SEMPITNYA BUMI, ADAKAH OBATNYA ?

shutterstock_114129862-340x340

Saudaraku, ketika seseorang menjalani kehidupan di dunia ini, maka ia tidak akan bisa terlepas dari segala macam bentuk hiruk-pikuk kegiatan yang harus ia hadapi. Mulai dari tanggung jawab yang diberikan kepadanya, amanah yang ia pikul, kewajiban yang harus ia tunaikan, ataupun hal lainnya yang terkadang menjadikan dadanya terasa sempit dan hidup terasa berat.

Sebagai seorang manusia yang memiliki naluri yang sehat, tentu merasa ingin memiliki kebahagiaan dalam menjalani hidup,a seperti dilapangkan dadanya oleh sang pencipta dan dijauhkan dari segala hal yang bisa mempersempit hatinya. Oleh karena itu, di antara sekian banyak kenikmatan yang Allah karuniakan kepada Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam adalah nikmat dilapangkan dadanya. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Bukankah kami telah melapangkan dadamu (Muhammad)?. (Qs. Asy-Syarh:1 )

Di dalam Al-quran, dijelaskan bahwa di antara sebab terbesar seseorang dilapangkan dadanya oleh Allah adalah dijadikannya ia sebagai seorang muslim. Allah Azza Wajalla berfirman yang artinya, “Maka apakah orang-orang yang dibukakan hatinya oleh Allah untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang hatinya membatu)?” (Qs. Az-Zumar:22)

Setelah kita mengetahui bahwa Islam merupakan sebab terbesar dilapangkannya dada seseorang dan diberikannya hidayah dari Allah Ta’ala, maka sudah sepantasnya seorang muslim untuk menjaga dirinya dari segala hal yang mampu menghilangkan pokok keislamannya tersebut. Menjaga diri dari segala macam bentuk praktek kesyirikan kepada sang pencipta, baik itu syirik dalam  rububiyyah, uluhiyyah, maupun asma dan sifat. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan syirik, mereka ituklah yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk.” (Qs. Al-An’am:82)petunjuk), Dia akan membukakan dadanya untuk Islamatu)?”

Lain halnya dengan orang kafir yang selalu melakukan kesyirikan. Hakikat kehidupan mereka diumpamakan seperti orang yang memiliki dada yang sempit, sehingga berujung pada kesengsaraan hidup. Allah berfirman yang artinya, “Barang siapa mempersekutukan Allah, maka seakan akan ia jatuh dari langit, lalu di sambar oleh burung, atau dihempas angin ke tempat yang jauh.” (Qs. Al-Hajj:31)

Saudaraku, poin selanjutnya yang menjelaskan tentang sebab lapangnya dada seseorang adalah membiasakan diri dengan senantiasa berpegang teguh terhadap Al-qur’an maupun Sunnah yang sesuai dengan petunjuk Nabi Muhammad. Allah Azza Wajalla berfirman yang artinya, “Barang siapa yang mengikuti petunjukku (Al-qur’an maupun As-sunnah) Maka ia tidak akan sesat maupun sengsara” (Qs. Taha:123)

Disebutkan didalam kitab Ghoitsul Aqidah As-salaafiyah Syarh Mandzumah Al-haaiyyah karya Syaikh Kholid bin Ibrohim, bahwasanya dengan berpegang teguh terhadap Al-quran maupun As-sunnah, merupakan sebab terbesar seseorang mendapatkan kemenangan dan keberhasilan di dunia maupun di akherat. Di dunia ia akan merasakan lapangnya dada dan damainya hati. Hal ini dikarenakan ruh yang ia miliki telah terisi dengan nutrisi wahyu dari sang pencipta. Kelak ketika di akherat ia akan memperoleh sesuatu yang tak ada sedikitpun yang mampu menandinginya, yaitu dimasukan kedalam surga sang pencipta. Tidak hanya di situ saja, bahkan di atas itu semua ia akan diberikan kenikmatan melihat agungnya wajah Allah Azza Wajalla.

Di antara penyebab lain lapangnya dada seseorang ialah dengan senantiasa memperbanyak zikir kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman yang artinya,“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (Qs. Ar-Ra’d:28)

Adapun orang-orang yang berpaling dari mengingat Allah dan tidak mau mengikuti petunjuk-Nya, maka kepedihan serta sempitnya dada yang akan  diperoleh. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (Taha:124)

          Maka dari sini, kita diingatkan bahwa dengan memperbanyak zikir hati akan terasa lapang dan lebih bermakna. Imam Ibnul Qoyyim di dalam kitab Al-Waabilus Soyyib menyebutkan bahwa berzikir memiliki lebih dari seratus faedah. Dan kemudian beliau menukilkan perkataan gurunya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah yang berbunyi, “Keter eratan zikir terhadap hati bagaikan keter eratan air terhadap ikan. Maka apa yang akan terjadi bila ikan di pisahkan dari air?

Mudah-mudahan pemaparan yang ringkas ini dapat memberikan manfaat bagi yang menulis dan para pembaca sekalian. Semoga salawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita yang mulia Muhammad shalallahu ‘alaihiwasallam, para keluarganya, sahabat-sahabatnya, dan orang-orang yang senatiasa mengikuti jejak mereka dengan baik sampai datangnya hari pembalasan nanti. Amiin

Wallahu A’lam bissowaab.

Maraji’ : Ghoitsul Aqidah As-salaafiyah Syarh Mandzumah,Al-haaiyyah karya Syaikh Kholid bin Ibrohim Hal 6, Al-Waabilus Soyyib karya Al-Imam Ibnul Qoyyim Hal 56.

Oleh : Ahmad haikal harits

Alumni Mahasiswa fakultas Ahwal Syakhshiah


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *