SOPAN BUKAN AROGAN

 pemimpin (1)

Segala puji bagi Allah Ta’ala yang telah menjadikan negara kita, negara yang memberi kebebasan kepada umat islam untuk mengamalkan syariatnya dalam kehidupan sehari-hari, adzan masih berkumandang, dan kibar jilbabpun sejuk dipandang. Ini merupakan nikmat yang pantas disyukuri. Pemimpin yang baik dan adil adalah dambaan setiap orang, tak perdulikan harta,jiwa raga untuk memperolehnya. Banyak yang bersorak menuntut pemimpin agar berbuat adil dan baik, akan tetapi yang menjadi pertanyaan “sudahkah saudara bisa menjadi rakyat yang baik?. Sebagai seorang muslim harusnya sadar apakah dirinya sudah menjalankan kewajibannya sebagai rakyat, sebelum menuntut pemimpinnya. Berikut tuntunan Islam memberikan arahan menjadi rakyat yang baik :

Sikap dan Kewajiban Seorang Muslim Sejati Terhadap Pemimipin Negara.

Sebagai seorang muslim yang sejati, sudah menjadi kewajiban mereka  mengembalikan semua perkaranya kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Terlebih terhadap permasalahan kepemimpinan. Yang mana Al-Qur’an telah menjelaskan tentang kewajiban-kewajiban rakyat yang harus ditunaikan kepada pemimpinnya. Diantaranya, mentaati dan mematuhi segala perintahnya kecuali apabila diperintah untuk berbuat maksiat. Karena tidak ada ketaatan dalam perkara yang mengandung unsur kemaksiatan kepada sang pencipta. Kemudian memberikan nasihat peringatan dan mendo’akannya, membantunya dalam perkara-perkara yang haq, serta tidak mengadakan kudeta, memberontak, ataupun tidak mengindahkan segala perintah dan aturannya, baik pemimpin yang adil maupun pemimpin yang lalim dan diktator, selama mereka tidak nyata kekafirannya. Sebagaimana diriwayatkan dari Junadah bin Umayyah mengatakan, kami berkunjung ke Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu yang ketika itu sedang sakit. Kami menyapa: ‘’semoga Allah menyembuhkanmu, ceritakan kepada kami sebuah Hadits, yang kiranya Allah memberimu manfaat karenanya, yang engkau dengar dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam! ‘’ Ia menjawab: ‘’Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memanggil kami sehingga kami berbaiat kepada Beliau.’ Ubadah melanjutkan: Diantara janji yang beliau ambil dari kami adalah agar kami berbaiat kepada Beliau untuk senantiasa mendengar dan ta’at, saat giat mapun malas, dan saat kesulitan maupun kesusahan, lebih mementingkan urusan bersama, serta agar kami tidak mencabut urusan dari ahlinya kecuali jika kalian melihat kekufuran yang terang-terangan, yang pada kalian mempunyai alasan yang jelas dari Allah’’.(Muttafaq ‘alaihi)

Dalam kaitannya dengan permasalahan ini, para Ulama telah mewanti-wanti agar jangan sampai seseorang terjatuh pada perkara menghina, melecehkan, atau mendo’akan kejelekan kepada para pemimpin. Karena hal ini akan berakibat munculnya fitnah kebencian dan kedengkian antara pemimpin dan rakyatnya, sekaligus menyulut api perpecahan dan perselisihan diantara umat. (Al-Adilah As-syar’iyah fi bayaani haqi ar-raa’i wa ar-ra’yyah)

Kewajiban yang Harus Ditunaikan.

Diantara kewajiban yang harus ditunaikan rakyat kepada pemerintah adalah:

a. Ikhlas dan Menyampaikan Nasihat.

Tidak ada manusia yang terbebas dari kesalahan terlebih seorang pemimpin. Oleh karena itu kewajiban rakyat yang pertama kali ditunaikan untuk pemimpinnya adalah ikhlas menerima dengan lapang dada dan menasehatinya dengan penuh kecintaan serta tidak menginginkan bagi pemimpinnya kecuali kebaikan semata, dan gelisah apabila pemimpin tertimpa satu hal yang yang tidak diinginkan. Sebagaimana hal ini dipertegas dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam : Agama itu nasehat.” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, KitabNya, RasulNya, para pemimpin kaum muslimin dan mereka semua secara umum (HR. Bukhari, Muslim). Dalam menyampaikan nasihat harus memperhatikan aturan sehingga tidak terkesan arogan. Diantara perkara yang harus diperhatikan seseorang ketika menyampaikan nasehat kepada pemimpin adalah:

  1. Dengan Sembunyi-Sembunyi

Maksudnya apabila seseorang hendak menasehati pemerintah maka jangan disampaikan dengan terang-terangan dimuka publik. Sebagimana anjuran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya: Barangsiapa yang hendak menasehati pemerintah dengan suatu perkara, maka janganlah ia tampakkan di khalayak ramai. Akan tetapi hendaklah ia mengambil tangan penguasa (raja) dengan empat mata. Jika ia menerima maka itu (yang diinginkan) dan kalau tidak, maka sungguh ia telah menyampaikan nasihat kepadanya.(HR. Ibnu Abi ‘Ashim, dishahihkan oleh Al-Albani)

Sebagamana hal ini telah dilakukan oleh penghulu umat ini dari kalangan para sahabat dan tabi’ain serta para imam-imam yang masyhur.

  1. Memilih waktu yang tepat, menggunakan cara yang baik, sopan, dalam beramar ma’ruf nahi munkar dan beradab, lemah-lembut dan penuh hikmah. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi Musa ‘Alihis salam dan saudaranya: ‘’Pergilah kamu berdua kepada Firaun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”. (QS.Taha: 43-44)
  2. Senantiasa mengingat kedudukannya ditengah-tengah masyarakat.
  3. Hindari sikap-sikap membanggakan diri didepan khalayak umum, seperti ucapan: aku telah menasehatinya, dan aku katakan demikian dan demikian. Yang demikian termasuk perbuatan riya’ yang akan mengurangi keikhlasan.

b. Memberikan dukungan dalam kebaikan.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa membaiat seorang imam, ia menjabat tangannya dan menyerahkan keikhlasan hatinya (untuk setia), maka hendaklah ia berikan hak ketaatan padanya semampu mungkin. Jika ada pihak lain yang ingin mengambil kekuasaannya hendaklah ia penggal lehernya.” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Al- Albani)

c. Mendengar dan taat.

Taat dan patuh kepada pemimpin adalah kewajiban terbesar yang harus ditunaikan rakyat, karena hal ini merupakan sebaik-baik ketaatan. Karena ketaatan merupakan modal utama terbentuknya suatu organisasi dan ketatanegaraan sehingga tercapai tujuan kemaslahatan agama maupun dunia. Dalam sistem ketatanegaraan mengharuskan adanya perintah dan larangan. Sebagaimana hal ini telah diketahui bahwa perintah dan larangan pemimpin sekali-kali tidak akan terwujud kecuali dengan ketaatan dan kepatuhan dari rakyatnya.

Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala yang artinya Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri(pemimpin) di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. . .”. (QS.An-Nisa : 59)

Ayat diatas merupakan perintah bagi orang-orang beriman untuk taat kepada Ulil Amri (pemimpin negara). Bahkan, perintah tersebut dikaitkan dengan ketaatan kepada Allah dan RasulNya yang menunjukkan akan pentingnya perkara ini.

Pemimpin zhalim, siapakah yang salah?

Allah Ta’ala adalah Dzat Yang Maha Adil. Dia akan memberikan kepada orang-orang yang beriman seorang pemimin yang arif dan bijaksana. Sebaliknya Dia akan menjadikan bagi rakyat yang durhaka seorang pemimpin yang zhalim. Maka jika terjadi pada suatu masyarakat seorang pemimpin yang zhalim, sesungguhnya kedhaliman tersebut dimulai dari rakyatnya. Meskipun demikian apabila rakyat dipimpin oleh seorang penguasa yang melakukan kemaksiatan dan penyelisihan (terhadap syariat) yang tidak mengakibatkan dia kufur dan keluar dari Islam, maka tetap wajib bagi rakyat untuk menasehati dengan cara yang sesuai dengan syariat. Bukan dengan ucapan yang kasar, kemudian dilontarkan di tempat-tempat umum. Apalagi menyebarkan dan membuka aib pemerintah yang semua ini dapat menimbulkan fitnah yang lebih besar lagi dari permasalahan yang mereka tuntut. Seorang yang menasehati pemimpin, apabila sudah melaksanakan cara ini maka dia telah berlepas diri (dari dosa) dan pertanggungjawaban.

Maraji: Al-Adilah As-syar’iyah fi bayaani haqi ar-raa’i wa ar-ra’iyyah oleh Muhammad bin Abdullah bin Sabil.

Oleh: Martin

Mahasiswa Fakultas Ahwal Syakhshiyyah

 

 

 

 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *