UNTUK SIAPA AKU BERAMAL ?

Allah.

Tentu setiap orang akan mengatakan : “Aku beramal ikhlas untuk Allah Ta’ala”. Inilah kata Ikhlas yang sering didengar dan diucapkan. Kata yang begitu ringan dan mudah untuk disebut dan terasa enak didengar.Namun, cukup sulit untuk mengaplikasikannya. Inti ikhlas adalah beramal hanya untuk Allah semata…, Lillah( hanya untuk Allah Ta’ala), murni untuk Allah Ta’ala dan karena Allah Ta’ala tanpa ada yang lain. Tidak terkontaminasi oleh niat-niat lain walau hanya nol koma satu persen atau kurang dari itu…Oh betapa sulitnya…

Apa Itu Niat . . . ?

Disebutkan oleh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Asy-Syafi’i rahimahullah bahwa niat adalah : Keinginan kuat dalam hati yang semata-mata mengharapkan ridha dari Allah Ta’ala dengan menjalankan segala perintah dan aturan-Nya, dan tempatnya dalam hati.(Fathu Al-Baari 1/18-19). Niat yang kaitannya dengan amalan hati, merupakan ruhnya amalan. Apabila amalan bisa diibaratkan sebagai jasadnya,maka niat dalam hati merupakan ruh jasad tersebut. Sehingga niat seorang mukmin lebih utama dibanding amalannya, karena apabila diamati segala aspek amalan manusia, baik amalan lisan maupun anggota badan sangat bergantung dengan niat. (Fathu Al-Baari 1/17). Sebagai kosekuensinya mengharuskan adanya keserasian antara batin dan amalan zhahir.

Antara Niat dan Ikhlas

Para Ulama’ menyatakan bahwa niat dikategorikan menjadi dua yaitu:

Pertama, yaitu niat yang membedakan antara suatu ibadah dengan ibadah yang lain. Seperti membedakan antara shalat dhuhur dengan shalat ashar, antara puasa ramadhan dengan puasa sunnah, atau niat yang membedakan antara perkara ibadah dengan adat kebiasaan, seperti membedakan antara mandi besar (janabah) dengan mandi kebiasaan untuk penyegaran dan kebersihan, dan yang lainnya. Niat ini yang sering dibahas oleh ulama’ – ulama’ ahli fiqih.

Adapun yang kedua, yaitu niat yang membedakan antara maksud dan tujuan amalan, apakah amalan tersebut yang diniatkan hanya semata-mata untuk Allah Ta’ala, atau untuk Allah Ta’ala dan juga untuk yang lainNya, dan inilah yang sering disebut oleh ulama’ terdahulu yang kemudian diartikan dengan ikhlas. (Jami’ul ulum wal hikam)

Keikhlasan Ada Dalam Hati

Tidak ada seorangpun yang mengetahui tentang keikhlasan orang lain karena tempatnya di dalam hati dan tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah Ta’ala saja. Seseorang diperintah untuk memperbaiki diri dan niatnya dan bukan membahas dan membicarakan niat dan hati orang lain. Maka dalam hal ini tidak perlu seseorang mengucapkan niatnya terlebih dalam masalah ibadah karena Rasulullah Shallallahu ‘laihi wasallam tidak pernah melakukannya. Dan seseorang beribadah kepada Dzat yang Maha mengetahui dan hendaknya seseorang waspada dengan waswas syetan, jangan sampai dirinya disibukkan dengan hal ini sehingga khususnya pada ibadah shalat, Imam shalat sudah selesai membaca surat Al-Fatihah akan tetapi dia belum selesai dengan niatnya. Imam Nawawi rahimahullah adalah Imam yang bermadzhab syafi’i ketika membahas tentang niat dalam wudhu’ menjelaskan bahwa niat dalam hati itu lebih dikedepankan, beliau menyatakan bahwa melafadzkan niat dalam zakat tanpa disertai dengan niat dalam hati adalah perkara yang tidak dibenarkan dan beliau juga menyatakan bahwa apabila ada seseorang yang berkata dengan lisannya : “Aku niatkan mandi untuk mendinginkan badan, sedangkan dalam hatinya berniat untuk menghilangkan hadats atau sebaliknya maka yang dianggap adalah niat yang ada dalam hati, dan yang semisal dengan ini juga disebutkan oleh Imam syafi’i dan Syairozi rahimahumallah dan yang lain ketika membahas masalah haji disebutkan : Apabila seseorang berniat haji dalam hatinya sedangkan dalam lisan dia menyebutkan umrah atau sebaliknya maka yang dianggap adalah apa yang ada dalam hati. (kitab majmu’ syarh muhadzab, 1/172-173).

Niatku Telah Berubah

Dalam suatu keadaan kadang niat seseorang bisa berubah, sebagaimana hati mudah berbolak-balik. Imam Sufyan Ats –Tsauri rahimahullah mengatakan : “Tidak ada sesuatu yang lebih sulit aku perbaiki dalam diriku kecuali niatku, karena ia senantiasa berbolak-balik. (Jaami’ul ‘ulum wal hikam). Apabila seseorang salah dalam niat dari maksud dan tujuan amalan maka hal ini bisa terjatuh dalam kesyirikkan, bisa syirik kecil seperti riya’ atau sum’ah yaitu seseorang yang beramal supaya dilihat atau didengar orang lain, dan bisa terjatuh ke dalam syirik besar yang mengakibatkan pelakunya keluar dari agama islam, apabila dia beramal ditujukan kepada selain Allah Ta’ala. Adapun niat yang berkaitan dengan masalah ibadah, maka para ulama menjelaskan bahwa ibadahnya bisa batal (rusak) sebagai contoh seseorang yang shalat kemudian dia berniat membatalkannya (meninggalkan sholat) ditengah-tengah waktu sholat maka otomatis sholatnya batal, demikian juga hal ini berlaku dalam ibadah puasa dan i’tikaf, akan tetapi hal ini tidak berlaku dalam ibadah haji. (kitab majmu’ syarh muhadzab 1/186).

Tumpang-tindih niat

Agama islam agama yang mudah, Islam memberikan segala kemudahan bagi hamba yang beriman. “Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui” inilah pepatah yang tidak lagi asing didengar, seseorang tentunya berkeinginan dengan waktu yang relatif singkat bisa mendapatkan hasil yang berlipat ganda, oleh karena itu dalam syariat Islam diperbolehkan seseorang mengerjakan satu ibadah dengan dua niat, sebagai contoh seseorang yang hendak mengerjakan shalat sunat dua raka’at setelah wudhu’ dan dengan waktu bersamaan dia hendak mengerjakan shalat tahiyatul masjid, maka dalam hal ini diperbolehkan mengerjakan shalat dua rakaat saja dengan dua niat. Dan seseorang yang hendak menggabung dua niat harus memperhatikan hal-hal berikut ini :

  • Membedakan jenis amalan yang wajib dan bukan wajib. Sebagai contoh seorang yang hendak mengerjakan mandi janabah dan mandi untuk ihram karena kedua-duanya wajib maka boleh hanya mencukupkan dengan sekali mandi dengan dua niat maka kedua-duanya terpenuhi.
  • Dalam amalan wajib yang tujuannya sama. Seperti seorang wanita yang hendak mandi janabah dan diwaktu yang sama dia hendak mandi thaharoh (bersuci) dari haidh, maka cukup mandi sekali dan kedua-duannya terpenuhi.
  • Kemudian jika dalam amalan yang sunat juga harus diperhatikan tujuannya. Seperti : seseorang yang hendak mengerjakan dua amalan sunat, akan tetapi tujuannya berbeda seperti shalat sunah ba’diyah( setelah) isya’ dan sholat witir maka kedua amalan ini tidak bisa digabung.(Syarhul mumti’ 1/197-209)

(Mawardi)

Refrensi : Fathu Al-Baari, oleh Ibnu Hajar al- Asqolany.

Jaami’ul ulum wal hikam, oleh Ibnu Rajab .

Majmu’ syarh muhadzab, oleh Nawawi Asy- syafi’i.

Syarhul mumti’, oleh Muhammad bin Shalih Al- Utsaimin.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *