SHALAT BERJAMA’AH

 shalat-berjamaah

Shalat berjama`ah hukumnya wajib atas setiap muslim laki-laki, baik ia dalam keadaan menetap maupun dalam perjalanan, dalam keadaan aman maupun dalam keadaan genting. Berdasarkan dalil-dalil dari Al Qur`an dan Hadits dan pendapat Ahlu Ilmi, dan disini kami akan memaparkan sebagiannya saja.

Diantara dalil-dalil tersebut adalah :

  1. Firman Allah subahanahu wata`ala yang memerintahkan Nabi-Nya untuk mendirikan shalat

berjama`ah di dalam keadaan yang genting :

“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan seraka’at), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bershalat, lalu bershalatlah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata.” (QS. 4:102)

Setiap perintah yang ditujukan kepada Nabi merupakan perintah yang berlaku sekaligus kepada umatnya selama tidak ada dalil yang menunjukan atas kekhususannya kepada Nabi saja. Ayat Al Qur`anul Karim ini menerangkan

kepada kita akan hukum wajibnya shalat berjama`ah, dimana tidak ada rukhshah (keringanan) kepada kaum muslimin untuk meninggalkannya di dalam keadaan khauf (yang mengkhawatirkan) sekali pun. Seandainya shalat berjama`ah ini hukumnya tidak wajib,sudah tentu lebih utama untuk ditinggalkan dengan adanya alasan (`udzur) khauf itu sendiri.

Shalat berjama`ah pada kondisi khauf ini didalam implementasinya, banyak sekali hal-hal yang tadinya, termasuk dalam katagori wajib yang tidak diberlakukankan. Hal ini juga mempertegas dalil mengenai wajibnya shalatberjama`ah.

Didalam shalat khauf ini diperkenankan untuk melakukan banyak gerakan dan berpindah-pindah serta diperbolehkan membawa senjata sambil memonitor gerakan musuh bahkan diperkenankan untuk menselisihkan arah qiblat. Semua ini diperkenankan tidak lain bertujuan untuk menciptakan mekanisme yang sedemikian rupa sehingga memungkinkan kaum muslimin tetap dapat merealisasikan shalat berjama`ah pada keadaan tersebut dan hal ini menjadi argumentasi yang paling kuat atas hukum wajibnya shalat berjama`ah.

  1. Firman Allah SWT :

“ Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’.” (QS. 2:43)

Ayat Al Quranul Karim ini merupakan nash yang menunjukan hukum wajibnya shalat berjama`ah, dan sekaligus sebagai perintah untuk ikut mengambil bagian bersama dengan para jama`ah shalat lain di dalam mendirikan shalat berjama`ah. Seandainya yang dimaksud dalam ayat iqomatuha adalah mendirikan shalat saja maka pandangan seperti ini benar-benar tidak tepat jika dikaitkan dengan lafadz akhir ayat tersebut yang berbunyi: “Warka`uu ma`ar raaki`iin”. Karenanya Allah memerintahkan mendirikan shalat berjama`ah diawal ayat tersebut.

  1. Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda :

((Demi Allah yang jiwaku ada ditangan-Nya, rasanya aku ingin menyuruh

mengumpulkan kayu bakar, dan kuperintahkan mengumandangkan adzan untuk mendirikan shalat, kemudian aku instruksikan seseorang untuk mengimami jama`ah shalat. Selanjutnya aku berbalik menuju orang-orang yang tidak shalat berjama`ah, lalu aku bakar mereka bersama rumah-rumah mereka.)) [Muttafaqun `Alaih.]

Dari Abu Hurairah Radhiallahu `anhu berkata:ada seorang(laki-laki) yang buta datang kepada Rasulullah lalu bertanya : ((“Ya Rasulullah, aku ini buta. Tidak ada orang yang akan menuntunku pergi ke masjid (untuk shalat berjama`ah). Lalu dia memohon kepada Rasulullah agar membolehkannya shalat di rumahnya. Awalnya Rasulullah membolehkannya, tetapi setelah orang itu pergi belum begitu jauh dia dipanggil kembali oleh Rasulullah shalallahu `alaihi wasallam,seraya bertanya : “Apakah adzan dan shalat terdengar sampai kerumahmu ?”. Jawab orang buta itu : “Ya Terdengar !Lantas Rasulullah berkata : “Kalau begitu, penuhilah panggilan adzan tersebut !”.))[ Muttafaqun `Alaih.].

 

Oleh: Faqih Hamzah

Disadur dari kutaib”Sholat Al-Jama’ah Fadluha-Fawaiduha-Hukmuha, Abdul Aziz Abdukkah Bin Safar Al-Ghomidi.]


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *