mampu mengkader peserta didiknya agar dapat berkiprah dan berkontribusi kembali kepada lembaga.
“Dengan adanya MoU ini, kami berharap dapat merealisasikan rencana kaderisasi dan pengembangan SDM yang berkesinambungan,” ujarnya. Beliau juga menyampaikan apresiasi dan harapan agar kerja sama ini dapat berkembang lebih luas di masa mendatang.
Sementara itu, Ketua STDIIS, Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, M.A., dalam sambutannya menegaskan bahwa STDIIS hadir sebagai lembaga pendidikan bagi para lulusan pesantren dan sekolah Islam yang ingin melanjutkan studi agamanya ke jenjang perguruan tinggi. Oleh karena itu, diperlukan kesinambungan dan sinergi antara lembaga pendidikan menengah dan pendidikan tinggi agar proses pembelajaran bisa berjalan secara terarah.
Dan salah satu poin yang disampaikan dalam sesi diskusi adalah impian dalam membuat standar kompetensi lulusan, hal ini disampaikan oleh perwakilan dari yayasan Al-Furqan. Menanggapi hal ini, Ustadz Arifin menyampaikan bahwa STDIIS akan menerapkan IKLA (ikhtibar kifayah lughah al-arabiyyah) dalam tes PMB 2026. Bagi siapapun yang berhasil lulus atau mendapat nilai minimal dalam tes IKLA, bisa langsung diterima menjadi mahasiswa. “Ini upaya kami dalam membuat standar kompetensi setidaknya dalam kemampuan bahasa Arab.” tutur beliau.




