INILAH SEJATINYA YANG SEDANG KAU HADAPI

gelas

            Pernahkah kita menyisihkan waktu sejenak, untuk merenungkan dan memikirkan ke mana akan kita bawa diri ini, merenungkan apakah hakikat segala sesuatu yang kita hadapi di dunia ini. Pagi hari kita memulai aktivitas, kemudian datang setelahnya siang hari, sore hari, dan tibalah malam hari kemudian menyusul setelahnya pagi hari, demikianlah seterusnya hingga kematian datang menghampiri.

Saudaraku, sejatinya segala sesuatu yang kita dapati dalam kehidupan di dunia ini seluruhnya adalah ujian, baik hal-hal yang tidak kita sukai ataupun hal-hal yang kita sukai. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman.’ sedang mereka tidak diuji ?” (QS. Al-‘Ankabut: 2). Imam Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan ayat tersebut, “(Ayat ini adalah) Pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala pasti akan menguji hamba-hamba-Nya yang beriman sesuai dengan tingkat keimanan mereka masing-masing, sebagaimana Rasulullah shallahu alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang shalih, kemudian yang semisal mereka, seseorang itu diuji sesuai dengan kualitasnya dalam beragama, semakin tinggi kualitasnya maka semakin berat ujiannya.” (HR.Tirmidzi, no. 2398).” (Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim, Ibnu Katsir, 3/115)

Demikianlah ketetapan atas setiap insan yang beriman, ia akan diuji, ia akan menghadapi hal-hal yang dapat mengantarkannya kepada kemuliaan di sisi Allah subhanahu wa ta’ala, mengantarkannya kepada kenikmatan yang tidak pernah disangka, ataupun sebaliknya yang dapat menenggelamkannya dalam kobaran api neraka tempat kembali orang-orang yang celaka.

Kita semua pasti akan diuji, pasti, dan pasti, karena kita adalah umat yang Allah ta’ala menjanjikan kepada kita surga yang penuh kenikmatan, dan kita tidak akan pernah memasukinya sebelum Allah subhanahu wa ta’ala munurunkan kepada kita ujian. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, ‘kapankah datang pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala itu amat dekat.” (QS. Al-Baqarah: 214)

Suatu ketika hamba yang beriman akan di uji oleh Allah subhanahu wata’ala dengan ha-hal yang tidak ia sukai, dari kekurangan harta, jiwa, bencana, dan segala kesempitan hidup. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Ingatkah kita kisah haru tentang Nabi Ayyub ‘alaihissalam? Ketika hartanya yang dahulu melimpah, namun menjadi tak tersisa, anak-anaknya pun meninggal dunia, hingga ia pun tertimpa penyakit yang seakan tak berujung. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya, ”Sesungguhnya dahulu Nabi Allah Ayyub ‘alaihissalam berada dalam ujian (berupa penyakit) selama 18 tahun.” (HR. Ibnu Hibban, Kitabul Janaiz Wama Yata’allaqu Biha Muqaddaman Wa Muakhkharan, Bab Ma Ja-a Fish Shabr, no. 2898 dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu)

Kalau kita sakit? sehari, dua hari, seminggu sembuh. Nabi Ayyub radhiyallahu ‘anhu 18 tahun bersabar menghadapi ujian tersebut, sudah barang tentu yang sakit sehari dua hari lebih layak untuk bersabar. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Maka bersabarlah dengan kesabaran yang indah.” (QS. Al-Ma’arij: 5)

Seorang hamba juga Allah subhanahu wa ta’ala uji dengan kenikmatan-kenikmatan duniawi, berupa harta, istri-istri dan anak-anak dan segala sesuatu yang menghiasi kehidupan dunia ini. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia (sebagai ujian), dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran: 14)

Kehidupan dunia seluruhnya adalah ujian… Bahkan rangkaian ibadah yang Allah subhanahu wa ta’ala tetapkan kepada kaum muslimin seluruhnya dalam kehidupan di dunia ini adalah ujian dari Allah subhanahu wa ta’ala. Ketika kita mendengar firman Allah subhanahu wa ta’ala yang artinya, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. (QS. An-Nisaa’: 36), maka ketahuilah sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala menguji hamba-hamba-Nya, siapa dari mereka yang mengesakan Allah subhanahu wa ta’ala dalam beribadah dan siapa yang menyekutukan-Nya.

Sekiranya ada di antara kaum muslimin yang mudah baginya untuk beramal shalih, maka hendaknya ia menyadari bahwasannya kemudahan tersebut adalah ujian dari Allah subhanahu wa ta’ala, apakah ia merasa telah menjadi sosok yang paling banyak amalnya, paling banyak kebaikannya, sehingga ia mendongakkan kepalanya dengan angkuh serta meremehkan dan merendahkan saudaranya, ataukah ia menjadi seorang hamba yang hatinya tulus mengharap ridha Rabbnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya, “Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan kematian dan kehidupan, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 1-2)

Tidak ada pilihan bagi setiap mukmin melainkan ia harus senantiasa bijak dalam menghadapi setiap ujian, bersabar atas hal-hal yang tidak ia sukai, dan bersyukur atas hal-hal yang ia sukai, dan senantiasa teguh dalam ketaatan kepada Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Demikianlah konsekuensi dan sifat hamba-hamba Allah ta’ala yang beriman. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Betapa mengagumkan keadaan seorang hamba yang beriman, keadaan tersebut tidak dimiliki seorang pun selain hamba yang beriman, bila ia mendapatkan kesenangan ia bersyukur, maka sesungguhnya syukur itu baik baginya, dan bila ia tertimpa musibah maka ia bersabar, dan sabar itu sesungguhnya baik baginya.” (HR. Muslim no. 5318, dari Shuhaib radhiyallahu ‘anhu)

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa menjadikan kita termasuk dalam hadits tersebut, yaitu senantiasa bersabar atas setiap ujian dan cobaan dan bersyukur atas setiap kenikmatan hingga Allah subhanahu wa ta’ala memperkenankan kita memasuki surga-Nya yang penuh kenikmatan. Aamiin.

Oleh: Irsan al-Atsary

Mahasiswa Fakultas Ahwal Syakhsiyyah


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *