Rekayasa Riba

Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan sahabatnya.

Perilaku jujur dalam perniagaan adalah salah satu indikasi nyata dari akhlak mulia dan iman seorang pedagang muslim. Anda selalu transparan, sesuai dengan kenyataan, jauh dari berbagai bentuk manipulasi dan pemalsuan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِى بَيْعِهِمَا، وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا) متفق عليه

“Bila kedua orang yang berjual-beli berlaku jujur dan transparan, maka penjualan mereka berdua diberkahi. Sebaliknya bila mereka berlaku dusta dan saling menutup-nutupi, niscaya dihapuskan keberkahan penjualannya.” Muttafaqun ‘alaih.

Orang yang beriman sadar bahwa rekayasa dan manipulasi tidaklah dapat menyegerakan rejeki atau melapangkan sesuatu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sempitkan:

(لاَ تَرْتَكِبُوْا مَا ارْتَكَبَتِ الْيَهُودُ، فَتَسْتَحِلُّوا مَحَارِمَ الله بِأَدْنَى الْحِيَلِ) رواه ابن بطة

“Janganlah engkau meniru perilaku orang-orang Yahudi, sehingga engkau melanggar larangan-larangan Allah hanya dengan sedikit rekayasa.” Riwayat Ibnu Batthah.

Piutang Berkedok Penjualan

Banyak dari rentenir bertekad untuk menjadikan setiap rupiah yang keluar dari kantongnya sebagai sumber keuntungan. Ia tidak kuasa untuk mengakui bahwa dirinya adalah makhluk sosial yang dituntut untuk merealisasikan nilai-nilai sosial dalam kehiduan Anda.

Di negeri-negeri Islam, terlebih–lebih yang menerapkan hukum Islam, berbagai praktek riba pastilah dimusuhi. Fakta ini mendorong sebagian orang yang silau dengan keuntungan sesaat untuk membuat berbagai rekayasa demi menjaga nama baik, namun tetap dapat mengeruk keuntungan dengan segala cara, termasuk dengan membuka praktik riba.

Di antara rekayasa klasik yang mereka cetuskan ialah dengan mengemas akad hutang piutang sebagai akad perniagaan. Sekilas mereka berjual-beli atau sewa-menyewa, namun sejatinya akad tersebut adalah hutang-piutang yang sarat dengan riba.

Kadang kala, seorang rentenir menjual suatu barang dengan pembayaran terhutang kepada orang lain. Akan tetapi, seusai barang diserahterimakan, segera ia membelinya dengan pembayaran kontan, dan tentunya dengan harga yang lebih murah. Inilah model jual beli dengan dua harga yang diharamkan dalam syari’at.

Nabi n menjuluki rekayasa semacam ini dengan nama jual beli­ ‘inah, yang ternyata menjadi salah satu biang runtuhnya kejayaan umat Islam.

(لَئِنْ أَنْتُمُ اتَّبَعْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَتَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ لِيُلْزِمَنَّكُمُ اللَّهُ مَذَلَّةً فِى أَعْنَاقِكُمْ ثُمَّ لاَ تُنْزَعُ مِنْكُمْ حَتَّى تَرْجِعُونَ إِلَى مَا كُنْتُمْ عَلَيْهِ وَتَتُوبُونَ إِلَى اللَّهِ). رواه أحمد وأبو داود

“Bila kalian telah (sibuk dengan) membuntuti ekor-ekor sapi, berjual beli dengan cara ‘innah dan meninggalkan jihad, niscaya Allah akan melekatkan kehinaan ditengkuk- tengkuk kalian. Kehinaan tidak akan dicabut dari diri kalian hingga kalian kembali kepada keadaan kalian semula dan bertaubat kepada Allah.” Riwayat Ahmad, dan Abu Dawud.

Pada suatu hari istri sahabat Zaid bin Arqam radiyallahu ‘anhu becerita kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Sesungguhnya aku telah menjual seorang budak lelaki kepada suamiku Zaid bin Arqam radiyallahu ‘anhu seharga 800 dirham dengan pembayaran terhutang. Selanjutnya selang beberapa waktu aku membeli kembali budak itu seharga 600 dirham dengan pembayaran tunai. Mendengar kisah ini, spontan ‘Aisyah berkata, “Betapa buruknya penjualan dan pembelianmu. Sampaikan kepada Zaid, bila ia tidak segera bertaubat maka pahala jihadnya bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan gugur.” Mendengar teguran keras ini, Istri Zaid bin Arqam buru-buru bertanya kembali: Bagaimana pendapatmu bila aku hanya memungut modalku saja darinya? ‘Aisyah menjawabnya dengan membaca firman Allah Jalla wa ‘Ala:

فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ

“Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan).” Al Baqarah 275 (Kisah ini diriwayatkan oleh Ad Daraquthni dan Al Baihaqi)

Sahabat Anas bin Malik ketika ditanya tentang jual beli ‘inah semacam ini, beliau dengan tegas menjawab,

إِنَّ اللهَ لاَ يُخْدَعُ، هَذَا مَا حَرَّمَ الله وَرَسُولُهُ.

“Sesungguhnya Allah tidak mungkin diperdaya. Ini adalah perniagaan yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya.” (Diriwayatkan oleh Muhammad bin Abdullah Al Kufi dalam kitabnya Al Buyu’, sebagaimana dinukilkan oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitab Al Fatawa Al Kubra 6/44.

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: “Biasanya orang yang rela bertransaksi ‘inah adalah orang yang sedang terjepit. Sedangkan orang yang dalam kelapangan, tidak terpaksa atau tidak membutuhkan, maka mustahil ia rela menanggung beban sebesar 1.500 (dirham) demi mendapatkan barang senilai 1.000 (dirham)?” (I’ilamul Muwaqi’in oleh Ibnul Qayyim 3/169)

Pada kesempatan lain, beliau berkata: “Sesungguhnya Allah mengharamkan riba, sedangkan jual-beli ‘inah adalah sarana terjadinya praktik riba, bahkan sarana riba terdekat. Tidak diragukan lagi keharaman setiap sarana perbuatan haram.” (Hasyiyah Ibnul Qayyim ‘Ala Sunan Abi Dawud 9/241).

Muhammad bin Hasan Al Hanafi berkata: “Menurutku, jual-beli semacam ini adalah kesalahan besar bak gunung, tercela dan hasil prakarsa para rentenir. Dan sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mencela para pelakunya.” (Fathul Qadir Ibnul Humam 7/213)

Berdasarkan berbagai dalil yang telah disebutkan di atas, ulama’ dalam ketiga mazhab, yaitu Hanafi, Maliki, dan Hambali dengan tegas mengharamkan jual beli ‘inah semacam ini. (Baca Al Mughni Oleh Ibnu Qudamah 6/260 & Fathul Qadir oleh Ibnul Humam 7/211-213)

Adapun Imam As Syafi’i dan juga Ibnu Hazm berpendapat bahwa jual beli semacam ini tidak masalah, berdasarkan berbagai dalil-dalil umum yang menghalalkan jual-beli. (Al Um oleh Imam As Syafi’i 3/38 , Al Hawi Al Kabir oleh Al Mawardi 5/637-643 & Al Muhalla oleh Ibnu Hazem 9/47)

Diantara dalil yang mereka kemukakan ialah firman Allah Ta’ala:

(وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ) البقرة 275

“Dan Allah menghalalkan jual beli.” (Al Baqarah: 275)

Namun, tentu saja dalil-dalil yang secara khusus berkaitan dengan permasalahan jual-beli ‘inah lebih kuat dibanding dalil-dalil yang bersifat umum. Sampai-sampai Imam Abu Ishaq Al Isfiraaini dan Syeikh Abu Muhammad Al Juwaini (Ayah Imamul Haramain Al Juwaini) menyatakan bila jual-beli ‘inah telah dijadikan kebiasan, maka menurut mereka kedua penjualan; pertama dan kedua dianggap tidak sah. (Raudhatut Thalibin oleh An Nawawi 3/417)

Penjelasan kedua tokoh sentral dalam mazhab Sayafii ini secara tidak langsung sebagai pengakuan dari keduanya. Mereka berdua mengisyaratkan bahwa akad semacam ini benar-benar membuka celah lebar bagi para rentenir untuk menjalankan praktek riba.

Semoga paparan singkat tentang jual beli ‘inah ini dapat membuka wawasan Anda untuk memahami seluk beluk perniagaan yang benar secara syari’at. Wallahu a’alam bisshowab.

 

Penulis: Ust. Dr. Muhammad Arifin Badri, M.A.


 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *