INGATLAH…!

merenung4

Pergantian siang dan malam menujukkan perputaran waktu yang terus berjalan yang tidak ada hentinya. Sehari demi sehari, sebulan demi sebulan dan setahun demi setahun, hal ini berarti umur manusia semakin berkurang dan ajal semakin medekat ,baik disadari maupun tidak disadari. Marilah kita merenungi sejenak firman Allah Ta’ala yang artinya:” Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.(QS. Al- Isra’: 36)

Ayat di atas mengisyaratkan kepada kita bahwa sepatutnya seorang mukmin menghisab dirinya( introspeksi) atas apa – apa yang telah ia perbuat sebelum Allah Ta’ala menghisabnya di akhirat kelak.

Maka pada tulisan akan dipaparkan tentang muhasabah , sehingga setiap muslim mengetahui betapa pentingnya muhasabah serta apa – apa yang harus dimuhasabah.

Pengertian Muhasabah

Muhasabah berasal dari kata” hasiba “yang artinya menghisab atau menghitung. Dalam penggunaan katanya, muhasabah diidentikan dengan menilai diri sendiri atau mengevaluasi, atau introspeksi diri. Sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala yang artinya:” “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiapbdiri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS.Al-Hasyr :18)

Firman AllahTa’ala di atas tersirat suatu perintah untuk senantiasa melakukan muhasabah supaya hari esok akan menjadi lebih baik.

Urgensi Muhasabah

Tidak diragukan lagi bahwa kematian merupakan sebuah kepastian yang telah ditetapkan oleh Allah kepada semua makhluk. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman yang artinya:“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan kematian“ (QS. Ali Imran. :185)

kemudian sesudah mati, kita akan dihidupkan kembali, sebagaimana firman-Nya yang artinya :”Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan sesudah mati “ (QS. Hud : 7)

Diantara hikmah Allah Ta’ala membangkitkan seluruh manusia adalah bahwa Allah Ta’ala akan meminta pertanggung jawaban atas semua perbuatan mereka, baik yang berhubungan ibadah maupun muamalah.

Oleh karena itu melakukan muhasabah atau introspeksi diri merupakan hal yang sangat penting untuk menilai apakah amal perbuatannya sudah sesuai dengan ketentuan Allah atau menyelisihi perintahNya.

Macam- macam muhasabah

Muhasabah (introspeksi) pada jiwa ada dua macam: sebelum beramal dan setelah beramal.

  1. Muhasabah sebelum beramal

Muhasabah sebelum beramal yaitu hendaknya seseorang menahan diri dari keinginan dan tekadnya untuk beramal, tidak terburu-buru berbuat hingga jelas baginya bahwa jika ia mengamalkannya akan lebih baik daripada meninggalkannya.

Al-Hasan rahimahullah mengatakan: “Semoga Allah merahmati seorang hamba yang berhenti untuk muhasabah saat bertekad untuk berbuat sesuatu. Jika amalnya karena Allah, maka ia terus melaksanakannya dan jika karena selain-Nya ia mengurungkannya”. Sebagian mereka (ulama) menjabarkan ucapan beliau seraya mengatakan: “Jika jiwa tergerak untuk mengerjakan suatu amalan dan seorang hamba bertekad melakukannya, maka ia mestinya berhenti sejenak dan melihat, apakah ia mampu mengamal amalan tersebut atau tidak? Jika ia tidak mampu, maka ia tidak melakukannya , tetapi kalau mampu maka ia berhenti lagi untuk melihat apakah melakukannya lebih baik daripada meninggalkannya atau bahkan meninggalkannya lebih baik?. (Ighatsatul Lahafan: oleh Ibnu Qoyyim)

Adapun jika perkara tersebut wajib maka dilakukan sesuai kemampuannya. Sedankangkan jika perkara tersebut haram maka ia harus menjauhinya.

2.Muhasabah setelah amal

Muhasabah setelah beramal, terbagi dalam tiga macam:

Pertama: muhasabah pada amal ketaatan yang ia lalaikan dari hak- hak Allah Ta’ala yang wajib ia tunaikan, namun ia tidak melakukannya sebagaimana semestinya.

Hak Allah Ta’ala pada sebuah amal ketaatan ada enam: ikhlas dalam beramal, niat baik kepada Allah, mengikuti Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, berbuat baik , mengakui nikmat Allah Ta’ala padanya, mengakui adanya kekurangan pada dirinya dalam beramal. Setelah itu ia memuhasabah dirinya, apakah ia telah memenuhi hak-hak itu atau ia masih melalaikannya?

Kedua: muhasabah jiwa dalam setiap amalan yang lebih baik ditinggalkan daripada dikerjakan.

Ketiga: muhasabah jiwa dalam perkara yang mubah atau yang biasa. Mengapa ia melakukannya?, apakah ia niatkan karena Allah Ta’ala dan negeri akhirat, sehingga ia beruntung?, atau ia inginkan dengannya dunia dan balasannya yang cepat sehingga ia kehilangan keberuntungan itu?.( Ighatsatul Lahafan: oleh Ibnu Qoyyim)

Aspek-aspek yang perlu dimuhasabah

Muhasabah diri meliputi seluruh aspek kehidupan kita, baik yang berhubungan dengan Allah Ta’ala (ubudiyah) maupun hubungan dengan sesama manusia (muamalah) yang mengandung nilai ibadah. Aspek-aspek tersebut diantaranya adalah:

  1. Aspek Ibadah yang berhubungan dengan AllahTa’ala

Dalam pelaksanaan ibadah ini harus sesuai dengan ketentuan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya dan juga melihat sejauh mana kualitas ibadahnya. Dalam hal ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda : “ Barangsiapa yang mengamalkan suatua amalan yang tidak didasari perintah kami, maka ia tertolak”. (HR.Bukhari dan Muslim)

  1. Aspek Pekerjaan & Perolehan Rizki

Aspek ini sering dilupakan bahkan ditinggalkan dan tidak dipedulikan. Karena aspek ini diangggap semata-mata urusan duniawi yang tidak memberikan pengaruh pada aspek ukhrawinya.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘’Tidak akan bergerak telapak kaki ibnu Adam pada hari kiamat, hingga ia ditanya tentang lima perkara; umurnya untuk apa dihabiskannya, masa mudanya kemana dipergunakannya, hartanya darimana ia memperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, dan ilmunya sejauh mana pengamalannya.’’(HR. Tirmidzi ,hasan)

  1. Aspek Kehidupan Sosial

Aspek kehidupan sosial dalam artian hubungan muamalah, akhlak dan adab dengan sesama manusia. Karena kenyataannya aspek ini juga sangat penting sebagaimana yang digambarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah hadits Beliau bersabda: “Tahukah kalian siapa sebenarnya orang yang bangkrut?”. Para sahabat menjawab: “Orang yang bangkrut menurut pandangan kami adalah seorang yang tidak memiliki dirham (uang) dan tidak mermliki harta benda”. Kemudlan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata:“Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari Kiamat membawa pahala shalat, pahala puasa dan zakatnya, (tapi ketika hidup di dunia) dia mencaci orang lain, menuduh orang lain, memakan harta orang lain (secara bathil), menumpahkan darah orang lain (secara bathil) dan dia memukul orang lain, lalu dia diadili dengan cara kebaikannya dibagi-bagikan kepada orang ini dan kepada orang ini (yang pernah dia zhalimi). Sehingga apabila seluruh pahala amal kebaikannya telah habis, sebelum tertunaikan apa yang harus ia tunaikan, maka dosa-dosa mereka (yang pernah dia zhalimi) ditimpakan kepadanya dan (pada akhirnya) dia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR.Muslim)

Apabila melalaikan aspek ini, maka pada akhir hayatnya adalah orang akan membawa pahala amal ibadah yang begitu banyak, namun bersamaan dengan itu, ia juga membawa dosa yang terkait dengan interaksinya yang negatif terhadap orang lain.

Oleh karena itu marilah kita introspeksi diri kita dan merenungi atas kelalaian dan keteledoran kita terhadap perintah – perintah Allah Ta’ala, serta beristighfar atas kesalahan – kesalahan kita.

Maraji’ :   Tazkiyatun Nafs oleh DR.Ahmad Farid

                   Ighatsatul Lahafan oleh Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah rahimahullah

Oleh: Dedi

Mahasiswa Fakultas Ahwal Syakhsiyyah

 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *