JILBAB MODEL PUNUK UNTA

Kerudung Punuk Unta thumb1

Alhamdulillah wa shalatu wasalamu ‘ala Rasulillah. Wanita diciptakan oleh Allah dengan berbagai macam perhiasan yang menempel pada dirinya. Perhiasan itu senantiasa akan terus melekat dan akan terus menjadi fitnah (ujian) bagi lawan jenisnya. Maka tidak heran kalau suaranya, wajahnya, bentuk tubuhnya dan semua yang ada pada dirinya adalah perhiasan dan sering membuat dirinya dan orang lain terjatuh ke dalam perbuatan yang dilarang oleh Allah Ta’la.

Sehingga wajar kalau Allah melaknat wanita yang mengumbar auratnya di depan orang yang bukan mahramnya.

Padahal empat belas abad yang lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan tentang kondisi wanita seperti ini. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam Dalam Hadits Shahih Riwayat Imam Muslim dan Lainnya Bahwasanya mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium wangi Surga, padahal bau wangi Surga bisa dicium dari jarak yang sangat jauh.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ada dua golongan penduduk neraka yang belum aku melihat keduanya, Kaum yang membawa cemeti seperti ekor sapi untuk mencambuk manusia dan perempuan-perempuan yang berpakaian tapi telanjang, cenderung kepada kemaksiatan dan membuat orang lain juga cenderung kepada kemaksiatan. Kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang berlenggak-lenggok. Mereka tidak masuk surga dan tidak mencium bau wanginya. Padahal bau wangi surga itu tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian waktu (jarak jauh sekali).” (HR. Muslim dan yang lain)

Duhai, telah benar apa yang disabdakan Rasulullah kini telah terjadi. Banyak kita dapati wanita pada zaman sekarang ini berpakian namun seperti telanjang karena masih banyak bagian tubuh mereka yang tidak ditutupi secara syar’i. Dengan bangganya mereka menyingkap sebagian tubuhnya untuk memperlihatkan keindahanhnya serta berlenggak-lenggok agar semua orang tertuju kepadanya dan memuji kecantikannya. dilain sisi tidak sedikit wanita muslimah yang mengaku telah berkerudung namun pada hakikatnya tidak berkerudung, mereka memodifikasi kerudung-kerudung mereka sesuai dengan perkembangan zaman sehingga masih terlihat bentuk lekuk tubuh mereka.

Adapun maksud hadits “kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk unta”, maknanya adalah mereka membuat kepala mereka menjadi nampak besar dengan menggunakan kain kerudung atau selempang dan lainnya yang digulung di atas kepala sehingga mirip dengan punuk-punuk unta. Ini adalah penafsiran yang masyhur.

Al-Qoodhiy menafsiran hadits di atas bahwa itu adalah yang menyisir rambutnya dengan gaya condong ke atas. Ia berkata, “Yaitu dengan memilin rambut dan mengikatnya ke atas kemudian menyatukannya di tengah-tengah kepala sehingga menjadi seperti punuk-punuk unta.” Lalu ia berkata, “Ini menunjukkan bahwa maksud perumpamaan dengan punuk-punuk unta adalah karena tingginya rambut di atas kepala mereka, dengan dikumpulkannya rambut di atas kepala kemudian dipilin sehingga rambut itu berlenggak-lenggok ke kiri dan ke kanan kepala.

Dari hadits di atas kita bisa menarik beberapa kesimpulan, di antaranya :

  1. Maksud dari hadits “kepala mereka seperti punuk onta”, adalah wanita yang menguncir atau menggulung rambutnya sehingga tampak sebuah benjolan di bagian belakang kepala dan tampak dari balik hijabnya.
  2. Ancaman yang sangat keras bagi setiap wanita yang keluar rumah menonjolkan rambut yang tersembunyi di balik hijabnnya dengan ancaman tidak dapat mencium bau wangi surga, padahal bau wangi surga bisa dicium dari jarak yang sangat jauh.
  3. Apabila telah ada ketetapan dari Allah baik berupa perintah atau pun larangan, maka seorang mukmin tidak perlu berpikir-pikir lagi atau mencari alternatif yang lain. Terima dengan sepenuh hati terhadap apa yang ditetapkan Allah tersebut dalam segala permasalahan hidup. “Dan tidakkah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’minah, apabila Allah dan Rasul- Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” ( Al-Ahzab: 36) Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu …” (Q.S. Al Hujaraat : 15)
  4. Inti dari larangan dalam hadits tersebut adalah bertabarruj, yaitu keluar rumah dengan berdandan yang melanggar aturan syari’at dan berjilbab yang tidak benar sebagaimana firman Allah, “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu (bertabarruj) berhias dan bertingkah laku seperti orangorang Jahiliyah yang dahulu.” (QS. Al-Ahzaab: 33)
  5. Adapun ketika dirumah dan dihadapan suami, maka para isteri diperbolehkan berdandan dengan cara apa saja yang menarik hati suaminya, bahkan tanpa mengenakan sehelai kainpun juga boleh, tidak haram, bahkan berpahala.
  6. Kalau kita cermati dengan seksama maka akan jelas sekali bahwa saat ini banyak kaum wanita yang telah melakukan apa yang dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam dalam hadits tersebut, yaitu memakai jilbab yang dibentuk sehingga mirip punuk onta. Kalau berjilbab seperti ini saja tidak masuk surga, bagaimana pula yang tidak berjilbab?

Wahai saudari muslimah! Tutupilah tubuh kalian dengan sebenar-benarnya hijab karena tubuhmu bisa menjadi neraka bagi dirimu dan orang lain. Karena betapa banyak orang dimasukkan ke dalam neraka karena terbuai dengan fitnahmu. Berhijablah dengan benar dan tidak ada kata “belum siap untuk berhijab” kalau tidak sekarang, kapan lagi? Jangan sampai penyesalan akan merenggut kebahagiaanmu. Tidak ada kata “saya ingin tutupi hati dulu” yang benar adalah kerjakan bersamaan “tubuh dihijabin, hati dibenerin”. Perbaiki diri dengan akhlak karimah, ber-Islamlah secara total jangan setengah-setengah, jangan takut dicela orang takutlah pada Dzat yang menciptakan orang, berubahlah menjadi muslimah sejati yang senantiasa mengharapkan ridha Allah, mari kita songsong kejayaan Islam dengan memperbaiki para wanita muslimah menjadi wanita yang shalihah. Karena wanita yang shalihah mampu mancetak generasi Islam yang unggul dan bertanggung jawab.

Mudah-mudahan Allah merahmati kita, dan memudahkan kita untuk melakukan segala ketaatan dan memudahkan kita untuk menjauhi segala kamaksiatan. Aamiin.

Oleh : Saifullah el-Gabusi

Mahasiswa Fakultas Ahwal Syakhshiyyah


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *