GERHANA

gerhana_matahari1_tugino

Masyarakat Indonesia telah meyaksikan fenomena alam, gerhana matahar, 20 Mei 2012. Ini merupakan gerhana matahari pertama tahun ini. Namun untuk wilayah Indonesia bukan penampakan seperti cicin yang terlihat melainkan gerhana matahari sebagian. Beginilah berita yang dirilis oleh SoloPos selasa 8/5/2012 silam (www.solopos.com) menunjukkan antusias masyarakat menyaksikan gerhana. Lantas apa itu gerhana dan ada apa dibalik itu semua?

Gerhana bukan kata pendatang baru di telinga kita, ia kerap kali hinggap dan membuat penasaran kita ingin menyaksikannya.

Gerhana merupakan fenomena astronomi, yang mana sebuah benda angkasa bergerak ke dalam bayangan sebuah benda angkasa lain. Gerhana tidak hanya terjadi pada matahari atau bulan melainkan juga pada benda angksa lainnya. Namun, istilah ini umumnya digunakan untuk gerhana Matahari ketika posisi Bulan terletak di antara Bumi dan Matahari, atau gerhana bulan saat sebagian atau keseluruhan penampang Bulan tertutup oleh bayangan Bumi. (http://id.wikipedia.org/wiki/Gerhana).

Pada tulisan kali ini kita tidak membahas tentang gerhana secara sains karena sudah banyak yang membicarakannya, bahkan sejak dahulu Ibnu Hajar rahimahullah dan lainnya sudah membicarakan penyebab alamiah terjadinya gerhana dalam kitabnya ( Fathul Bari). Namun lebih jauh daripada itu kita akan berbicara tentang hikmah gerhana, apa tujuan dibalik fenomena gerhana, dan apa yang harus kita lakukan jika terjadi gerhana, baik gerhana matahari maupun bulan, karena hanya itu yang dapat kita saksikan.

Hikmah dibalik gerhana

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesunggunhnya matahari dan bulan merupakan bukti kekuasaan Allah, keduanya tidak mengalami gerhana untuk menunjukkan kematian atau kelahiran seseorang. Namun, lebih dari itu, Allah melakukannya untuk mengigatkan hambanya agar kembali sadar dan takut pada Allah”. (HR. Bukhari: 1048).

Dalam hadits ini sangat jelas tujuan gerhana bukan untuk hal sepele, diberitakan di media kemudian disaksikan tanpa ada pengaruh pada keimanan. Tapi, hikmah adanya gerhana adalah agar kita merenungi kembali nikmat Allah Ta’ala berupa cahaya matahari dan bulan. Sekiranya Allah Ta’ala mengambil nikmat ini, maka berakhirlah kehidupan dunia ini. Dan agar kita merenungi kembali kebesaran Allah Ta’ala yang telah menciptakan keduanya untuk kita, dan agar kita takut kepada Allah Ta’ala yang Maha perkasa dengan beristighfar dan meningkatkan kualitas ibadah kepada Allah Ta’ala pemilik jagat raya.

Oleh karenanya ketika gerhana matahari terjadi dimasa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, Beliau merasa cemas, kemudian Beliau bergegas ke masjid dan memerintahkan kaum muslimin untuk menegakkan shalat dengan berjamaah, maka Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam shalat dengan sangat panjang. Para sahabat saat itu juga ketakutan, mereka menangis, berdoa dengan khusyu’ dihadapan Allah Ta’ala yang maha perkasa (Syahul mumti’). Namun, sayangnya saat ini fenomena gerhana tidak lebih dari sekedar hiburan yang tak begitu berarti. Nas alullahas salamah.

Apa yang harus kita perbuat:

Ada beberapa hal yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika terjadi gerhana:

  1. Meperbanyak do’a, istingfar, takbir, dzikir, sedekah dan amal ibadah lainnya. ( Shahih Fiqh Sunnah). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila kalian melihat gerhana, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, dan dirikanlah shalat…”(HR. Bukhari: 1044)
  2. Pergi menuju Masjid, baik kaum pria dan wanita untuk mendirikan shalat gerhana berjamah. ( Bukhari: 1053-1056) Namun, jika dalam suatu daerah tidak ada yang melaksanakannya secara berjamaah, maka anda boleh melaksanakannya sendirian. (Al Mughni,oleh Ibnu Qudamah)
  3. Disunnahkan untuk menyeru jamaah dengan mengumandangkan “Innas sholata jaamia’h”, artinya: shalat dengan berjamaah akan segera dimulai. ( Bukhari: 1045)

Dan tidak disyariatkan azdan atau iqamah( Fathul Bari)

  1. Kemudian shalat dua rakaat dengan berjamaah.

Tata cara shalatnya seperti shalat biasa, takbir,membaca iftiftah, alfatihah, dan ayat dari Al- Qur’an, kemudian ruku’ dan bangkit dari ruku’ dengan membaca samiallahuliman hamidah, rabbana walakal hamdu, ( Al Mughni dan Raudhatut Thalibin, oleh Imam Nawawi rahimahullah) seperti biasa .

Hanya saja, setelah ruku’ dan bangkit dari ruku’, ja