BUKAN CCTV

cctv k

 

Banyak kita saksikan di berbagai media, baik itu media cetak maupun elektronik, tindakan-tindakan kriminalitas yang terekam oleh kamera CCTV atau kamera amatir, baik itu disengaja atau pun tidak disengaja. Mulai dari kasus perkosaan, tindakan asusila, pembunuhan, perampokan, tawuran antar pelajar, perkelahian antar kampung, hingga kasus kejahatan para wakil rakyat yang mereka namakan dengan istilah korupsi.

Sensasi apa yang dirasakan oleh oknum yang menjadi aktor utama dalam adegan kejahatan yang mereka lakukan, ketika semua kejahatan telah terungkap dan para pelaku telah diciduk ke rumah-rumah rehabilitasi. Apakah perasaan bangga, ataukah bahagia, puas, gembira, atau malah sebaliknya?

Tentunya kita akan merasa malu apabila pelaku kejahatan yang di ekspos di media-media tersebut adalah diri kita sendiri. Terbukti ketika kita menyaksikan layar kaca, para pelaku kejahatan yang berhasil diciduk berusaha menutup wajah mereka, dan menghindar dari sorotan kemera, menandakan bahwa mereka merasa malu, karena telah tertangkap basah melakukan kejahatan. Kecuali orang-orang yang telah putus saraf malunya, mereka yang sudah bermuka tebal, setebal bedak yang menempel di wajah-wajah artis-artis Indonesia, yang tidak lagi mengenal rasa malu, menjual harga diri mereka memamerkan bentuk tubuh mereka demi kesenangan dan ketenaran. Karena dosa dan kejahatan sudah mendarah daging dalam diri mereka, bagai parasit yang selalu melekat pada inangnya.

Namun, sebagian besar manusia yang masih terselip dalam dirinya setitik kebaikan, ketika masih ada rasa malu dalam dirinya menunjukkan bahwa mereka sadar akan kesalahan yang mereka lakukan. Namun, sayangnya rasa malu tersebut hanya bermuara kepada rasa malu terhadap sesama manusia saja.

Begitu ironis, kita merasa begitu malu ketika borok perangai kita terkuak kepermukaan, dan di saksikan oleh khalayak ramai. Namun, kita tidak merasa malu dan tidak peduli sedikit pun ketika kejahatan dan dosa yang kita lakukan terekam jelas oleh pengawasan Allah, Sang Pencipta jagat raya beserta isinya, yang mana kebesaran dan keagungan-Nya tak sebanding dengan raja mana pun di dunia, atau presiden mana pun. Pengawasan Allah tentu jauh lebih jelas dari penglihatan makhluk-Nya, bahkan dari kamera CCTV ciptaan manusia, atau kamera high definition buatan Jepang sekalipun, bahkan tidak layak untuk dibandingkan sama sekali, karena di bawah pengawasan Allah, di mana pun kita, kapan pun, dan apa pun yang kita perbuat tidak akan pernah luput dari pengawasan Allah, walau hanya sepersekian detik. Sebagaimana dalam Alquran Allah Ta’ala berfirman yang artinya :

Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi”(QS. Al-Fajr: 14)

Walau kita berada di tempat yang gelap segelap lubang buaya sekalipun, namun pengawasan dan penglihatan Allah akan tetap mengawasi setiap perbuatan kita sekecil apa pun itu.

Allah berfirman yang artinya :

Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya . Dan pengasawannya bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hadid: 4)

Bahkan para informan gaib, akan selalu mengiringi langkah kita, dan mencatat semua informasi-informasi berkaitan amalan kita dengan sangat detail, dan aktual dan akurat. Yaitu, para malaikat pencatat amalan manusia.

Maka dalam kondisi seperti inilah keyakinan seorang muslim yang lurus, sangat berperan penting, karena dengan keyakinan yang kuat yang tertanam jauh di relung hati seorang muslim tentang bagaimana hakikat dirinya di hadapan Sang Khaliq dan bagaimana hakikat Sang Khaliq terhadap dirinya, akan melahirkan sesosok muslim yang senantiasa menjaga kesuciannya dari perbuatan dosa, dan berhati-hati dalam setiap langkah yang dipilihnya, serta selalu mawas diri dalam setiap tindak-tanduknya, karena ia telah memahami benar dampak apa yang akan ia terima apabila berani melanggar aturan-aturan Allah ‘Azza wa jalla. Karena, semakin diketahuinya bahaya suatu perbuatan semakin menjadikan pelakunya lebih berhati-hati dari perbuatan tersebut, seperti halnya seseorang yang berjalan di tempat yang lincin dan berduri, tentunya ia akan sangat berhati-hati dalam setiap langkahnya, begitu pulalah dalam setiap langkah kehidupan kita.

Kalaulah seorang muslim mengetahui dan yakin akan sifat-sifat Allah ‘Azza wa jalla, dan keagungan serta kemahakuasaan-Nya, maka tidak akan sedetikpun manusia berani melangkahi batas-batas syariat yang telah ditetapkan.

Maka sepatutnya kita lebih malu ketika kita sadar bahwa kita senantiasa dalam radar pengawasan Allah, dengan rasa malu yang tertanam dari akar keyakinan kepada pengawasan Allah maka kita tidak akan berani gegabah dalam beramal.

Terlebih di zaman sekarang, ujian dan cobaan semakin berat. Kita dituntut untuk berusaha lebih keras, lebih menguatkan dan mengokohkan pondasi-pondasi keyakinan dan keimanan kita. Karena semakin tinggi pohon menjulang, semakin deras angin akan menerpa setiap dahan-dahan dan rantingnya, apabila pohon tersebut tertanam di atas tanah dan akar yang lemah, maka tidaklah pohon tersebut mampu bertahan menahan derasnya terpaan angin, begitu juga dengan keyakinan dan keimanan kita.

Sebagaimana yang telah dicontohkan oleh generasi terbaik umat ini, yaitu generasi yang telah dijamin oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagai generasi terbaik umat. Yaitu, seorang wanita muda yang sangat menjaga kesuciannya dari perbuatan dosa dan kemaksiatan, walaupun orang-orang di sekitarnya membujuk dan ingin menjerumuskannya kedalam perbuatan curang. Yang mana wanita tersebut diperintahkan oleh ibunya untuk menambahkan air kedalam susu yang akan mereka jual, demi keuntungan yang lebih, namun ia menolak perintah tersebut dengan tegas, seraya berkata: “Sesungguhnya Amirul mukminin (Umar bin Khattab) melarang perbuatan curang dalam jual beli wahai ibu,” namun sang ibu menjawab: “ lakukan saja apa yang kuperintahkan karena sesengguhnya Amirul mukminin tidak mengetahui apa yang kita lakukan” lantas wanita tersebut menasehati ibunya: “Kalaupun umar tidak mengetahui apa yang kita lakukan, namun sesungguhnya Rabbnya Umar menyaksikan perbuatan kita.” Subhanallah, sungguh tinggi keyakinan dan keimanan wanita tersebut terhadap pengawasan Allah yang meliputi seluruh perbuatan dan keadaan makhluk-Nya.

Kisah di atas dapat kita jadikan pupuk bagi hati kita, agar akar keyakinan dan keimanan kita terhadap pengawasan Sang Khaliq semakin subur serta mantap dan kokoh, sekokoh pohon yang tertanam di atas tanah dan akar yang menghujam jauh kedalam setiap lapisan tanah. Agar selamat menjalani setiap langkah kehidupan yang penuh ujian dan cobaan ini.

Oleh : binlegan

Alumni Mahasiswa fakultas Ahwal Syakhshiah

 

 

 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *