CINTAKU HANYA UNTUKMU

 cinta

“Sayangku…tidak ada yang kucintai di dunia ini selain dirimu. Aku mengorbankan jiwa ragaku hanya untukmu”. Begitulah kira – kira seorang lelaki merayu kekasihnya yang mungkin sedang marah. walaupun kata – kata yang semisal ini sering kita dengar dan kita jumpai. Hal tersebut mempunyai konsekwensi besar,ketika seorang lelaki bersedia mengorbankan semua yang dia miliki untuk kekasihnya. Tentunya hal ini merupakan peristiwa yang ironis dan krisis.

 

Macam – macam rasa cinta

Syaikh Shalih Al- Fauzan hafizhahullah menjelaskan aneka ragam rasa cinta dalam kitabnya Al- Irsyad ila shahihil ‘itiqad hal 81 – 86, sebagai berikut :

  1. Rasa cinta yang bersifat tabi’at yang dimiliki setiap manusia seperti perasaan seseorang yang kelaparan terhadap makanan atau seseorang yang kehausan terhadap air.
  2. Rasa cinta yang yang bersifat kasih sayang, seperti perasaan seorang bapak terhadap anaknya atau seorang suami terhadap istrinya.
  3. Rasa cinta yang bersifat kepedulian dan empati, seperti perasaan diantara sesama tetangga atau diantara sesama teman.
  4. Rasa cinta yang bersifat ketundukkan, pengagungan dan pengendalian diri. Rasa cinta inilah yang bermakna ibadah dan hanya boleh dipersembahkan untuk Allah Ta’ala Berbeda dengan 3 hal yang pertama yang tidak bermakna ibadah dan pengagungan (lihat juga Taisir azizil hamid hal. 401)

 

Rasa cinta yang terlarang

Rasa cinta yang bermakna ibadah hanya boleh dipersembahkan kepada Allah Ta’ala saja. Apabila seseorang menyamakan cintanya kepada Allah Ta’ala dengan yang lainya, maka hal tersebut merupakan sebuah perbuatan syirik. Allah Ta’ala berfirman yang artinya : “Dan diantara manusia ada orang – orang yang menyembah sekutu – sekutu selain Allah , mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang – orang yang beriman sangat cinta kepada Allah melebihi rasa cinta mereka. (QS. Al- Baqarah : 165)

Dalam ayat yang mulia ini Allah menmvonis perbuatan orang – orang yang mepersembahkan rasa cintanya kepada Allah Ta’ala dan kepada selainNya dalam porsi yang sama, hal itu merupakan upaya untuk mencari sekutu – sekutu bagi Allah Ta’ala dalam peribadatan.

Bahkan Allah Ta’ala sangat murka kepada seseorang yang lebih mengutamakan keluarga dan hartanya dibandingkan mencintai Allah Ta’ala dan RasulNya, terlebih lagi apabila hal tersebut berkaitan dengan perintah dan larangan . Allah Ta’ala berfirman yang artinya : “Katakanlah : “jika bapak – bapak, anak – anak, saudara – saudara, istri – istri, kaum kerabat, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatir kerugiannya dan rumah – rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang – orang yang fasik”. (QS. At- Taubah :24)

 

Bukti cinta kepada Allah

Syaikh Shalih Al- Fauzan hafizhahullah menjelaskan tanda – tanda kecintaan seseorang kepada Allah sebagai berikut :

  1. Seseorang yang mencintai Allah akan lebih mengutamakan perkara – perkara yang dicintai oleh Allah Ta’ala daripada hal – hal yang disenangi dan dicintai oleh dirinya sendiri, berupa nafsu syahwat, kelezatan dunia, harta benda, keturunan, tempat tinggal dan lain sebagainya. Allah berfirman : “katakanlah :….orang – orang fasik” . (QS. At- Taubah :24)
  2. Seseorang yang mencintai Allah Ta’ala, maka dia akan selalu mengikuti pentunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan melaksanakan apa yang diperintahkannya dan meninggalkan apa yang dilarangnya. Allah Ta’ala berfirman : “katakanlah : “Jika kamu benar – benar mencintai Allah ikutilah Aku, niscaya Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa – dosamu”. Allah maha pengampun lagi maha penyayang. Katakanlah : “Taatilah Allah dan RasulNya, jika kamu berpaling maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang – orang kafir”. (QS. Ali Imron :31 -32)

 

Meraih kecintaan Sang Ilahi

Pepatah arab pernah mengatakan : “ Mencintai seseorang bukanlah perkara yang berharga akan tetapi menjadi seseorang yang dicintai adalah istimewa”.

Ada juga anekdot yang masyhur: “To love is nothing, to be love is something, to love and to be love is everything”.

Meraih kecintaan Allah Ta’ala merupakan cita – cita yang harus dimiliki setiap muslim, walaupun hal itu bukan perkara yang mudah. Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah rahimahullah telah menjelaskan perkara – perkara yang menjadikan seseoran g mendapatkan kecintaan dari Allah Ta’ala. Diantarannya adalah:

  1. Membaca Al – Qur’an dengan mendalami dan memahami makna yang terkandung di dalamnya.
  2. Melakukan amal ibadah,baik yang wajib ataupun yang sunnah.
  3. Senantiasa berdzikir kepada Allah Ta’ala dalam setiap keadaan dengan hati, lisan dan anggota badan.
  4. Mendahulukan hal – hal yang lebih dicintai oleh Allah Ta’ala dari perkara yang lainnya.
  5. Memahami nama – nama dan sifat Allah Ta’ala serta kemuliaan yang terkandung di dalamnya.
  6. Mentadabburi kenikmatan yang diberikan Allah kepada seluruh hambanya, baik yang lahir maupun yang batin.
  7. Menghadirkan rasa harap di dalam hati dan rasa membutuhkan pertolongan dari Allah Ta’ala.
  8. Melakukan qiyamul lail (shalat malam) dengan menyepi di sepertiga malam terakhir dan tadarus Al – qur’an pada waktu yang sama serta menutupnya dengan beristighfar dan memohon ampunan kepada Allah Ta’ala.
  9. Banyak bergaul dengan orang – orang yang sholeh dan mengambil pelajaran dari perkataan mereka.
  10. Menjauhi perkara – perkara yang dapat menyibukkan diri dari mengingat dan beribadah kepada Allah Ta’ala (lihat madarijus salikin, hal. 17)

 

Indikasi kemurnian cinta kepada Allah Ta’ala

Diantara ciri – ciri ketulusan kecintaan kita kepada Allah Ta’ala adalah:

  1. Menampakkan rasa kasih sayang dan loyalitas serta perngayoman terhadap sesama muslim. Sebagaimana kasih sayang seorang ayah terhadap anaknya.
  2. Bersikap tegas dan ketidaksenangan serta rasa permusuhan yang mendalam terhadap orang – orang kafir.
  3. Berjuang membela agama Allah Ta’ala dengan harta dan nyawa beserta seluruh kekuatan yang dimiliki.
  4. Tidak memperdulikan celaan dan makian serta hujatan dari siapapun juga dalam membela kebenaran. (Fathul majid, 307 – 308)

Demikianlah beberapa perkara ringkas yang berkaitan dengan manajemen cinta kita. Semoga yang sedikit ini bermanfaat bagi kita semua. Aamiin

Referensi utama : Al- Irsyad ila shahihil ‘itiqad, oleh Syaikh Shalih Al- Fauzan hafizhahullah

Oleh: Faisal Abdul basith

Mahasiswa Fakultas Ahwal Syakhsiyyah

 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *