DIBALIK UCAPAN NATAL

nata

Islam adalah agama yang sempurna, paripurna dalam segala sisi kehidupan. Tidak lekang oleh waktu, tidak lapuk oleh zaman, berdiri kokoh kapan pun dan di mana pun dia berada. Mengapa demikian wahai saudaraku? Jawabannya tidak ragu lagi adalah karena Allah Subhanahu wata’ala telah menyempurnakan dan menjaga agama yang hanif ini. Serta utusan-Nya yang mulia Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah meninggalkan umat ini di atas lempengan putih, malamnya seperti siangnya, tidak ada yang berpaling darinya kecuali akan binasa.

Hari ini salah satu umat di dunia, tak terkecuali di negeri kita ini sedang mengadakan sebuah peristiwa besar, peristiwa yang berhubungan erat dengan prinsip agama dan inti keimanan mereka. Diperingati dan dirayakan setiap tanggal 25 Desember setiap tahunnya. Hari ini dinamakan dengan hari Natal. Lantas bagaimanakah sikap yang benar seorang muslim terhadap hal tersebut. Apakah perlu merayakannya dan ikut bergabung bersama mereka ataukah cukup mengucapkan selamat sebagai bentuk toleransi diantara umat beragama dalam nuansa hubungan sosial? Alhamdulillah jawabannya tidak ada pada keduanya.

Hakikat Natal

Hari Natal adalah bagian prinsip-prinsip agama Nasrani. Mereka meyakini bahwa di hari inilah Yesus Kristus dilahirkan. Di dalam bahasa inggris disebut dengan Christmas, Christ berarti kristus, sedangkan mass berarti masa atau kumpulan. Jadi dapat dipahami bahwa pada hari itu banyak orang yang berkumpul mengingat dan merayakan hari kelahiran kristus. Dan kristus menurut keyakinan mereka adalah Allah yang menjelma. Subhanallah! Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan.

Maka masih pantaskah bagi seorang muslim yang lurus hatinya, hanif jiwanya untuk mempertaruhkan bahkan mengotori dan merusak aqidahnya hanya dengan dalih toleransi atau menjaga perasaan, atau merekatkan hubungan sosial antar umat beragama. Hal ini tidak lain dan tidak bukan adalah pengotoran dan perusakan aqidah Islamiyah yang disusupkan oleh orang-orang zindik yang benci terhadap kesempurnaan dan kemurnian ajaran Islam.

Salah Kaprah

Alquran maupun Sunnah banyak menganjurkan kaum muslimin untuk senantiasa berbuat baik kepada semua orang, bahkan terhadap orang kafir sekalipun selama mereka tidak mengganggu umat Islam. Allah Ta’ala berfirman: “Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-mumtahanah: 8)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sayangilah orang yang ada di bumi maka yang di langit akan menyayangimu.” (HR. Abu Dawud, shahih) Di dalam hadis yang lain beliau bersabda: “Barang siapa yang menyakiti seorang dzimmi maka aku akan menjadi lawannya pada hari kiamat.” (HR. Mulim)

Tapi bukan berarti perbuatan baik kepada mereka harus masuk ke dalam prinsip-prinsip agama atau keyakinan mereka, karena batasan di dalam hal ini sudah sangat jelas dan tegas digariskan oleh Allah Ta’ala, Allah berfirman: “ Untukmu agamamu dan untukku agamaku.” (QS. Al-kafirun: 6)

Konsekuensi Ucapan Selamat Dan Hukumnya

Selamat hari natal itu termasuk dukungan. Sebagaimana di dalam ucapan itu terdapat rasa kasih sayang kepada mereka, menuntut kecintaan, serta menampakkan keridhaan terhadap mereka dan syiar-syiar mereka. Mengapa demikian? Karena pemberian ucapan selamat Natal baik dengan lisan, telepon, sms, email, ataupun pengiriman kartu berarti sudah memberikan pengakuan terhadap mereka dan rela dengan prinsip-prinsip agama mereka. Hal ini telah dilarang oleh Allah ‘Azza wa Jalla dalam firman-Nya: “Jika kamu kafir (ketahuilah) maka sesungguhnya Allah tidak memerlukanmu dan Dia tidak meridhoi kekafiran hamba-hambaNya.” (QS. Az-zumar: 7)

Jadi, jelaslah bagi seorang muslim bahwasanya tidak boleh mengucapkan selamat hari Natal kepada orang-orang Nasrani dan haram hukumnya pemberian ucapan selamat tersebut, baik ia adalah kerabat dekat, teman dekat, tetangga, ataupun yang lainnya, karena hal itu berarti tolong-menolong di atas dosa. Sungguh Allah Ta’ala telah melarang kita dari hal itu, Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Al-maidah: 2)

Allah Ta’ala juga melarang berkasih sayang dan berloyalitas terhadap orang-orang kafir,”Engkau (Muhammad) tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapaknya, anaknya, saudaranya atau keluarganya. Mereka itulah orang yang dalam hatinya telah ditanamkan Allah keimanan dan Allah telah menguatkan dengan pertolongan.” (QS. Al-mujadalah: 22)

Konsistensi Menjaga Aqidah Mereka

Ketika seorang Nasrani datang pada saat Idul Fitri dan mengucapkan “Selamat Idul Fitri”, sesungguhnya tidak ada pelanggaran aqidah yang dilakukan oleh orang Kristen tersebut terhadap agamanya. Mereka sangat menyadari hal ini. Jadi jangan heran ketika mereka sangat antusias ikut serta dalam perayaan Idul Fitri, karena tidak ada pelanggaran apapun dalam iman mereka. Tapi justru ini menjadi pintu masuk untuk menunjukkan bahwa mereka sangat toleran terhadap umat Islam dan secara tidak langsung juga menuntut agar umat Islam pun toleran terhadap mereka, dan agar seorang muslim tidak menolak ketika mereka mengajak untuk berpatisipasi dalam Natal. Tapi coba perhatikan wahai saudaraku! adakah mereka mau mengucapkan selamat Idul Adha? Tentu tidak pernah, dan mereka tidak akan mau. Karena ketika seorang Nasrani mengucapkan selamat Idul Adha kepada muslim, maka ia telah melanggar prinsip keimanan mereka. Mengapa demikian? Apa rahasia dibalik itu?. Rahasianya adalah karena bagi umat Islam, Idul Adha merupakan peringatan atau sebuah pelajaran yang merefleksikan peristiwa keikhlasan dan loyalitas Nabi Ibrahim ‘alaihissalam kepada Allah Ta’ala dengan mengikhlaskan putranya yang sangat disayanginya Nabi Isma’il ‘alaihissalam untuk disembelih. Namun dalam keimanan Nasrani, putra tunggal Nabi Ibrahim adalah Nabi Ishaq ‘alaihissalam. Agama mereka tidak mengakui Nabi Isma’il sebagai putra Nabi Ibrahim. Keyakinan mereka menyatakan bahwa putra yang akan disembelih oleh Nabi Ibrahim adalah Nabi Ishaq bukan Nabi Isma’il ‘alaihissalam. Sehingga, jika seorang Kristen mengucapkan selamat Idul Adha berarti ia telah mengingkari ayay-ayat dalam kitab suci mereka, yang berkonsekuensi menodai keimanan mereka terhadap firman Tuhannya. Dan hingga saat ini mereka sangat konsisten mempertahankan keimanan mereka. Sebagaimana kesaksian mantan seorang Nasrani maupun orang yang hidup di daerah yang mayoritas penduduknya beragama Nasrani. Sesungguhnya hanya orang berakal dan memiliki pandangan lah yang dapat mengambil pelajaran. Semoga Allah menunjukkan kepada kita dan kaum muslimin semuanya ke jalan yang lurus, Amin.

Oleh: Ibnu Tawakal

Mahasiswa Fakultas Ahwal Syakhshiyyah