FIKIH BERKURBAN

big cow

Berkurban merupakan syariat yang telah ada semenjak jaman Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, ketika itu beliau berniat untuk menyembelih putranya sendiri  Nabi Ismail ‘alaihissalam atas perintah Allah Ta’ala. Akan tetapi atas kuasa-Nya, jasad Nabi Isma’il ‘alaihissalam diganti dengan sembelihan yang besar (sejenis domba atu semisalnya). Kemudian setelah itu sunah ini turun-temurun berlanjut sampai pada anak cucunya, termasuk Nabi Muhammmad shalallahu ‘alaihi wasallam. Maka jadilah amal ini sebuah ketetapan syariat  yang berlandaskan hukum. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Maka shalatlah untuk rabb-Mu dan berkurbanlah(QS. Al-Kautsar : 2)

Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa maksud ayat di atas adalah menyembelih hewan setelah Shalat Idul Adha, atau yang lebih kita kenal dengan sebutan “berkurban”, dan dalam kaca mata khazanah keilmuan Islam masuk dalam pembahasan bab “UDH-HIYAH”

Makna Udh-hiyah

Udh-hiyah  adalah hewan ternak yang disembelih pada hari Idul Adha dan hari Tasyrik (tanggal 11, 12, dan 13)  dalam rangka  mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala karena datangnya hari raya tersebut. (Al-Wajiz, 405 )

Hukum Berkurban

Para ulama berbeda pendapat mengenai  hukum berkurban. Di antara mereka ada yang mengatakan wajib dan ada yang mengatakan sunah yang sangat dianjurkan.  Tetapi semuanya bersepakat bahwa amalan yang mulia ini disyariatkan dalam Islam. Maka tidak sepatutnya bagi setiap muslim yang mampu  untuk berkurban meninggalkan amalan ini, dimana terdapat keutamaan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, mengagungkan syiar-syiar Islam dan manfaat besar  lainnya.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya,  “Barang siapa memiliki kemampuan  (harta) dan tidak berkurban, maka jangan mendekati tempat shalat kami.”  (HR. Ibnu Majah No. 2532, hasan).  Dalam riwayat lain, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berkurban dengan dua ekor kambing yang gemuk, beliau menyembelihnya dengan tangan beliau sendiri, dengan cara membaca bismillah dan bertakbir seraya meletakan kakinya pada kedua leher kambing.” (Muttafaq ‘alaih)

Perihal  Hewan  Kurban

  1. Harus dari hewan ternak

Hewan kurban tidak boleh kecuali dari sapi, kambing (dari berbagai jenis), dan unta. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala yang artinya, “Dan bagi tiap-tiap umat telah kami syariatkan penyembelihan  (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan  oleh Allah kepada mereka ….”  [QS. Al-hajj : 34 ]. Ibnu katsir, seorang pakar tafsir Islam pad abad ke-8  menyebutkan bahwa hewan ternak  yang dimaksud adalah sapi, kambing, dan unta.

  1. Harus mencapai usia musinnah dan jadza’ah

Hal ini didasarkan sabda Nabi shalallhu ‘alaihi wasallam yang artinya, Janganlah kalian menyembelih hewan (kurban) kecuali musinnah. Kecuali apabila itu menyulitkan kalian maka kalian boleh menyembelih domba jadza’ah.” (Muttafaq ‘alaih)

Musinnah adalah hewan ternak dewasa yang sudah layak  untuk disembelih, perinciannya sbb; 1). Unta berusia sekitar  5  tahun, 2). Sapi berusia sekitar  2 tahun, 3). Kambing berusia  sekitar  1 tahun.

Sedangkan hewan jadza’ah (hewan yang cukup umur untuk disembelih, pent) kira-kira seumuran domba yang telah tanggal giginya atau minimal berusia sekitar 6 bulan (wallahu a’lam. (Syarhul mumti’: 7/460)

  1. Tidak Cacat

Klasifikasi ketidakcacatan ini tertuang dalam hadis Nabi shalallhu ‘alaihi wasallam yang artinya, “Ada empat hewan yang yang tidak beleh dijadikan hewan kurban;  buta sebelah yang jelas butanya, sakit yang jelas sakitnya, pincang yang jelas pincangnya, dan hewan  yang kurus tidak bersum-sum.” (HR. Abu Dawud, sahih).  Empat jenis hewan ini  bukan pembatasan, tapi bisa dikiaskan dengan semisalnya atau yang lebih parah dari itu. wallahu  a’lam

  1. D. Berkualitas terbaik

Hendaknya  setiap muslim untuk selalu mengingat bahwa semua kurban itu diniatkan hanya kepada Allah Ta’ala. Maka apakah pantas kalau persembahannya adalah sesuatu yang tidak bermutu lagi hina?  Sedangkan Dzat yang dituju adalah Maha Agung lagi memiliki segala sifat kemuliaan dan kesempurnaan. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, Wahai orang-orang yang beriman, berinfaklah dari sebagian yang baik  dari usaha kalian dan dari apa yang kami tumbuhkan di  atas muka bumi untuk kalian. Janganlah kalian memilih yang buruk  lalu kalian infakkan, padahal kalian tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata. Ketahuilah sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha terpuji. (QS. Al-Baqarah : 267 )

Jumlah Hewan Kurban

  1. Satu kambing mewakili satu keluarga

Dari sahabat yang mulia Abu Ayyub Al-Anshari radiallahu ‘anhu menceritakan  bahwa dahulu ada seseorang pada jaman Nabi shalallhu ‘alaihi wasallam menyembelih seekor kambing untuk dirinya sendiri  dan keluarganya. (HR. At-Tirmidzi, Sahih)

 

  1. Satu unta atau sapi mewakili kurban tujuh orang dan keluarganya

Jabir bin Abdillah radiallahu ‘anhu mengatakan, “Kami dahulu bersama Nabi pernah menyembelih seekor unta gemuk untuk tujuh orang dan seekor sapi  untuk tujuh orang pula pada tahun Al-Hudaibiyyah.” (HR. Muslim)          

Waktu Penyembelihan

Penyembelihan dilakukan setelah setelah Imam (penguasa  atau pemimpin suatu negeri) menyembelih,  atau setelah shalat Idul Adha. Perlu di ingat bahwa sembelihan sebelum shalat  tidak sah. Dalilnya adalah sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam yang artinya, “Barang siapa menyembelih sebelum shalat (Idul Adha) maka sembelihan  untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari). Adapun batas akhir penyembelihannya adalah tanggal 13 Dzulhijjah sebelum terbenamnya  matahari.

Cara Penyembelihan

  1. Sebaiknya pemilik kurban menyembelih hewan kurbannya sendiri
  2. Jika pemilik hewan tidak bisa menyembelih, hendaknya ia datang menyaksikan penyembelihannya
  3. Menajamkan alat sembelihan dan memperlakukan hewan dengan baik
  4. Menjauhkan alat sembelih dari hewan kurban
  5. Menghadapkan hewan kurban ke kiblat
  6. Berdo’a sebelum penyembelih, bisa dengan lafaz Bismillah Allahu akbar”  (HR. Muslim), atau dengan, “ Bismillah Allahu akbar, Allahumma hadza minka wa laka” (HR. Abu Dawud, sahih).

Inilah sepintas gambaran tentang fikih berkurban. Semoga Allah Ta’ala memberikan ilmu yang bermanfaat dan memberikan taufik-Nya kepada kita untuk  mengamalkannya  dan mempraktekkannya dalam kehidupan nyata. Amiin

 

referensi  : Syarhul mumti’ karya syaikh ‘Utsaimin, Al-Wajiz fi fiqhi As-Sunnah wal Al- Kitab Al-Aziz karya syaikh Abdul ‘Azhim Al-Badawi .

Penyusun: Fadly Gugul

 

 

 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *