HAK SUAMI DAN ISTRI DALAM RUMAH TANGGA

suami-istri 

Peristiwa karamnya bahtera keluarga merupakan tragedi memilukan yang sering kita saksikan dalam kehidupan rumah tangga. Betapa banyak rumah tangga yang semula dibangun indah bertabur kasih sayang, namun akhirnya kandas sebelum mencapai finish, rumah tangga hancur berantakan diombang-ambingkan oleh badai tak terarah.

Banyak faktor yang menjadi penyebab hal seperti ini, di antaranya adalah kurangnya perhatian suami/istri terhadap hak-hak pendampingnya, sehingga masing-masing merasa jauh dari ketentraman lantaran hak-haknya tidak terpenuhi. Sebaliknya, betapa banyak keluarga sederhana yang hidup pas-pasan, namun rumahtangganya indah berhias rasa damai dan tenteram tatkala masing-masing suami istri mengerti dan menunaikan hak pendampingnya.

Oleh karenanya, penting kiranya kita mengetahui hak dan kewajiban dalam rumah tangga, agar lebih mudah menggapai harapan dalam berkeluarga.

Hak istri atas suami

Di antara hak seorang istri atas suaminya adalah:

  1. Dipergauli dengan baik

Secara pembawaan kodrat, wanita diciptakan di atas fitrah yang sensitif dan emosional. Oleh karenanya, seorang suami dituntut untuk mepergauli istri dengan baik dan lemah lembut agar tercipta suasana hati yang teduh serta jiwa yang tenang. Allah Ta’ala memerintahkan :“Dan bergaullah dengan mereka secara patut.” (QS. An Nisa: 19)

Dan begitu juga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan hal demikian. Beliau bersabda, “Pergaulilah istri-istri kalian dengan baik, sebab mereka tercipta dari tulang rusuk. Tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian atas. Jika kalian berupaya meluruskannya, bisa jadi malah mematahkannya. Namun jika kalian membiarkannya ia akan tetap bengkok. Maka pergaulilah istri-istri kalian dengan baik.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Suami yang arif dan bijaksana mesti sadar akan fitrah ini, dia akan menerima sifat ini serta menyikapinya dengan bijak, bukan dengan sikap kasar apalagi membabi buta.

  1. Mendapat nafkah dari suami

Rasulullah Shallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya, apa hak istri atas suami?” Beliau menjawab, “Engkau harus mencukupi makanannya jika engkau makan, mencukupi kebutuhan pakaiannya, jangan memukul wajahnya, jangan memakinya dan jangan mendiamkannya kecuali dirumah.” (HR. Abu Daud, dihasankan oleh Al-Albani)

Hadist di atas menerangkan bahwa memberi nafkah adalah kewajiban suami, meskipun sang istri adalah seorang hartawan.

  1. Mendapat nafkah biologis

Di antara kewajiban suami adalah memenuhi kebutuhan biologis istri. Ia tidak boleh menelantarkannya tanpa sebab yang dibenarkan. Karena, hal itu berarti menzhaliminya, meskipun alasan suami adalah untuk berkonsentrasi dalam ibadah. Hal demikian menurut Islam tetap tidak boleh.

Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu ,Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: “ Hai Abdullah! Benarkah berita bahwa engkau terus berpuasa di siang hari dan shalat di malamnya?” Aku berkata: “Benar ya Rasulullah.” Beliau bersabda: “Jangan berbuat demikian! Berpuasalah dan berbukalah. Shalatlah, tapi juga tidurlah. Sebab fisikmu, matamu dan istrimu memiliki hak atasmu.” (HR. Bukhari)

  1. Memperoleh pembagian yang adil

Suami yang memiliki istri lebih dari satu, wajib berbuat adil di antara istri-istrinya. Sebab Allah Ta’ala mensyaratkaan kemampuan berlaku adil bagi orang yang ingin memadu istrinya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (QS.An – Nisa’ :2-3)

Kecuali pembagian cinta dan hati dan apa- apa yang tidak bisa dikuasainya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala yang artinya:” Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri- istri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. (QS. An –Nisa’:129)

Hak suami atas istri

  1. Menaati suami

Ketaatan terhadap suami merupakan syariat yang Allah Ta’ala tetapkan atas para istri. Mereka diwajibkan untuk menaati suami selama tidak keluar dari jalur syariat. Hal ini tidak lain hanyalah untuk menggapai kemaslahatan dan menghindari keburukan. Oleh karenanya, pantaslah kiranya Allah Ta’ala memberikan apresiasi dan balasan yang baik pula kepada para istri yang senantiasa taat kepada suami.

Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersada :“Jika seorang istri menunaikan shalat lima waktu dan memelihara kemaluannya dan taat kepada suami,maka dia akan masuk surga melalui pintu mana saja yang ia kehendaki (HR.Ibnu Hibban, dishahihkan syaikh Albani dalam Al-Misykah)

  1. Hendaknya istri tidak menolak hajat biologis suami.

Diantara tujuan nikah adalah tercapainya penyaluran biologis suami-istri. Ia merupakan hal yang mendasar bagi manusia di muka bumi ini. Sang istri tidak boleh menolak ajakan suami kapan pun ia berkahendak untuk menyalurkan hajat biologisnya selagi tidak ada halangan-halangan syar’i padanya. Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersada : ” Apabila seorang suami mengajak istrinya ke ranjang kemudian ia enggan memenuhi ajakannya, sehingga suaminya marah kepadanya, maka para malaikat akan melaknatinya hingga hingga pagi hari.” (HR.Bukhari dan Muslim)

  1. Seorang istri tidak boleh keluar ruamah tanpa seizin suaminya.

Hal ini sebagaimana yang telah disabdakan oleh panutan kita, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam: ”Tidak halal seorang istri mengizinkan orang lain memasuki rumahnya sedang suaminya membenci hal itu. Dan ia tidak boleh keluar rumah sedang suami tidak menyukainya.” (HR.Bukhari dan Thabrani)

  1. Menjaga harta suami.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :“Sebaik-baik perempuan yang menunggang unta adalah perempuan quraisy yang shalihah,yaitu yang paling sayang kepada anaknya di masa kecil,serta yang paling pandai menjaga harta benda suaminya.(HR. Bukhari dan Muslim)

Tak sebatas teori

Tatkala bebicara masalah teori, barangkali banyak kaum muslimin yang sudah mengetahui hak dan kewajiban suami-istri secara mendalam, lebih dari sekedar apa yang disebutkan di atas. Namun wahana keilmuan tidak sebatas untuk diketahui saja, lebih dari itu ilmu yang bermanfaat dikenal untuk diamalkan.

Dalam tulisan ini tiada sesuatu yang baru, tulisan ini hanyalah sekedar mengulang dan mengingatkan. Sebab setiap orang sudah mengetahui dan memahaminya. Namun, siapa suami – istri yang berkenan mengamalkannya? Dimanakah gerangan rumah tangga yang bersedia merealisasikannya?.

Inilah sebenarnya yang menjadi kunci utama kesuksesan dalam berumah tangga. Sebab berapa banyak kaum muslimin yang sudah berilmu, atau bahkan memiliki gelar keilmuan yang tidak rendah, namun mereka masih gagal dalam membina rumah tangganya lantaran tidak mengamalkan ilmunya.

Meskipun tulisan ini belum mewakili seluruh pembahasan tentang hak dan kewajiban suami istri, namun semoga yang sedikit ini memberikan manfaat bagi kita semua.

Referensi utama: Tuhfatul ‘arus, oleh Majdi Muhammad Asy Syahawi.

Oleh: Agus

Mahasiswa Fakultas Ahwal Syakhsiyyah


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *