Pak Mus adalah tetangga kami yang tinggal di belakang Perumahan Dosen (Perumdos) STDI Imam Syafi’i. Mus adalah nama anak pertamanya. Sebagaimana tradisi di Jember, seorang ayah biasanya dipanggil Pak Fulan atau Pak Fulanah, tergantung pada nama anak pertamanya. Hal ini serupa dengan kunyah dalam tradisi Arab, hingga kami bahkan tidak mengetahui nama asli beliau.
Beliau bekerja sebagai tenaga bangunan di proyek-proyek Yayasan Imam Syafi’i. Sesekali di luar jam kerja, kami secara bergantian meminta bantuan beliau untuk memperbaiki perabot rumah dengan memberikan imbalan yang sesuai.
Pada suatu Ahad pagi, kami mendapat kabar duka atas meninggalnya istri beliau. Warga Perumdos yang tidak sedang safar ke luar kota segera datang untuk bertakziah sambil memberikan bantuan. Dalam obrolan takziah tersebut, beliau bercerita bahwa selama 15 tahun terakhir, beliau tidak pernah bekerja di tempat lain selain proyek-proyek STDIIS Jember dan lembaga pendidikan lain di bawah Yayasan Imam Syafi’i. Tepatnya sejak tahun 2010 saat kampus ini mulai dirintis, ungkapnya menjelaskan secara terperinci.
Tentu, 15 tahun bekerja dan bertahan di satu tempat adalah sebuah pencapaian. Tidak mungkin seorang pekerja bertahan selama itu, kecuali jika memang pemberi kerja merasa puas dengan kinerjanya. Sebaliknya, pekerja tersebut juga tidak mungkin bertahan selama 15 tahun kecuali jika ia mendapatkan hak-haknya dengan baik, serta terjalin simbiosis mutualisme dan kemitraan yang sehat antara kedua belah pihak.
Kisah serupa juga dialami oleh Pak Mursyid, warga Kecamatan Arjasa. “Saya bergabung sedikit lebih awal dibandingkan Pak Mus. Kalau Pak Mus pertama kali bekerja di proyek pembangunan asrama dan perpustakaan, saya sudah bergabung saat pembangunan kantor administrasi,” kata Pak Mursyid memberikan rincian. Bedanya, jika rumah Pak Mus hanya sepelemparan batu dari Perumdos STDIIS, Pak Mursyid membutuhkan waktu sekitar setengah jam untuk mencapai kampus STDIIS.
Masih ada puluhan kisah yang serupa dengan kisah Pak Mus dan Pak Mursyid ini. Memang belum banyak yang dilakukan oleh STDIIS Jember, namun insyaallah masyarakat secara perlahan dapat membuktikan bahwa STDIIS tidak berbahaya sebagaimana isu yang dahulu pernah beredar. Mereka sudah sampai pada kesimpulan bahwa tuduhan teroris adalah isapan jempol semata.
Sebaliknya, perlahan-lahan masyarakat sekitar mulai merasakan manfaat keberadaan kampus. Bisnis indekos di sekitar kampus berkembang pesat. Pak Ir, misalnya, warga Desa Gumukbago, memiliki lebih dari 20 kamar kos yang disewakan. ”Alhamdulillah selalu penuh oleh mahasiswa,” katanya. Letaknya yang sangat dekat dengan kampus STDIIS dan view persawahan menjadi daya tarik bagi mahasiswa. Sementara itu, Pak Totok lebih memilih mengontrakkan rumah kecil untuk mahasiswa yang sudah berkeluarga. Total kosnya juga sudah puluhan.
Warung makan di sekitar kampus juga semakin ramai seiring dengan jumlah mahasiswa yang tahun ini mencapai 2.803 orang. Pemilik Sate Delima bercerita bahwa gerainya sering kali sudah tutup saat waktu salat Isya karena banyaknya pesanan dari kampus putri, padahal ia baru mulai membuka dagangannya pada sore hari. Jangan tanya tentang Warung Bu Is, karena ini adalah tempat berkumpul mahasiswa paling populer, mengingat jaraknya hanya sekitar 15 meter dari gerbang kampus.
Dalam hal akhirat, masjid-masjid sekitar juga menjadi ramai dengan jemaah mahasiswa. Dalam satu kesempatan salat Isya, Masjid Baitul Muttaqin -yang berjarak sekitar 100 meter dari kampus- penuh hingga saf paling belakang, dan sekitar dua pertiga jemaahnya adalah mahasiswa STDIIS. Insyaallah, semaraknya masjid akan menambah pahala bagi para pewakafnya.
Ya, belum banyak yang kami lakukan, tetapi kami ingin terus berbuat baik dan berkontribusi positif untuk Jember dan Indonesia. Bismillah, mohon terus dukung dan doakan kami.
Oleh: Dr. Anas Burhanuddin, M.A., Puket I Bidang Akademik STDIIS
