SAHABAT SEJATI

sahabat (1)

Manusia adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah Ta’ala dengan sesempurna bentuk. Allah Ta’ala berfirman yang artinya : “ Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (QS. At-Tin: 4).
Di dalam kehidupan sehari-hari manusia membutuhkan manusia yang lain untuk melangsungkan kehidupannya di muka bumi ini, dengan kata lain manusia adalah makhluk yang bersifat sosial membutuhkan satu dengan yang lainnya.

Di dalam kehidupan bermasyarakat seseorang sudah pasti memiliki teman, baik dalam bermain, berkerja, maupun yang lainnya.    Sehingga tidak dapat dipungkiri lagi bahwa teman merupakan sebuah elemen penting yang sangat berpengaruh dalam kehidupan seseorang.

Islam sebagai agama yang sempurna telah mengatur adab dan batasan-batasan di dalam pergaulan. Sebab betapa besar dampak yang akan menimpa seseorang jikalau ia berteman dengan orang yang salah, begitu pula sebaliknya betapa banyak manfaat yang dapat dipetik jikalau seseorang berteman dengan orang yang shalih.

Sungguh kita melihat kondisi di lapangan betapa banyak orang yang terjerumus dalam kubangan dosa dan maksiat hanya disebabkan salah memilih teman bergaul. Sebaliknya betapa banyak orang yang mendapatkan hidayah dari Allah Ta’ala disebabkan ia berteman dengan orang-orang yang shalih. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “ Perumpamaan teman duduk yang baik dengan teman duduk yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Adapun penjual minyak wangi tidak akan melewatkanmu , baik engkau akan membelinya maupun engkau tidak membelinya, engkau pasti akan mendapatkan aroma yang harum , sementara pandai besi ia akan membakar bajumu atau engkau akan mendapatkan bau yang tidak enak.” (Muttafaq ‘alaih).
Berdasarkan hadits diatas dapat diambil kesimpulan bahwa bergaul dengan teman yang shalih, kita akan memiliki dua kemungkinan yang kedua-duanya itu baik, yaitu: kita akan menjadi orang yang baik atau kita akan memperoleh kebaikan yang dilakukan teman shalih tersebut. Adapun jikalau kita berteman dengan teman yang buruk,kita akan memiliki dua kemungkinan juga. Namun dua kemungkinan tersebut kedua-duanya buruk, yaitu: kita akan menjadi orang yang buruk atau kita akan memperoleh keburukan yang dilakukan teman tersebut.

Pilih-pilih teman dalam bergaul

Seseorang sangat menginginkan memiliki banyak teman bergaul ,sehingga ia tidak merasa kesunyian. Dan kita ketahui bersama tidak seluruh manusia dapat kita jadikan teman bergaul, karena manusia ada yang baik dan ada yang buruk. Maka dari itu pilihlah teman yang baik dalam bergaul , karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan barometer seseorang itu baik atau buruk dalam agamanya dinilai dari teman bergaulnya. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sangat menganjurkan kepada kita agar memilah dan memilih dengan siapa kita bergaul. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “ Seseorang dinilai berdasarkan agama temannya, maka hendaknya seseorang diantara kamu melihat dengan siapa dia bergaul.” (HR. Ahmad, Abu Daud, At- Tirmidzi, dan Hakim dengan sanad yang saling menguatkan, dan dihasankan oleh Al-Albani).
Seorang penyair arab bersenandung yang artinya:
“ Janganlah tanya tentang seseorang, tapi tanyalah tentang temannya
sebab seseorang akan mengikuti kelakuan temannya
jikalau engkau berada di sebuah masyarakat, maka temanilah orang yang terbaik diantara mereka.
Dan janganlah berteman dengan orang yang hina niscaya engkau akan menjadi hina bersama orang-orang yang hina.”

Sunnguh indah perkataan Imam Al-Barbahari rahimahullah dalam kitabnya Syarhus sunnah yang menyebutkan: “ waspadalah-waspadalah!! Terhadap orang yang sezaman denganmu, lihatlah siapa teman dudukmu, dari siapa kamu mendengarkan, dan siapa teman bergaulmu. Karena sesungguhnya manusia berada di dalam kesesatan kecuali orang-orang yang dijaga oleh Allah Ta’ala.

Jangan menyesal wahai sobat

Teman sangat berpengaruh dalam kehidupan kita, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak. Seorang teman dapat menjadikan kita baik dan ada pula teman yang dapat menjadikan kita buruk. Maka dari itu jangan sampai kita menyesal di hari akhirat kelak dikarenakan salah dalam memilih teman bergaul. Kita menjadikan teman yang buruk sebagai sahabat sehingga dengan bujuk rayu dan pengaruhnya kita tergelincir jatuh kedalam lembah kenistaan dan kemaksiatan kepada Sang Pencipta alam semesta ini. Marilah kita renungkan firman Allah Ta’ala yang artinya : “ Dan ingatlah hari ketika orang-orang zhalimmenggigit dua tangannya seraya berkata: aduhai kiranya aku dulu mengambil jalan bersama-sama Rasul, kecelakaan besar bagiku! Kiranya dulu aku tidak mengambil si fulan sebagai teman akrabku. Sesungguhnya ia telah menyesatkan aku dari Al-Quran sesudah Al-Quran itu datang kepadaku. Dan setan itu selalu memalingkan manusia dari kebenaran dan menyeru kepada kebatilan.” (Qs. Al-Furqan: 27-29).
Lihatlah bagaimana Allah Ta’ala menggambarkan seseorang yang telah menjadikan orang-orang fasik dan pelaku maksiat sebagai teman-temannya di dunia, sehingga menyesatkan mereka dari Jalan yang Allah ridhai, dan di akhirat menyebabkan penyesalan yang sudah tidak berguna lagi baginya, karena di akhirat adalah hari hisab bukan amal sedangkan di dunia adalah hari amal tanpa hisab.

Berteman dengan orang yang shalih

Orang-orang yang shalih yang bermanhaj dan beraqidah Ahlus sunnah wal Jama’ah sangat layak kita jadikan sebagai sahabat bukan untuk kita jauhi dan kita benci, karena merekalah sebaik-baik teman dan sebaik-baik persahabatan. Tatkala kita melakukan kesalahan merekalah yang senantiasa menasehati kita untuk segera kembali kejalan-Nya. Adapun persahabatan selain itu adalah persahabatan yang semu. Maha benar AllahTa’ala yang telah menyebutkan dalam kitab-Nya yang artinya: “ Teman-teman akrab pada hari itu sebagian menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (QS.Az- Zukhruf: 67).

Saya akan menutup tulisan saya ini dengan apa yang dinasehatkan oleh seorang bijak tentang hakikat seorang teman:

Saudaraku!, sahabat sejatimu adalah yang selalu mendorongmu untuk berbuat kebaikan dan mencegahmu dari berbuat kejelekan, walaupun engkau jauh dan engkau tidak bergaul dengannya dan musuh sejatimu adalah orang yang mendorongmu untuk berbuat kejelekan dan tidak mencegahmu dari berbuat dosa, walaupun ia dekat denganmu dan engkau selalu bergaul dengannya.

Semoga Allah Ta’ala selalu memberi taufiq kepada kita dan menyelamatkan kita dari kejelekan lingkungan dan pergaulan serta menganugrahkan kepada kita lingkungan dan pergaulan yang mendorong kita untuk selalu taat kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.
amiin Ya Rabbal ‘Alamiin
Allahul muaffiq ila aqwamith thariq

Oleh: Khaidir

Mahasiswa Fakultas Ahwal Syakhshiah


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *