Waspadai Beratnya Tantangan Mahasiswa Era Digital, PUKET 3 STDIIS Jember Gelar Seminar Bijak dan Sehat Menggunakan Gawai dan Internet

Waspadai Beratnya Tantangan Mahasiswa Era Digital, PUKET 3 STDIIS Jember Gelar Seminar Bijak dan Sehat Menggunakan Gawai dan Internet

Jember (stdiis.ac.id) – Tantangan mahasiswa era teknologi memang semakin berat. Keberadaan gawai dan teknologi saat ini sulit dipisahkan dari kehidupan para penuntut ilmu. Keduanya adalah nikmat dengan dua mata pisau. Dapat mendatangkan hal postitif dan juga hal negatif.

Kewaspadaan ini, dibungkus PUKET 3 (bagian kemahasiswaan) STDIIS Jember bekerja sama dengan BEM STDIIS Jember, hari ini Ahad, 21 Shafar 20 Oktober 2019, melaksakanan sebuah seminar, bertajuk “Bijak dan Sehat Menggunakan Gawai dan Internet” di Masjid Ar-Arhmah.

Seminar ini membedah 2 hal besar, dari tinjauan Ilmu Kesehatan, yang menghadirkan dr. Abd. Rouf dan dari tinjauan ilmu syar’i, menghadirkan ustadz Anas Burhanuddin, M.A.

Sebuah fakta yang banyak dijumpai saat ini, orang dapat memeras belasan jam mereka untuk berinteraksi dengan gawai dalam kesehariannya. Kebiasaan ini ternyata mendatangkan banyak dampak negatif dari sisi kesehatan.

Dalam penyampaian materinya, dr. Abd. Rouf menjelaskan jika kecanduan gawai ini dapat menyebabkan penglihatan terganggu atau dikenal dengan istilah Computer Vision Syndrome (CVS), perubahan bentuk tulang menjadi tidak normal, menggangu kualitas tidur, sakit kepala dan gangguan syaraf otak.

Alumni kedokteran Universitas Airlangga ini menyarankan kepada para pengguna gawai untuk menerapkan teori 20 20 20, artinya setiap 20 menit menatap layar gawai, maka sempatkan beristirahat selama 20 detik dan mengalihkan pandangan sejauh 20 kaki (sekitar 6 meter). “20 menit kita fokus (menatap layar), dalam waktu setelah menit ke 21, kita alihkan pandangan kita sejauh kurang lebih 6 meter, jadi kita menghindari terjadinya rabun dekat.” Jelasnya.

Seorang yang bijak akan menggunakan gawai dan internet untuk kebutuhan menuntut ilmu seperti kuliah online, halaqah tahfidz, kajian online, buhuts jurnal dan e-book. Di era digital ini, dakwah juga dapat tersebar luaskan dengan bantuan keduanya.

Selain faktor medis, anak muda sekarang diuji dengan internet yang cepat dengan harga yang murah. Kemudahan ini rentan disalahgunakan kaula muda, sehingga terjerumus dalam kemaksiatan kepada Allah.

Dalam bedah materi sesi yang kedua, pemateri berpesan agar mahasiswa membasahi ladang internet dengan sesuatu yang mendatangkan amal jariyah.

“Hendaknya menggunakan internet dan gawai sebagai ladang pahala. Jangan menjadikannya sebagai ladang dosa, apalagi dosa jariyah.” Tegas ustadz Anas Burhanuddinm M.A.

Lebih lanjut, Dosen pengajar Fiqih Ibadah ini menyampaikan jika masa muda adalah masa yang paling potensial menjemput hidayah. Pemuda hebat yang diidamkan nabi adalah pemuda yang hidup di atas ketaatan, tidak menunggu tua baru berotabat.

Salah satu ibadah terpenting di era internet saat ini adalah Ghadul bashar atau menjaga pandangan. Maksiat membuat seseorang malas beribadah, walau hanya sekedar membuka lembaran mushaf.

Konten internet sangat menarik dan beragam. Hal ini menyebabkan orang lalai dan lari dari tujuan utama saat browshing, oleh karenanya, pembatasan diri adalah suatu keharusan sebagai penuntut ilmu. “Jiwa kita ini inginnya santai-santai terus, tapi kita yang harus membatasi, karena kita punya cita-cita yang jelas.” Pungkasnya.

Internet juga merupakan ladang syubhat. Fitnah begitu mudah bermunculan di era ini, karenanya harus mewaspadai dalam mengambil rujukan atau sumber-sumber ilmu yang bertebaran di internet, serta waspada dalam menyampaikan sesuatu. “Tidak semua yang kita ketahui layak untuk disampaikan (di dunia maya)” Tegasnya.

Di akhir materinya, ustadz anas menyampaikan untuk mengkhususkan waktu-waktu tanpa gawai dan internet, diaantaranya saat kuliah, halaqah, saat di masjid dan waktu murajaah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *