KEJUJURAN

jujur2

 

Segala puji hanya bagi Allah Yang Maha Bijaksana, shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita yang mulia Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarganya, sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

Makna Kejujuran

Kejujuran adalah keselarasan antara yang zhahir dengan yang batin dan keselarasan antara ucapan dengan perbuatan serta keselarasan antara berita dengan kenyataan yang ada.

Dari makna kejujuran di atas berarti orang yang tidak selaras antara dhohirnya dengan batinnya bukanlah orang yang jujur, akan tetapi dia adalah orang yang munafik dan pembohong, begitu pula orang yang tidak selaras antara ucapannya dengan perbuatannya dan orang yang tidak selaras antara beritanya dengan kenyataan yang ada adalah orang munafik dan pembohong. Oleh kerena itu Ibnul Qoyyim menyifati kejujuran dengan berkata : “Dan dengan kejujuran terbedakanlah orang munafik dari orang yang beriman dan penduduk neraka dari penduduk surga”. (Madaarijus Shalikiin 2/268).

Perintah dan anjuran agar berakhlak jujur

Seorang muslim adalah orang yang jujur, menyukai kejujuran serta mewujudkan kejujuran tersebut pada perkataan dan perbuatannya secara zhahir dan batin, sebab kejujuran akan membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa kepada surga, dan surga merupakan cita-cita yang tinggi bagi seorang muslim. Berbeda dengan kedustaan yang merupakan lawan dari kejujuran, kedustaan akan membawa kepada dosa, dan dosa akan membawa ke neraka, dan neraka seburuk-buruk tempat yang di jauhi seorang muslim. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jauhilah kebohongan, sebab kebohongan menggiring kepada keburukkan, dan keburukkan akan menggiring kepada neraka. Dan sungguh, jika seseorang berbohong dan terbiasa dalam kebohongan hingga di sisi Allah ia akan ditulis sebagai seorang pembohong. Dan hendaklah kalian jujur, sebab jujur menggiring kepada kebaikan, dan kebaikan akan menggiring kepada surga. Dan sungguh, jika seseorang berlaku jujur dan terbiasa dalam kejujuran hingga di sisi Allah ia akan ditulis sebagai orang yang jujur”. (HR. Abu Daud, shahih)

Seseorang muslim tidak memandang kejujuran hanya sekedar kewajiban saja, akan tetapi dia memandang kejujuran termasuk penyempurna keimanan dan keislamannya, karena Allah Ta’ala menjadikan kejujuran termasuk keimanan. Allah Ta’ala berfirman yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”. (QS. At-Taubah: 100)

Allah Ta’ala juga memuji orang-orang yang berbuat jujur di dalam Al-Qur’an dengan firman-Nya yang artinya: “laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”.(QS. Al-Ahzab: 35).

Faidah-Faidah dari Kejujuran

Kejujuran memiliki banyak faidah yang akan dipetik oleh orang-orang yang jujur, di antara faidah tersebut adalah:

  1. Ketenangan hati dan jiwa, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam: “kejujuran adalah ketenangan dan kedustaan adalah keraguan” (HR. At-Tirmidzi, shahih)
  2. Keberkahan dalam jual-beli, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam: “Pembeli dan penjual boleh melanjutkan atau membatalkan akad jual-beli selama keduanya belum berpisah, jika keduanya jujur dan menjelaskan (cacat barang dan harganya), maka akan diberkahi jual-belinya, jika keduanya menutupi (cacat barang dan harganya) dan berdusta, maka hilanglah barakah jual-belinya”. (HR. Bukhari)
  3. Memperoleh kedudukan mati syahid, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam: “Barangsiapa yang meminta kepada Allah mati syahid dengan jujur, Allah akan memberikan kepadanya kedudukan mati syahid walaupun dia meninggal di atas ranjangnya”. (HR. Muslim)

Bentuk-Bentuk Kejujuran

  1. Jujur dalam ucapan.

Seorang muslim selayaknya berbicara benar dan jujur apabila dalam menyampaikan berita, menyampaikan berita sesuai dengan kenyataan, karena berbicara dusta merupakan ciri-ciri kemunafikan.

  1. Jujur dalam janji.

Apabila seorang muslim berjanji, maka ia memenuhi janjinya dan tidak menyelisihinya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tanda-tanda orang munafik ada tiga: apabila ia berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia menyelisihi, dan apabila diberi amanah ia berkhianat”. (HR. Bukhari dan Muslim)

  1. Jujur dalam tekad.

Seorang muslim apabila bertekad untuk melakukan perbuatan baik, ia melakukannya dan tidak menoleh kepada yang lainnya.

  1. Jujur dalam bersikap dan berpenampilan.

Seorang muslim tidak berpenampilan dengan sesuatu yang bukan miliknya, tidak menampakan sesuatu yang menyelisihi apa yang ia sembunyikan sehingga ia tidak memakai pakaian palsu, tidak ria dan tidak memberat-beratkan diri dalam apa yang tidak ia punyai. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam: “Orang yang merasa puas dengan sesuatu yang bukan miliknya, seperti orang yang memakai pakaian palsu”. (HR. Muslim)

Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi berkata: “Makna hadits ini adalah orang yang berhias dengan sesuatu yang bukan miliknya agar dilihat sebagai orang yang kaya, seperti orang yang memakai dua pakaian yang telah usang agar tampak sebagai orang yang zuhud dan bukan orang yang hidup sengsara”. (Minhajul muslim, oleh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi)

Contoh-Contoh kejujuran

Pertama: Suatu hari Al-Hajjaj bin Yusuf berkhutbah dengan panjang, kemudian salah seorang jama’ahnya berkata tegakkanlah sholat! Sesungguhnya waktu sholat tidak menunggumu dan Allah tidak memberimu keringanan. lalu orang tersebut di penjara, kemudian kaumnya mendatanginya dan menyangka bahwa orang tersebut gila. Al-Hajjaj berkata: “Jika dia mengakui dirinya gila maka aku akan melepaskannya dari penjara”. lalu orang tersebut berkata: “Tidak pantas bagiku untuk mengingkari nikmat Allah yang Dia berikan kepadaku sehingga aku mengaku gila, padahal Allah menjauhkan penyakit gila dariku”. Tatkala Al-Hajjaj melihat kejujurannya lalu ia melepaskannya.

Kedua: Imam Bukhari meriwayatkan bahwasannya dia keluar mencari hadits dari seseorang. lalu dia melihat orang tersebut melarikan diri, lalu orang tersebut memanggil kudanya dengan selendangnya yang seakan-akan di dalamnya ada gandum, kemudian kudanya datang lalu dia mengambilnya, imam Bukhari kepada orang tersebut: “Apakah engkau punya gandum?”, lalu orang tersebut menjawab: “Tidak, aku hanya mengelabuinya”,. Imam Bukhori berkata: “Aku tidak akan mengambil hadits dari orang yang berbohong, walaupun terhadap binatang ternak”. (Minhajul muslim, oleh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi) Wallahu Ta’ala a’lam.

Maraji’:

  • Minhajul Muslim oleh syaikh Abu Bakr Jabir Al- Jazairi Dan Bahjatun Naadzhiriin oleh syekh Salim bin ‘Id Al-Hilali hafizhahullah.
  • Madaarijus Shalikiin, oleh Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah rahimahullah.

Oleh: Mardiyono

Mahasiswa Fakultas Ahwal Syakhsiyyah


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *