MENEGAKKAN KEBENARAN DAN MENCEGAH KEMUNGKARAN

Amar_Makruf_Nahi_Munkar_by_Ih4te

 

Segala puji bagi Allah Ta’ala yang telah menjadikan Islam sebagai agama yang penuh dengan kasih sayang dan kelemah-lembutan, agama yang menegakkan kebenaran dan mencegah kemungkaran

untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya, dari kebodohan kepada ilmu, dari kemaksiatan kepada ketaatan, dari kesesatan kepada hidayah dan dari kejelekan kepada kebaikan. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Pentingnya menegakkan kebenaran dan mencegah kemungkaran

Merupakan perkara yang paling agung yang dapat mendekatkan seorang hamba kepada Rab-Nya adalah menegakkan kebenaran dan mencegah kemungkaran, karena sesungguhnya hal itu merupakan pondasi agama. Dengan menegakkan kebenaran dan mencegah kemungkaran, maka seseorang akan senantiasa menjaga serta melaksanakan apa – apa yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala dan menjauhi apa – apa yang diharamkan oleh Allah Ta’ala. Oleh karena itu betapa banyak dalil-dalil syar’i yang terdapat dalam Al-Qur’an dan As-sunnah yang menjelaskan tentang kemuliaan dan keagungan amar ma’ruf nahi munkar (menegakkan kebenaran dan mencegah kemungkaran) di sisi Allah Ta’ala. Diantaranya adalah firman Allah Ta’ala yang artinya : “Kalian (umat islam) adalah sebaik-baik umat yang dikeluarkan untuk manusia, kalian menyuruh kepada kebaikan dan mencegah dari perbuatan mungkar dan kalian beriman kepada Allah” (QS. Ali Imran : 110).

Dalam ayat yang mulia ini Allah Ta’ala menjelaskan bahwasanya umat islam adalah umat yang terbaik diantara umat-umat sebelumnya. Disebabkan karena banyaknya keutamaan yang mereka miliki diantaranya adalah mereka menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari perbuatan mungkar.

Maka sudah sepatutnya bagi seorang muslim untuk membaca, mendengar dan memahami ayat yang mulia ini agar dia dapat melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala yaitu amar ma’ruf nahi munkar (menegakkan kebenaran dan mencegah kemungkaran). Bahkan hal ini merupakan perkara yang wajib baginya untuk memotivasi dirinya terlebih dahulu, kemudian setelah itu dia memotivasi saudara-saudaranya yang lain. Dan hendaklah seorang muslim mengetahui bahwasanya kapan saja dia meninggalkan perkara yang mulia ini tanpa udzur(alasan syar’i), maka sungguh dia telah meninggalkan suatu kemuliaan yang telah disifatkan oleh Allah Ta’ala sebagai umat yang terbaik.

Hukum menegakkan kebenaran dan mencegah kemungkaran

Sesungguhnya menegakkan kebenaran dan mencegah kemungkaran merupakan fardhu kifayah, yaitu jika ada sebagian manusia telah menegakkannya, maka gugurlah kewajiban atas yang lainnya. Namun apabila semua manusia meninggalkannya maka mereka semua berdosa. Allah Ta’ala berfirman : “Dan hendaklah diantara kamu ada segolongan orang yang menyuruh kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung” (QS. Ali Imran: 104).

Akan tetapi, terkadang hal itu menjadi fardhu ‘ain (wajib atas setiap orang), misalnya seorang melihat kemungkaran sedangkan tidak ada yang melihat kecuali dia, atau tidak ada yang mampu menghilangkan kemungkaran tersebut kecuali dia atau tatkala melihat istri dan anaknya berada dalam kemungkaran, maka pada kondisi seperti ini seorang wajib beramar ma’ruf nahi munkar.

Para ulama berkata : “kewajiban amar ma’ruf nahi munkar tidaklah hilang (gugur) dengan alasan dia memiliki prasangka tidak adanya perubahan. Bahkan wajib atasnya untuk memperingatkannya karena peringatan itu bermanfaat untuk orang-orang mukmin. (Syarah arba’in An-nawawi, oleh Ibnu Daqiqil ‘ied rahimahullah)

Hilangnya kemungkaran itu bukanlah urusan manusia, namun hal itu adalah berkaitan dengan kehendak Allah Ta’ala. Sedangkan kewajiban mereka hanyalah menyampaikan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman : Katakanlah: ” Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang”. (QS. An-Nur: 54)

Para ulama berkata : “Bukanlah merupakan persyaratan bahwa pelaku amar ma’ruf nahi munkar adalah orang yang telah sempurna keadaannya dalam melaksanakan apa yang dia serukan atau menjauhi apa yang dilarang, bahkan hendaknya dia beramar ma’ruf nahi munkar sekalipun dia masih bertentangan dengan apa yang dia serukan. Karena ada dua kewajiban atasnya, pertama memerintahkan dirinya sendiri kepada hal yang ma’ruf dan mencegah dirinya dari kemungkaran. Kedua, menyuruh orang lain untuk melaksanakan yang ma’ruf dan mencegahnya dari yang mungkar. Maka barang siapa yang mengerjakan salah satu dari keduanya, tidaklah menggugurakan yang lain. Kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar bukan hanya di khususkan bagi pemerintah, bahkan telah jelas bahwa itu merupakan kewajiban bagi masing-masing individu kaum muslimin. (Syarah arba’in An-nawawi, oleh Ibnu Daqiqil ‘ied rahimahullah)

Oleh karena itu, sepatutnya bagi setiap orang yang beriman kepada hari akhirat dan orang-orang yang berusaha mendapatkan keridhaan Allah Ta’ala untuk memperhatikan masalah ini. Hal ini karena demikian besar manfaatnya, terlebih di saat manusia banyak mengabaikannya dan orang-orang yang mencegah kemungkaran tidak lagi ditakuti karena derajatnya. Allah Ta’ala berfirman yang artinya : “Sesungguhnya Allah pasti menolong orang-orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa”. (QS.Al-Hajj: 40)

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam beramar ma’ruf nahi munkar

  1. Hendaklah ikhlas dalam beramar ma’ruf nahi mungkar dan mengharap pahala dari Allah Ta’ala.
  2. Orang yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar hendaklah mengetahui tentang kebaikan dan keburukan, sebab kalau dia tidak tahu tentang hal itu maka dia tidak boleh melakukannya. Karena bisa jadi dia memerintahkan sesuatu yang dianggapnya baik ternyata hal itu merupakan suatu kemungkaran atau sebaliknya, seagaimana yang terjadi pada zaman sekarang ini banyaknya orang – orang yang mengajak kepada kesesatan yang mereka anggap hal itu adalah kebaikan, sehingga kemungkaran semakin merajalela dan sulit untuk dibendung.
  3. Mengetahui bahwasanya orang yang akan dinasehati benar-benar meninggalkan perbuatan baik dan melaksanakan perbuatan yang mungkar, bukan semata-mata tuduhan dan prasangka.
  4. Hendaklah berlaku lemah lembut agar dapat mendekatkan kepada tujuan yang hendak dicapai. Imam Syafi’i rahimahullah berkata : Orang yang menasehati (menegur) saudaranya dengan sembunyi-sembunyi berarti benar-benar menasehatinya dan berbuat baik padanya. Adapun orang yang menasehati saudaranya secara terang- terangan, sesungguhnya dia telah mempermalukannya dan menghinakannya.
  5. Hendaklah bertutur kata yang baik, agar orang yang dinasehati bisa menerima nasehat. Sebagaimana Allah Ta’ala memerintahkan kepada Musa dan Harun untuk memberi peringatan kepada Fir’aun dengan tutur kata yang baik.
  6. Tidak mengingkari kemungkaran yang dapat menimbulkan kemungkaran yang lebih besar.

(Arif masuku)

Rujukan :

  1. Al-amru bil ma’ruf wan nahyu ‘anil munkar wa atsaruha fii khifdhil ummah, Syaikh Dr. Abdul Aziz bin Ahmad Al-Mas’na. Jilid 1
  2. Syarah arba’in An-nawawi, oleh Ibnu Daqiqil ‘ied rahimahullah yang telah diterjemahkan kedalam bahasa indonesia diterbitkan oleh Pustaka At-tibyan.
  3. Syarah Riyadhus Shalihin, oleh Ibnu Utsaimin. Jilid 2 disertai beberapa tambahan dan perubahan.

Oleh : Arif Masuku

Mahasiswa Ahwal Syakhshiyyah


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *