MENSYUKURI NIKMAT YANG ADA

Kata syukur dan kufur adalah dua kata yang mungkin sering kita dengar dari para penceramah, atau bahkan kita sendiri terkadang sering mengucapkannya. Allah subhanahu wa taala telah menjadikan kedua sifat tersebut sebagai suatu ketetapan yang ada di antara hamba-hamba-Nya sebagai ujian bagi mereka, apakah mereka akan termasuk dari golongan yang bersyukur dan menjadi pemenang, atau akan menjadi golongan yang ingkar terhadap segala nikmat Allah yang ada pada dirinya?

Mintalah Rasa Syukur Kepada-Nya

Sekecil apapun suatu perkara, baik itu perkara yang berhubungan dengan agama ataupun yang berhubungan dengan dunia, seorang hamba tidak akan mampu mewujudkannya melainkan atas kehendak Allah ‘azza wa jalla, terlebih bila hal tersebut berkaitan dengan perkara agama atau ibadah. Maka sudah seharusnya bagi seorang hamba untuk selalu menyandarkan setiap perkaranya kepada Allah, baik itu dengan do’a maupun usaha. Demikian juga halnya bila seorang hamba ingin mewujudkan rasa syukur pada dirinya, maka hendaklah ia meminta kepada Allah agar diberikan kemudahan dalam hal tersebut. karena dengan do’a-lah, Allah akan menjadikan yang jauh terasa dekat, dan yang berat terasa ringan. Rasulullah sebagai Nabi yang sangat sayang kepada umatnya mengajarkan kepada kita sebuah do’a yang beliau wasiatkan kepada Mu’adz bin Jabal untuk selalu berdo’a di penghujung shalatnya dengan mengucapkan, “Ya   Allah aku minta pertolongan agar senantiasa bisa berdzikir,bersyukur ,dan beribadah dengan baik kepadamu.” (HR. Abu Daud dan Nasai).

 

Mengambil Pelajaran Terhadap Apa Yang Ada Di Sekitar Kita

Mungkin kita sering melihat dari sebagian manusia, yang mana untuk mendapatkan sesuap nasi harus menghinakan diri dengan meminta-minta ataupun mengemis. Bahkan juga terkadang kita mendapakan sebagian dari mereka, hanya untuk melepaskan penat dan lelah harus berjejeran di pinggir-pinggir pertokoan beralaskan karton dan koran, terlebih lagi sebagian dari mereka ada yang usianya sudah senja. Dan dengan segala kekurangan yang ada, mereka pun harus jalani sisa-sisa hidup dengan terlunta-lunta.

Saudaraku, mungkin bagi sebagian orang, ketika menyaksikan hal ini akan menggapnya sebagai suatu hal yang biasa-biasa saja tanpa bisa mengambil pelajaran dari cerita hidup mereka, namun tentu berbeda bagi seorang hamba yang memiliki keimanan dan kepekaan, mereka akan menjadikan hal ini sebagai cambuk dalam kehidupannya, yang selalu mengingatkannya akan pentingnya mensyukuri nikmat-nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada dirinya.

Dalam hal ini Rasulullah shalallahu ‘alaihiwasallam bersabda yang artinya, “Lihatlah kalian kepada orang-orang yang lebih rendah di dalam urusan dunia dan jangan kalian melihat kepada orang-orang yang lebih tinggi, karena hal itu akan menjadikan kalian lebih mensyukuri nikmat Allah.” (HR.Muslim).

Ibnu Jarir dan yang lainnya di dalam mengometari hadis ini mengatakan, “Hadis ini mencakup semua jenis kebaikan, seorang hamba apabila melihat orang yang lebih atas darinya di dalam perkara dunia maka ia akan berangan-angan seperti mereka dan akan memandang sebelah mata terhadap nikmat Allah yang ada pada dirinya, namun apabila ia melihat kepada orang yang lebih rendah dari dirinya maka ia akan bersyukur atas nikmat tersebut dan tidak merasa sombong kemudian ia akan berbuat kebaikan dengannya.” (Syarah shahih muslim di dalam bab zuhud juz 18 hal 97)

Rasulullah shalallahu ‘alaihiwasallam juga bersabda yang artinya, “Sedikitlah kalian bergaul dengan orang-orang yang kaya, karena yang demikian itu   bisa menjadikan engkau untuk mensyukuri nikmat Allah.” (HR. Hakim dalam Mustadrak juz 4hal 347)

 

Mengambil Pelajaran Dari Kaum Terdahulu

Bagi seorang yang selalu memperhatikan keadaan yang terjadi di sekelilingnya, dari si kaya yang ia berbangga dengan kekayaannya ataupun si miskin yang sabar dengan keadaannya, maka ia dapat memposisikan dirinya di mana ia berdiri dari dua keadaan tersebut, kemudian akan berbenah menjadi yang lebih baik untuk menjalani perannya dalam hidup ini. Di dalam al-Qur’an Allah banyak menceritakan tentang kesudahan orang yang tidak pandai dalam mensyukuri nikmat-nikmat-Nya, diantaranya Allah menceritakan kepada kita dari dua peringai hambanya yang berbeda yaitu Qorun dan Sulaiman alaihissalam, di mana Qorun datang dengan segala keingkarannya terhadap nikmat Allah yang ada padanya, adapun Nabi Allah sulaiman datang sebagai seorang hamba yang menyadari bahwa semua yang ada padanya adalah nikmat dari Allah yang wajib untuk di syukuri.

Hal ini Allah kisahkan di dalam al-Qur’an yang artinya, “Maka dia (sulaiman) tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: Ya tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat mu yang telah engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang engkau ridhai...” ( An naml: 19)

Dan Allah juga berfiman tentang Qorun yang artinya, “Qarun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.” Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka.( Al qashash: 78)

Sungguh sangat hina nasib Qorun yang Allah tenggelamkan bersama dengan hartanya ke dalam dasar bumi ketika mengingkari nikmat yang Allah berikan padanya, dan alangkah mulianya kedudukan Nabi sulaiman ketika mengakui semua yang ia miliki hanyalah dari Allah semata. Maka adalah suatu kemuliaan dan keberuntungan bagi seseorang apabila ia dapat mengambil pelajaran dari kejadian-kejadian yang Allah timpakan terhadap kaum-kaum terdahulu, sungguh nikmat Allah tidaklah akan menetap dan bertambah kecuali dengan kita menysukurinya. Kita bedoa kepada Allah semoga menjadikan kita termasuk dari hamba-hamnya yang selalu bersyukur dan beristigfar kepadanya. Amin…

Oleh: Syahrul

Mahasiswa fakultas Ahwal Syakhshiah


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *