KIKIR TERHADAP WAKTU

th (3)

Allah Ta’ala telah menciptakan dua kehidupan bagi manusia, yaitu kehidupan dunia dan  akhirat. Dari dua kehidupan tersebut, Allah telah menegaskan bahwa  akhirat adalah kehidupan yang lebih baik dan kekal, sebagaimana firman Allah yang artinya, “Kehidupan akhirat adalah lebih baik dan kekal”.(QS. Al-A’la: 17). Maka sudah sepantasnya bagi setiap orang untuk lebih mengutamakan akhirat dari pada kehidupan dunia, karena akhirat adalah tempat akhir bagi jin dan manusia.

Dari hal di atas, maka perkara yang sangat penting bagi setiap hamba adalah mempersiapkan bekal yang baik untuk memasuki kehidupan akhirat tersebut  tatkala  berada di dunia, karena Allah telah menjadikan dunia sebagai ladang untuk memperbanyak amal salih  sebagai bekal  kehidupan akhirat. Akan tetapi terkadang kesempatan yang telah Allah berikan kepada setiap hamba sering sekali banyak dilalaikan, sehinga Nabi shalallahu alaihi wasallam telah menggambarkan tentang keadaan mereka dalam sebuah  sabdanya yang artinya, “Dua nikmat yang kebanyakan manusia lalai darinya adalah nikmat sehat dan waktu luang”.(HR. Bukhari dan Ahmad)

Di antara perkara yang harus diperhatikan oleh seorang hamba adalah  memanfaatkan waktu yang telah Allah berikan kepadanya. Maka pada kesempatan kali ini kami akan membahas secara ringkas kiat-kiat memnfaatkan waktu sehingga waktu tersebut tidak akan terbuang sia-sia sehingga kita tidak  termasuk dari golongan orang-orang yang merugi karena tidak bisa memanfaatkan waktunya.

Meninggalkan Perkara Yang Tidak Ada Manfaatnya

Sudah seharusnya bagi setiap muslim  untuk mengetahui  semua perkara yang akan dilakukannya  baik dengan cara mempelajari atau bertanya kepada ahlinya, sehinga dia akan mengetahui apakah perkara yang akan dilakukan bermanfaat bagi dirinya atau bahkan membahayakan dirinya.

Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya, “Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat bagi dirinya”(HR.Ahmad dan Thirmidzi)

Imam Ibnu Rajab Al-Hambali  mengomentari hadis ini dengan mengatakan, “Bahwa di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah dia meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat bagi dirinya baik berupa ucapan dan perbuatan. Dan dia mencukupkan dengan mengerjakan perkara-perkara yang bermanfaat bagi dirinya baik itu berupa ucapan maupun perbuatan”. (Jami’ul ulum wal hikam)

Hadis di atas juga menjelaskan bahwa setiap orang sudah seharusnya  kikir terhadap waktu yang telah Allah berikan kepadanya, artinya bahwa setiap orang tidak boleh membiarkan waktunya terbuang sia-sia, karena kehidupan di dunia ini hanyalah sementara. Bahkan Nabi pernah mengingatkan kepada umatnya untuk menjadikan dunia sebagai tempat singgah yang sementara, beliau mengatakan di dalam sabdanya yang artinya, “Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau penyebrang jalan”. (HR. Bukhari)

Menjaga Lisan

Lisan merupakan salah satu dari nikmat yang Allah  berikan kepada hamba-hambaNya. Namun ketika seorang hamba diberikan lisan oleh Allah kemudian dia tidak mensyukurinya, maka sebuah nikmat tersebut akan berbalik menjadi sebuah malapetaka bagi dirinya, hal ini sebagaimana firman Allah yang artinya, “Sungguh jika kalian bersyukur maka akan aku tambah nikmat itu atas kalian dan jika kalian ingkar maka sesungguhnya azabku sangatlah pedih”.(QS.ibrahim:7)

Ingatlah bahwa segala sesuatu yang keluar dari lisan seseorang, semua itu akan di pertanggung jawabkan dihadapan Allah Ta’ala. Jika yang keluar dari lisannya sesuatu yang baik maka kenikmatanlah yang akan didapatkannya, namun sebaliknya ketika kejelekan yang keluar dari lisannya, maka malapetakalah yang akan didapatkannya. Nabi shalallahu ‘alaihiwasallam bersabda yang artinya, “Sesungguhnya akan ada seseorang yang mengucapkan sebuah kalimat yang dia menyangka hal tersebut tidak ada masalah ternyata ucapan tersebut menyebabkan dirinya di masukan kedalam neraka selama tujuh puluh tahun”.(HR. Ahmad dan Thirmidzi)

Di antara salah satu bentuk menggunakan waktu yang baik adalah dengan tidak mengucapkan kata-kata yang kotor, akan tetapi hendaknya berusaha semaksimal mungkin untuk mengucapkan kata-kata yang baik. Dan kalau ternyata tidak bisa juga maka sebaiknya diam, sebagaimana sabda Nabi yang artinya, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah mengucapkan kata-kata yang baik atau diam”.(HR. Bukhari dan Muslim).

Menyibukkan Diri Dengan Mengerjakan Amal Saleh

Banyak orang yang lebih suka menghabiskan waktunya untuk perkara dunia, bahkan di antara mereka ada yang rela bangun sebelum subuh untuk berangkat ke tempat kerja, tetapi lalai untuk melaksanakn salat subuh, begitu juga banyak para istri yang meninggalkan anak-anaknya di rumah bersama pembantu demi sebuah pekerjaan  dan mereka lalai bahwa mengasuh anak adalah ladang amal yang bisa menjadi bekal di akhirat kelak. Ketahuilah saudaraku bahwa Allah dan Rasul-Nya tidak pernah memerintahkan manusia untuk berambisi terhadap dunia, akan tetapi Allah dan Rasul-Nya memerintahkan manusia untuk berlomba-lomba  mendapatkan kebaikan. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Berlomba-lombalah untuk mendapatkan kebaikan”. (QS. Al-baqarah: 148)

Seseorang yang mengetahui bahwa kehidupan dunia adalah sementara, maka tentu dia akan menyibukkan dirinya untuk mengerjakan amal  saleh, dan sebaliknya orang-orang yang rugi  dia akan menyibukan dirinya dengan perkara dunia dan lalai terhadap akhirat. Di kisahkan bahwa kakek Syaikhul Islam Ibnu Taimiyahyaitu  Ibnul Barakat, beliau adalah seorang yang sangat menjaga waktunya untuk melakukan amal saleh, sampai ketika di kamar mandipun dia memerintahkan temannya untuk membacakan kitab dengan suara keras supaya dia bisa mendengarkannya dari dalam kamar mandi kemudian bisa mengambil manfaat darinya. Demikian juga halnya dengan Syaikh bin Baz rahimahullah, karena seringnya beliau berzikir sehingga beliaupun tatkala masuk kamar mandi harus menggigit kain karena sering lupa terkadang berzikir di kamar mandi.

Demikianlah sedikit pembahasan yangsangat  ringkas, mudah-mudahan bisa menjadi pencerahan bagi kita untuk tidak gampang membid’ahkan sebuah amalan. Wallahu ta’ala a’lam bishawab.

Referensi: Jami’ul ulum walhikam, Karya Ibnu Rajab Al-Hambali

Oleh: Kuswoyo

Mahasiswa faklutas Ilmu Hadits


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *