KEWAJIBAN SEORANG PAHLAWAN

petani 2

Petani adalah pekerjaan mulia yang menjadi tumpuan dalam kehidupan ini. Petani memiliki peran yang besar dalam perputaran roda kehidupan, hampir semua makhluk hidup terutama manusia berutang budi pada petani, maka sangat pantas jika para petani diberi gelar HERO OF THE WORLD atau pahlawan dunia.

Islam, sebagai agama yang paling peduli dengan masalah sosial, hadir sebagai agama yang paling menghormati petani. Rasulullah Shallallahu ‘alahi wasallam bersabda: “Barang siapa yang menanam pohon atau menabur benih, kemudian hasilnya dimakan oleh manusia, burung, binatang buas ataupun yang melata, maka pemiliknya mendapat pahala sedekah darinya.”(HR. Ahmad, shahih)

Masya Allah, begitu enak jadi seorang petani, setiap hari mendapatkan kucuran pahala sedekah karena tanamannya yang dinikmati oleh makhluk hidup, yang mungkin ia sendiri tak menyadarinya. Namun disamping anugerah tersebut, Allah juga memberikan satu kewajiban pada petani berkaitan dengan hasil panennya. Sebab, sudah menjadi hukum alam atau takdir kauni Allah Ta’ala, Allah menjadikan kehidupan ini beragam, ada yang senang ada juga yang susah, ada yang kaya dan ada yang miskin, ada kuat ada lemah, ada sehat ada sakit dan seterusnya. Karena itu tidak semua orang punya kesempatan baik karena faktor skil(kemampuan) , dana, tempat, ataupun kekurangan yang ada pada tubuh (cacat). Untuk mengatasi masalah sosial ini, Islam memberikan satu solusi yang menguntungkan bagi semua yaitu zakat.

Semua kita yakin, zakat hukumnya wajib dan merupakan salah satu syarat seorang dianggap muslim karena ia salah satu rukun Islam. dan pada tulisaan kali ini, penulis tidak akan membahas seluruh persoalan zakat, melainkan terbatas pada masalah kewajiban zakat hasil pertanian.

 

Apa saja yang wajib dizakati oleh petani?

Berkata Imam Nawawi rahimahullah : Bahwa hasil pertanian yang wajib dizakati adalah adalah hasil panen yang menjadi makanan pokok manusia dan tahan disimpan (Majmu’ 5/469). Contohnya: padi, gandum, jagung dan lain sebagainya. Adapun makanan yang tidak tahan disimpan seperti sayuran tidak wajib dizakati, atau tahan disimpan tapi bukan makanan pokok seperti kelapa, maka juga tidak wajiib dizakati.

Tapi, jika pak tani ingin mengeluarkan zakat dari seluruh jenis hasil tanamannya juga tidak masalah, karena itu merupakan pendapat Imam Abu Hanifah rahimahullah yang banyak diamini oleh para ulama seperti Ibnul A’rabi dan yang lainnya (Shahih fiqh sunnah).

Nishab zakat pertanian

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak wajib zakat pertanian kecuali jika sudah mencapai lima wasaq” (HR. Bukhari: 1447) lima wasaq itu sama dengan 300 sha’ atau kurang lebih 720 kg. jadi seorang petani tidak wajib mengeluarkan zakat pertaniannya sampai ia memiliki salah satu dari jenis hasil panennya sebanyak 720 kg.(Syarhul mumti’). Dan berat ini hasil panen yang bersih, padi misalnya: maka ia sudah berupa padi murni yang sudah dibersihkan dari batangnya, sampah-sampah dan sebagainya.

Besar yang harus dikeluarkan

Jika petani dalam mengairi tanamannya tidak membutuhkan biaya, seperti dengan hujan atau hanya dengan menggali dan yang lainnya yang tidak membutuhkan biaya, maka wajib baginya mengelurkan 10 % dari hasil panennya.

Tapi jika harus dengan biaya seperti beli air, atau dengan mesin, atau membuat irigasi yang semuanya membutuhkan biaya, maka ia hanya wajib mengeluarkan 5 % dari hasil panennya.

Namun, jika dalam mengairi ia setengah-setengah, misalnya separuh waktu berbiaya dan separuh lagi tidak, maka yang wajib baginya mengeluarkan ¾/10 atau sekitar 7,5 % dari hasil panennya. Dan ini jika ia benar-benar yakin itu setengah-setengah, namun, jika ia tidak tahu maka ia wajib mengeluarkan 10 % dari hasil panennya. (Shahih fiqh sunnah)

Waktu wajib dan waktu mengeluarkan zakat pertanian

Petani dikenai kewajiban zakat saat tanamannya sudah tua sebelum layak untuk dipanen. Kalau berupa buah, yaitu ketika sudah mulai manis, atau warna sudah mulai berubah, kalau ia biji-bijian seperti padi, ketika sudah mulai menguning dan sudah tua, namun belum layak untuk dipanen.

Namun, petani belum wajib mengeluarkan zakat saat itu, karena waktu wajib bagi petani untuk mengeluarkan zakat pertaniannya adalah ketika tanamannya sudah dipanen, saat itu ia harus menghitung nisabnya dan mengeluarkan zakatnya. Contoh: jika padinya ada sekitar satu ton, maka ia harus keluarkan 10% atau 100 kg, jika pengairannya tanpa biaya.

Saat tanaman petani menua maka ia sudah dikenai kewajiban zakat, saat itu seharusnya petani sudah menakar dengan jujur kira-kira berapa hasil panennya kali ini dan berapa yang harus ia keluarkan, jika ia tidak mampu ia bisa minta pendapat seorang yang ahli, jujur dan terbiasa. Karena jika terjadi sesuatu pada tanamannya, seperti dicuri, ia jual, kena bencana dan lain sebagainya yang mengakibatkan tanamanya lenyap atau tidak sampai nisab maka:

  1. Jika hasil panennya lenyap saat petani belum dikenai wajib zakat, yaitu saat tanaman sudah mulai menua atau matang, maka ia tidak wajib membayar zakat.
  2. Jika lenyapnya saat sudah dikenai kewajiban zakat atau saat tanaman sudah menua, maka ia wajib membayar zakat dari hasil tanamannya itu walaupun sudah lenyap sebesar yang ia perkirakan waktu tanamannya menua tadi. Contoh: ia perkirakan panen kali ini satu ton, kemudian ia jual semuanya, maka ia tetap dikenakan kewajiban zakat sebesar 100 kg jika pengairan tanpa modal, walau ia sudah tidak punya padi lagi.

Hal ini jika lenyapnya itu karena ulahnya sendiri atau karena keteledorannya sendiri, seperti: ia jual, beri ketetangga, ia makan, ia tidak urus sehingga dicuri dan sebagainya. Namun, jika kelenyapan tersebut diluar kemamapuannya, seperti: ia sudah jaga tapi tetap hilang, kena bencana alam dan sebagainya maka ia tidak wajib mengeluarkan zakatnya.( Syarhul Mumti’)

Hutang

Begitu petani panen dan padi sudah dibersihkan dari batangnya, sampah-sampah hingga tinggal padi murni, maka petani menghitung dan mengeluarkan zakatnya dengan cara yang sudah dijelaskan. Hasil panen yang ada tidak dipotong dengan biaya pertanian, pupuk, bibit, gaji karyawan dan sebagainya, karena zakat perintah Allah yang tidak akan gugur kecuali ada dalil yang menggugurkannya. (Al Muhalla, oleh Ibnu Hazm)

Referensi utama : Majmu’ syahul muhadzdzab, oleh Imam Nawawi rahimahullah.

Syarhul mumti’ ,oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah.

Oleh: Ghufron

Mahasiswa Fakultas Ahwa; Syakhsiyyah

 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *