Obrolan di Masjid Nabawi
Sejumlah mahasiswa Indonesia yang menempuh studi di Islamic University of Madinah sepakat mewujudkan ide mendirikan kampus yang berbasis bahasa Arab setelah menyelesaikan pendidikan mereka.
Perjalanan berdirinya Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah Imam Syafi'i bermula dari sebuah obrolan ringan beberapa mahasiswa Indonesia di Masjid Nabawi, hingga akhirnya menjelma menjadi kampus tinggi Islam berbasis bahasa Arab di Jember.
Tiga fase penting yang menandai perjalanan panjang berdirinya STDI Imam Syafi'i.
Sejumlah mahasiswa Indonesia yang menempuh studi di Islamic University of Madinah sepakat mewujudkan ide mendirikan kampus yang berbasis bahasa Arab setelah menyelesaikan pendidikan mereka.
Setelah panitia pendirian menerima tawaran gedung dari Bapak Ahmad bin Ali Jawwaz di Jember, berdirilah Ma'had 'Aly Imam Syafi'i sebagai cikal bakal kampus, sekaligus awal dari proses perizinan.
Departemen Agama melalui Dirjen Pendidikan Tinggi Agama Islam menerbitkan izin operasional SK Dj.I/375/2010. Ma'had 'Aly berganti nama menjadi Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah Imam Syafi'i disingkat STDI, dengan dua program studi dan Al I'dad Al Lughawy.
Dari obrolan santai di Masjid Nabawi hingga menjadi kampus tinggi Islam bertaraf internasional.
Berdirinya STDI Imam Syafi'i Jember berawal dari satu obrolan ringan beberapa mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh studi di Islamic University of Madinah, Saudi Arabia. Di suatu sore tahun 2005, beberapa orang mahasiswa Indonesia duduk santai di Masjid Nabawi. Obrolan mereka mengalir dari satu tema ke tema lain, hingga akhirnya sampai pada rencana pasca menyelesaikan pendidikan di Islamic University.
Berbagai rencana dan ide terlontar. Ada yang berencana mengabdi di lembaga pendidikan asalnya, ada yang mengutarakan rencana mendirikan pesantren di daerah asalnya, dan ada pula yang melontarkan satu ide yang lebih ambisius, yaitu mendirikan kampus yang berbasis bahasa Arab.
Dari obrolan ringan di Masjid Nabawi, obrolan berlanjut kepada musyawarah yang lebih serius di asrama salah seorang mahasiswa pascasarjana. Pembicaraan semakin mengerucut pada satu ide: pendirian satu lembaga pendidikan tingkat tinggi yang berbasis bahasa Arab, dengan kurikulum mengacu pada kurikulum yang diterapkan di Islamic University, tetap mengikuti regulasi dan kurikulum wajib dari Departemen Agama Republik Indonesia.
Paling kurang ada beberapa alasan yang membuat seluruh mahasiswa yang terlibat dalam diskusi ini tertarik menindaklanjuti ide tersebut:
Memahami berbagai alasan di atas, mahasiswa-mahasiswa yang terlibat akhirnya membulatkan tekad untuk benar-benar merealisasikan ide ini. Maka dibentuklah panitia pendirian yang terdiri dari beberapa mahasiswa senior, yang kemudian secara intensif mengadakan pertemuan demi pertemuan untuk mematangkan rencana. Mereka membahas regulasi, pendanaan, SDM, lokasi pendirian, serta berbagai pihak yang dapat mendukung realisasi rencana.
Mematangkan konsep, regulasi, dan skema kurikulum berbasis bahasa Arab.
Melobi dan mencari lokasi yang cocok, dari Yogyakarta hingga akhirnya Jember.
Mendirikan Ma'had 'Aly dan menempuh perizinan hingga resmi menjadi STDI.
Pada awalnya, STDI Imam Syafi'i direncanakan untuk didirikan di kota Yogyakarta, dengan berbagai pertimbangan: Yogyakarta sebagai kota pelajar dengan jumlah kampus sangat banyak, kemudahan akses, biaya hidup yang relatif murah, kelengkapan fasilitas umum dan infrastruktur daerah, serta letak geografisnya yang strategis.
Panitia yang terdiri dari beberapa mahasiswa senior Islamic University of Madinah mengadakan kegiatan dauroh training selama dua pekan. Pada saat yang sama, panitia melakukan lobi-lobi dan pencarian lokasi yang cocok. Namun setelah melalui berbagai upaya, rencana tersebut terpaksa harus diubah, mengingat keterbatasan faktor finansial dan dukungan masyarakat yang kurang memadai.
Hingga pada suatu sore, panitia pendirian berjumpa dengan seorang tamu/donatur dari Jakarta yang sedang menunaikan ibadah umrah dan berkunjung ke kota Madinah. Tamu tersebut adalah seorang warga negara Indonesia keturunan Arab Yaman, yaitu Bapak Ahmad bin Ali Jawwaz.
Setelah mendengar paparan panitia tentang rencana pendirian sekolah tinggi dengan konsep yang dicanangkan, beliau menyambutnya dengan gembira. Malam itu juga beliau menawarkan agar sekolah tinggi yang direncanakan segera dilaksanakan dengan menempati bangunan sekolah milik beliau yang berlokasi di kota Jember, Jawa Timur.
Pada awalnya sebagian panitia merasa gamang untuk menerima tawaran ini. Namun setelah melalui tarik ulur, akhirnya disepakati untuk menerima tawaran tersebut. Beberapa alasan mendasar mendorong keputusan ini:
Pada tahun 2007 berdirilah Ma'had 'Aly Imam Syafi'i sebagai cikal bakal STDI Imam Syafi'i. Sejak saat itu pula, tahapan-tahapan perizinan pendirian sekolah tinggi dimulai selangkah demi selangkah. Hingga pada akhirnya, pada tahun 2010, Departemen Agama melalui Dirjen Pendidikan Tinggi Agama Islam menerbitkan izin operasional yang tertuang dalam SK bernomor Dj.I/375/2010.
Sejak saat itu pula, secara resmi Ma'had 'Aly Imam Syafi'i berganti nama menjadi Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah Imam Syafi'i, atau disingkat menjadi STDI Imam Syafi'i.
Untuk mensiasati kendala komitmen penggunaan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar, STDI Imam Syafi'i juga mendirikan program persiapan bahasa yang disebut Al I'dad Al Lughawy, yaitu program matrikulasi bahasa Arab bagi calon mahasiswa baru yang belum lancar atau bahkan belum mampu berbahasa Arab secara aktif. Peserta program ini mendapatkan pendidikan bahasa Arab secara intensif selama satu sampai dua tahun, sehingga setelah mengikutinya mereka dapat mengikuti ujian seleksi masuk kuliah di STDI Imam Syafi'i.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai STDI Imam Syafi'i, silakan unduh dokumen resmi di atas.