SEJENAK MERENUNGI HAKIKAT SEBUAH MUSIBAH

musibah2

Apabila kita menyelami lebih dalam tentang hakikat sebuah musibah ataupun cobaan, maka kita akan mendapatinya tidak hanya memiliki paras yang buruk saja, akan tetapi ia terkadang datang dalam wujud yang membuat orang terbuai karenanya. Allah berfirman yang artinya: “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan di kembalikan hanya kepada kami”. [QS. Al-Anbiyaa’:35]

Tentang ayat ini Ibnu Abbas berkata: “kami akan menguji kalian dengan kesulitan dan kesenangan, kesehatan dan penyakit, kekayaan dan kefakiran, halal dan haram, ketaatan dan maksiat, petunjuk dan kesesatan”. [tafsir Ibnu jarir at-Thabari]

Maka tidak mengherankan apabila para salaf terdahulu mengabaikan sebagian nikmat duniawi karena takut merusak nikmat ukhrawi yang akan mereka peroleh kelak.

SIKAP SEORANG MUSLIM MANAKALA DITIMPA MUSIBAH

Seorang muslim sejati akan selalu mengembalikan setiap perkaranya kepada al-Qur’an dan sunnah termasuk ketika musibah datang menyapanya. Berikut keterangan dari beberapa sunnah Nabi tentang hal ini:

  1. Bersabar

Rasulullah bersabda yang artinya: “sungguh menakjubkan urusan orang mukmin, sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan, dan hal itu tidak terjadi kecuali bagi orang mukmin. Jika ia mendapat kegembiraan, maka dia bersyukur dan itu merupakan kebaikan baginya, dan jika mendapat kesusahan, maka dia bersabar dan itu merupakan kebaikan baginya”. [HR. Muslim]

  1. Ridha

Rasulullah shalallahu `alaihi wasallam bersabda yang artinya: “sesungguhnya besar pahala itu tergantung besarnya ujian. Dan sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka. Barangsiapa yang ridha, maka baginya keridhaan, dan barangsiapa yang murka, maka baginya kemurkaan”. [HR. Tirmidzi dan Ibnu majah]

  1. Istirjaa’ (mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un) dan berdo’a

Rasulullah shalallahu `alaihi wasallam bersabda yang artinya: “tidaklah seorang hamba ditimpa suatu musibah lalu mengucapkan inna lillahi wainna ilaihi raji’un, Allahummakjurni fi mushibati wa akhlif li khairan minha (sesungguhnya kami milik Allah dan akan kembali kepadanya. Ya Allah, berilah aku ganjaran dalam musibahku ini dan gantikanlah dengan yang lebih baik) melainkan Allah akan memberikan pahala dalam musibahnya itu dan menggantikan untuknya dengan yang lebih baik”. [HR. Muslim]

HAPPY ENDING HANYALAH MILIK ORANG YANG BERTAKWA

Sebuah terjemah hadits Rasulullah penulis suguhkan sebagai hidangan penutup untuk para pembaca yang budiman:

” tidaklah seorang muslim di timpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, kegundahan, hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan sebagian dari kesalahan- kesalahannya”. [HR. Bukhari]

Akhir kata, semoga suatu yang ringkas ini bisa menghibur setiap pembaca yang di timpa musibah. Amiin.

Sebagian besar dari tulisan ini di sarikan secara bebas dari buku “Hikmah Di Balik Musibah dan Ruqyah Syar’iyyah” karya ust. Yazid bin Abdul Qadir jawas hafizhahullah

Oleh: Abul ‘Abbas as-Sasakiy

 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *