MALAIKAT SAJA TIDAK MALU

 Bidadari Langit

Banyaknya para dai saat ini seperti angin sepoi-sepoi di hari yang panas. Keberadaan mereka bak oase di padang gersang yang mampu menghilangkan dahaga, hal ini dikarenakan banyaknya masyarakat yang mulai melek untuk mendalami agamanya. Masyarakat mulai menanyakan permasalahan agama yang dihadapinya. Hal tersebut selaras dengan firman Allah yang artinya, “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui”. (QS An-Nahl: 43)

Memang selayaknya bagi ahli ilmu atau para dai menjadi wadah bagi masyarakat untuk menanyakan permasalahan agama, bahkan Allah Ta’ala sudah memerintahkannya sendiri pada ayat di atas. Akan tetapi seorang dai mempunyai etika dalam menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya. Salah satu etika yang harus diperhatikan adalah, berani mengatakan “Saya tidak tahu”, ketika ia memang tidak mempunyai jawaban atas pertanyaan yang diajukan. Jangan pernah malu untuk mengakui bahwa ia belum memiliki ilmu atas pertanyaan tersebut.

Mahluk Allah yang paling taat, yaitu para malaikat, tidak merasa malu mengakui ketidaktahuannya ketika disuruh menyebutkan nama-nama benda. Hal itu diabadikan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya yang artinya, “Mereka menjawab: Maha suci Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS. Al-Baqarah : 32)

Tentunya bagi manusia, terlebih-lebih lagi seorang dai lebih pantas untuk mengatakan “Saya tidak tahu”. Karena hal itu lebih selamat baginya, dibandingkan apabila ia menjawab tanpa ilmu sehingga mengakibatkan efek yang parah dikemudian hari.

Abdurrahman bin Mahdi ketika menceritakan tentang Imam Malik, beliau berkata, “Kami pernah di sisi Malik bin Anas. Lalu datanglah seorang lelaki dan berkata kepadanya, “Wahai Abu Abdillah, aku mendatangimu dari daerah yang berjarak 6 bulan perjalanan. Penduduk negeriku telah menitipkan satu permasalahan kepadaku untuk aku tanyakan kepadamu”. Malik menjawab, “Bertanyalah”. Lelaki itu pun menanyakan permasalahannya. Malik berkata, “Aku tidak dapat menjawabnya”. Laki-laki itu tercengang, karena ia beranggapan telah menemui seseorang yang mengetahui segala sesuatu. Ia menukas, “Apa yang harus aku katakan kepada penduduk negeriku apabila aku kembali kepada mereka nanti?”. Malik menjawab, “Katakan saja pada mereka, Malik tidak bisa menjawab pertanyaan mereka.” (Jami’ Bayanil ‘ilmi wa fadhlihi no.1573)

Maka perhatikanlah betapa rendah dirinya Imam Malik, padahal beliau ulama yang bergelar Imam Darul Hijrah (Imamnya penduduk Madinah). Beliau tanpa sungkan-sungkan berkata “Aku tidak dapat menjawab”. Maka hal ini sudah seharusnya menjadi renungan bagi kita apabila ditanya mengenai suatu permasalahan agama, jangan malu atau sungkan untuk mengatakan “Saya tidak tahu jawabannya”. Karena hal itu sejatinya menunjukan kehati-hatian dalam berbicara mengenai permasalahan-permasalahan agama. Jangan sampai kita menjadi orang yang berkata tentang Allah tanpa ilmu. Wallahul musta’an

Oleh: Syailandra

Mahasiswa Fakultas Ahwal Syakhsiyyah


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *