SANG PENAKLUK GUNUNG

bromo

Hal terindah bagi si pendaki gunung ialah ketika ia berhasil mencapai puncak mas gunung. Berdiri sambil menunggu terbitnya lampu ajaib yang menyinari om bumi. Saat itu rintangan, tantangan, capek, sirna bagai tak pernah hinggap. Dan hal terhebat bagi seorang ambisius ialah ketika ia sukses menghasilkan segunung prestasi. Begitu seterusnya setiap individu merasa puas dengan hasil segunung.

Tapi, semua itu tidak mungkin didapat dengan mudah, ia membutuhkan kerja yang super keras, tenaga dan biaya yang super banyak. Walau demikian tidak sedikit orang yang mau menghadapinya, demi mendapatkan segunung keberhasilan.

Hal ini tidak dilarang di dalam Islam, bekerja keras, punya cita-cita, semuanya dibolekan dalam Islam, bahkan dianjurkan, selama tidak melanggar ketentuan yang berlaku dalam Islam. Islam sangat membenci peminta-minta, pemalas, tidak punya tujuan yang jelas, mudah menyerah.

Prinsip seorang muslim ialah, firman Allah Ta’ala yang artinya: “Maka apabila engkau telah selasai (dari satu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain).” (QS. Al Insyiroh: 7). Tiada waktu luang untuk berdiam diri dan bermalas-malasan bagi orang Islam, hidup mereka hanya dipenuhi ibadah dan usaha.

Namun, jika ia melalaikan kewajibannya, lupa sholat, tidak mau belajar agama, lupa dengan hak keluarga dan tetangga, anak yatim, dan orang miskin semua itu akan jadi malapetaka baginya.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Wahai orang beriman, janganlah harta dan anak-anakmu melalaikanmu dari mengingat Allah, karena barang siapa yang melakukan demikian maka ia termasuk dalam golongan orang yang merugi. Dan infaqkanlah sebagian dari harta yang kami berikan kepadamu, sebelum kematian datang kepada salah seorang kamu…” (QS. Al Munafiqun: 9-10)

Bahkan dalam surah Al Ma’uun, surah yang kita hafal, Allah mensifati orang-orang yang menghardik anak yatim, tidak memotivasi menolong orang miskin, melalaikan shalat, berbuta riya dan tidak mau menolong orang dengan sifat pendusta terhadap hari akhirat, hari pembalasan. (Tafsir Al Qurthubi)

Setelah kita mengingat kembali kesempurnaan Islam, yang mengatur semua aspek, baik yang bersifat duniawi maupun ukhrawi, maka diantara bukti kesempurnaan Islam, bukti kepedulian sosial yang tinggi dalam Islam, bukti bahwa Islam rahmat bagi seluruh alam, bukti kasih sayang Allah pada kita, bukti kemudahan Islam ialah:

kita diperintahkan menjenguk orang yang sakit, jangan biarkan seorang muslim kesepian dalam sakitnya, hibur, dan sabarkan dirinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersadda: “Ada lima hak seorang muslim atas muslim lainnya: menjawab ucapan salamnya, menjenguknya ketika sakit, mengantarkan jenazahnya, memenuhi undangannya, mengucapkan yarhamukallah jika ia bersin.” (HR. Bukhari 1240)

Menjenguk saudara kita yang sakit, menghibur mereka, mendoakan dan membantu mereka hukumnya sunnah muakkad (majmu’ Imam An nawawi 5/130), baik orang yang kita kenal maupun yang tidak kita kenal, bahkan Imam An Nawawi menyebutkan: “menjenguk orang sakit tidak membutuhkan biaya yang besar, tenaga ataupun waktu yang banyak” seperti pebisnis yang berhasil dengan segunung prestasi.

Namun, walaupun demikian, Allah akan membalasnya dengan pahala yang lebih besar dari yang didapat si pebisnis. Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang menjenguk orang sakit, atau saudara seiman karena Allah (bukan tujuan dunia), malaikat akan mendoakan kebaikan dalam hidupnya, dan dinaikkan kedudukannya di surga.” (HR. Tirmizdi, Hasan dan lihat: Tuhfatul Ahwazdi). Maka sudah sepantasnya bagi orang yang mengaku muslim yang smart, yang punya target besar untuk menyisihkan jadwal padatnya untuk menjenguk saudara seimannya yang sakit, agar ia mendapatkan hasil istimewa, melebihi nilai segunung prestasi.

Ketika ada saudara kita yang dipanggil Allah Ta’ala, maka wajib bagi setiap muslim untuk memandikan, mengkafani, mensholatkan, dan menguburkannya. Jika disuatu daerah tidak ada yang melaksanakan hal ini bagi orang muslim yang wafat di daerah tersebut, maka semua penduduk tersebut berdosa. Tapi, jika ada diantara mereka yang melaksanakanya, maka gugurlah kewajiban bagi yang lainnya. (lihat Mausu’ah fiqhiyah: Hasan Bin Audah Al A’waisyah dan Al majmu’: An Nawawi)

Dan ini tidak berarti kita tidak menghadiri jenazahnya, kita tetap disyariatkan untuk menghadiri jenazah saudara kita yang wafat. Siapapun dia, baik teman atau bukan, kenal atau tidak, kita tetap diperintahkan untuk menyisihkan waktu untuk melihat si mayit, ikut mensholatkan dan menguburkannya.

Ini semua tidak membutuhkan waktu, tenaga, biaya yang banyak seperti mereka yang memperoleh segunung keberhasilan. Akan tetapi, Allah Ta’ala akan membalasnya dengan pahala sebesar dua gunung yang sangat besar. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa yang menghadiri jenazah sampai ia ikut mensholatkannya, maka ia dapat pahala sebesar qirath. Dan barang siapa yang menghadirinya sampai mayat dikuburkan maka ia mendapat dua qirath. Kemudian para sahabat bertanya: apa yang dimaksud dengan dua qirath ya Rasulullah? Beliau menjawab: yaitu seperti dua gunung yang besar.” (HR. Muslim: 945). Dalam riwayat lain beliau jelaskan : “lebih besar dari gunung uhud.” (HR. An Nasa’I : 1887, Sahih).

Tapi, yang sangat kita sesalkan, kita umat Islam kurang menghayati hadis yang sering kita dengar ini. Berapa banyak orang-orang di sekitar kita dipanggil oleh Allah, namun kita tidak sama sekali melihatnya dengan berbagai macam alasan, sibuklah dan lain sebagainya. Kita lebih yakin dengan cita-cita kita di hari itu, walau membutuhkan waktu dan biaya yang sangat banyak, untuk mencapai segunung kesuksesan yang belum pasti diraih, dari pada menaklukkan dua gunung besar sekaligus tanpa tenaga, waktu, atau biaya yang banyak.

Inilah kondisi umat Islam saat ini, kondisi yang menunjukkan mereka kurang menghayati ajaran agamanya. Mereka tidak lagi peduli dengan lingkungan sekitarnya, mereka tidak akan menjenguk orang sakit kecuali orang yang sangat ia kenal, karena merasa tidak enak kalau tidak menjenguknya. Mereka tidak lagi sempat untuk melihat saudaranya yang wafat, kecuali orang itu kelurga dekatnya. Maka tidak heran jika kita melihat ada seorang muslim yang wafat di tengah-tengah masyarakat Islam, kita melihat jama’ah yang mensholatkan dan mengantarnya ke kuburan tak lebih hanya beberapa orang saja. Dan yang paling menyedihkann, penyakit ini sudah menjangkiti orang-orang yang dianggap berilmu.

Marilah kita merenung sejenak, bertanya pada hati kita yang paling dalam: KENAPA SAYA TIDAK PERNAH PEDULI DENGAN MASYARAKAT SEKITAR?

Oleh: Ghufron

Mahasiswa Fakultas Ahwal Syakhshiyyah


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *