JALAN MEMPEROLEH KEBAHAGIAAN

 jalan menuju surga

Kebahagiaan merupakan dambaan dan harapan bagi setiap manusia, setiap orang bertujuan dan berkeinginan untuk mendapatkan kebahagiaan, sehingga mereka akan berusaha siang dan malam, pagi dan sore untuk mendapatkannya dan akan berusaha untuk menjauhi jalan-jalan yang akan menjauhinya dari kebahagiaan tersebut. Namun kenyataan yang kita lihat wahai saudaraku, manusia dalam mencari kebahagiaan itu beraneka cara pandangnya, orang yang berpandangan bahwa kebahagiaan itu terdapat pada harta maka mereka akan berusaha menumpuk-numpuk harta bahkan dengan menghalalkan berbagai macam cara seperti korupsi, riba, mencuri, menipu dan lain-lainnya. Orang yang berpandangan bahwa kebahagiaan itu dapat diperoleh dengan melampiaskan keinginan hawa nafsu, maka mereka akan melakukan berbagai kemaksiatan seperti berjudi, berzina, minum- minuman keras, mengkonsumsi ganja dan jenis-jenis yang lainnya. Kalau sekiranya ditanya masing-masing dari mereka: “ apa yang anda cari dari perbuatan anda ini ?” mereka akan menjawab dengan jawaban yang sama yaitu aku ingin kebahagiaan, aku ingin ketenangan hati, aku ingin terbebas dari kegundahan dan kesedihan dan jawaban yang serupa maknanya.

Ketahuilah wahai saudaraku, semua ini tidak akan dapat mendatangkan kebahagiaan, tidak akan menjadikan anda bahagia, kalaupun anda merasa bahagia dengan itu semua, ketahuilah itu hanya kebahagian sesaat yang setelah itu dia akan menyisakan bertumpuk-tumpuk kesengsaraan dan kegundahan dalam diri anda. Tidakkah anda tahu bahwa kebahagiaan itu adalah milik Allah ? yang Dia tidak akan memberikannya kecuali kepada orang yang taat kepada perintah-Nya, yang hatinya tunduk kepada syariat-syariat-Nya dan senantiasa menunaikan hak-hak Allah atasnya sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Mu’az bin Jabal radiallahu ‘anhu : “Wahai Mu’az taukah kamu apakah hak Allah atas hamba-Nya dan hak hamba atas Allah ?” maka Mu’az berkata: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui,” lalu Rasulullah bersabda : “Hak Allah terhadap hambanya adalah agar mereka hanya beribadah kepada Allah saja dan tidak menyekutukan-Nya dengan yang lain, dan hak hamba atas Allah adalah bahwa Allah tidak akan mengazab hamba-Nya yang hanya beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan yang lain.” ( HR. Al Bukhari dan Muslim)

Dalam kesempatan ini kita akan membicarakan beberapa hal yang dapat membawa seseorang kepada kebahagiaan dan ketenangan baik di dunia apalagi di akhirat :

  1. Mentauhidkan Allah Ta’ala

Ini adalah pondasi pokok yang harus dilalui oleh orang yang ingin bahagia, dia harus memperbaiki hubungan dia dengan Allah Ta’ala yaitu dengan cara mentauhidkan-Nya, orang yang telah mentaudkan Allah Ta’ala maka Allah jamin dia akan mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan jiwa, Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman : “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82). Syekh Abdurrahman Assa’di rahimahullahu ta’ala menjelaskan dalam tafsirnya maksud dari ayat ini: “orang yang beriman kemudian dia tidak campurkan keimanannya dengan kesyirikan ( dia mentauhidkan Allah ) dan dia tidak menodai keimanannya dengan kemaksiatan maka pasti dia akan mendapatkan rasa aman,ke tenangan dan mendapatkan hidayah.”

Bagaimana cara mentauhidkan Allah ? ada 3 tahapan yang harus anda lalui dalam mentauhidkan Allah : (1 ). Anda harus meyakini dengan seyakin-yakinnya bahwasanya tidak ada zat yang menciptakan alam semesta ini dan tidak ada yang mengaturnya kecuali hanya Allah, tidak ada yang bisa mematikan dan menghidupkan, tidak ada yang bisa mendatangkan kebaikan dan menolak keburukan kecuali hanya Allah Ta’ala dan tidak ada yang bisa menyembuhkan dan menolak penyakit kecuali hanya Allah Ta’ala.

(2). Kalau tadi adalah bentuk pengakuan bahwa tidak ada yang mampu kecuali hanya Allah saja, sekarang adalah tahap pembuktian, ketika kita ingin dimudahkan rezeki, kita hanya minta kepada Allah ketika ingin dijauhkan dari bahaya, kita memohon pertolongan hanya kepada Allah karena Dialah Yang mampu, dan kita tidak meminta ketempat-tempat yang di anggab sakti atau kekuburan-kuburan para wali atau kepohon-pohon yang keramat dan lain sebagainya karena semua itu tidaklah mampu untuk mengabulkan kecuali hanya Allah Ta’ala dan begitu pula ketika kita menginginkan ketenangan hati dan kebahagiaan kita juga memohon kepada Allah dan semua bentuk ibadah hanya kita persembahkan untuk Allah Ta’ala karena memang Dialah satu-satunya yang berhak untuk disembah sebagaimana firman Allah : “Tidaklah kamu diperintahkan kecuali hanya untuk beribadah kepada Allah dengan penuh keikhlasan.” (Qs. Al-Baiyyinah : 5)

(3). Anda meyakini bahwa Allah itu punya nama-nama dan sifat-sifat yang sesuai dengan kemuliaan dan keagungan-Nya yang tidak serupa dengan makhluk baik yang terdapat dalam Al-Qur’an maupun dalam hadis-hadis Rasul-Nya shalallahu’alaihi wasallam.

  1. Berilmu dan beramal dengan Al-Qur’an

Al-Qur’an merupakan sumber kebahagiaan dan Allah menurunkannya agar manusia bisa bahagia maka barang siapa yang menginginkan kebahagiaan maka carilah dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasulnya shallahu’alaihi wasallam sebagai penjelas Al-Qur’an tersebut dan ini tidak mungkin anda lakukan kecuali dengan mempelajarinya kemudian mengikutinya dengan cara mengamalkannya. Allah Ta’ala berfirman : “Barang siapa yang mengikuti petunjukKu ( Al-Qur’an ) dia tidak akan sesat dan celaka.” (Qs. Thaha : 123). Al-Imam Assa’di rahimahullah menjelaskan maksud “tidak akan sesat dan celaka” yaitu dia akan mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan dan selalu merasa aman baik di dunia maupun di akhirat. Allah berfirman dalam ayat yang lain : “Tidaklah kami menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu wahai Muhammad untuk menyusahkanmu.” (Qs. Thaha : 2 ) Ulama ahli tafsir menjelaskan tidaklah kami menurunkannya kepadamu wahai Muhammad kecuali agar kamu menjadi tenang, bahagia dan mendapatkan keberuntungan dengannya.

Inilah hakikat kebahagiaan wahai saudaraku, dia tidak akan anda peroleh dengan harta karena banyak kita lihat orang yang berharta tapi dia tidak merasa bahagia, karena kebahagiaan itu terletak dalam hati seseorang dan itu akan diperoleh dengan taat kepada Allah Ta’ala.

Oleh : Gusnardi

Mahasiswa fakultas Ahwal Syakhshiyyah

 

 

 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *