SUDAHKAH KITA MAKAN & MINUM SECARA ISLAMI?

 

rotator

Kita semua tahu bahwa Islam adalah agama yang sempurna, tidak ada satu perkara pun kecuali pasti telah ada petunjuknya yang sempurna di dalam Islam, hanya saja banyak di antara kita yang belum tahu dan kurang semangat untuk mencari tahu.

Di antaranya ialah perihal makan dan minum. Bagaimanakah Islam memberikan petunjuk? Bagaimanakah etika makan dan  minum yang baik sehingga kita bisa mengambil faedah maksimal dari aktivitas kita berupa makan dan minum itu, baik faedah jasadiyyah maupun faedah ukhrawiyyah? Akankah kita makan dan minum sekadar untuk menghilangkan lapar dan haus semata sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang kafir? Tentu kita tidak ingin seperti mereka.

Oleh karena itu, sebagai seorang muslim kita perlu tahu bagaimanakah Islam yang indah ini mengatur dan memberikan petunjuk tentang tata cara makan dan minum yang baik, menyehatkan, bahkan bernilai pahala. Berikut penjelasannya secara ringkas.

 

  1. Berniatlah makan untuk menguatkan tubuh sehingga mampu melakukan ibadah.

Hal itu agar kita mendapatkan pahala dari Allah Ta’ala. Karena amal yang mubah jika diniatkan untuk ketaatan maka akan bernilai pahala.

 

  1. Mulailah makan dengan membaca bismillaah.

Bila lupa membaca di awal dan baru ingat ketika sedang makan, maka bacalah bismillaahi fii awwalihi wa aakhirihi. Inilah petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian hendak makan, maka ucapkanlah ‘bismillah’. Jika lupa mengucapkan ‘bismillah’ di awalnya, maka ucapkanlah ‘bismillahi fii awwalihi wa aakhirihi (dengan nama Allah di awal dan di akhirnya).'” (HR. Ibnu Majah: 3264, Shahih Ibnu Majah: 3255)

 

  1. Ambillah makanan yang paling dekat.

Inilah di antara ajaran Islam yang mulia yang membendung umatnya dari benih-benih sifat rakus dan tamak. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menasihati Umar bin Abi Salamah radhiyallahu ‘anhu semasa kecilnya,

“Wahai bocah, bacalah bismillah, makanlah dengan tangan kanan dan ambillah makanan yang paling dekat denganmu.” (HR. al-Bukhari: 5376 dan Muslim: 2022)

 

  1. Jangan menghembuskan napas di dalam gelas saat minum, tapi di luar gelas.

Abdullah bin Abi Qatadah radhiyallahu ‘anhu pernah meriwayatkan hadits dari bapaknya bahwa ia berkata, “Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang seseorang menghembuskan napas di dalam bejana (tempat makan atau minum).” (HR. Muslim: 267)

Hikmahnya dijelaskan dalam hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menghembuskan napas (di luar gelas sebanyak) tiga kali (sebagai jeda) saat minum, lalu bersabda: ‘Hal itu bisa lebih menghilangkan dahaga, lebih selamat dan lebih menyegarkan.'” (HR. Muslim: 2028)

 

  1. Jangan meniup makanan atau minuman.

Hal ini berdasarkan hadits dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu ia berkata:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang minum dari bagian bejana yang retak dan melarang meniup minuman.” (HR. Abu Dawud: 3722, as-Silsilah ash-Shahihah: 388)

 

  1. Gunakanlah tangan kanan untuk makan.

Karena makan dengan tangan kiri adalah kebiasaan setan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika kamu makan, makanlah dengan tangan kananmu, dan jika minum, minumlah dengan tangan kananmu. Karena sesungguhnya setan makan dan minum dengan tangan kirinya.” (HR. Muslim: 2020)

 

  1. Duduklah ketika makan dan minum.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang seseorang minum sambil berdiri.” Qatadah rahimahullah berkata, Kami berkata, “Bagaimana dengan makan?” Anas menjawab, “Hal itu lebih dilarang.” (HR. Muslim: 2024)

Namun sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang lain, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah minum air zamzam sambil berdiri.” (HR. al-Bukhari: 5294)

Kompromi dari dua hadits di atas ialah bahwa kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah makan dan minum dengan duduk. Maka hendaknya seorang muslim juga membiasakan diri untuk makan dan minum dengan duduk demi meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun dalam kondisi-kondisi tertentu yang sangat dibutuhkan boleh juga makan dan minum sambil berdiri.

 

  1. Jangan menggunakan bejana dari emas atau perak

Mengapa? Jawabannya ada dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Janganlah kalian minum menggunakan bejana emas dan perak, jangan pula makan di nampan yang terbuat dari keduanya. Karena sesungguhnya emas dan perak itu untuk mereka (orang-orang kafir) di dunia dan untuk kita di akhirat kelak.” (HR. al-Bukhari: 5110 dan Muslim: 2067)

 

  1. Jangan mencela makanan.

Inilah petunjuk yang mulia dari Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Jika suka maka kita makan, namun jika tidak suka maka jangan dicela. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu (sahabat mulia Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam) berkata:

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah mencela makanan sedikit pun. Apabila beliau suka maka beliau memakannya. Bila tidak suka maka beliau tidak memakannya.” (HR. al-Bukhari: 5093 dan Muslim: 2064)

 

  1. Pujilah makanan.

Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah meminta lauk kepada para istrinya, lantas mereka berkata, ‘Kami tidak punya apapun kecuali cuka.’ Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memintanya dan memakan makanan dengan lauk tersebut, seraya berkata, ‘Lauk yang paling nikmat adalah cuka, lauk yang paling nikmat adalah cuka.'” (HR. Muslim: 2052)

 

  1. Bacalah doa setelah makan.

Di antara lafal doa yang shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ialah doa yang terdapat dalam hadits Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang setelah makan mengucapkan,

الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَطْعَمَنِي هَذَا وَرَزَقَنِيْهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَلَا قُوَّةٍ

(Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makan dan rezeki tanpa daya dan kekuatan dariku) niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. at-Tirmidzi: 3458, Shahih at-Tirmidzi: 2751)

Demikianlah beberapa etika makan dan minum yang dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits-haditsnya. Semoga Allah Azza wa Jalla memberikan taufik dan kekuatan kepada kita untuk bisa mengamalkan hadits-hadits ini, sehingga bukan hanya hilangnya rasa lapar dan haus semata yang kita dapatkan, tapi juga pahala dari Allah al-‘Aziizur-Razzaaq. Wallahu Ta’ala a’lam bish-shawab. [Abu Yasir].

 

Referensi:

Minhajul Muslim, Abu Bakr Jabir al-Jaza’iry,

– Dll.

 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *