BENARKAH PERDUKUNAN ITU HALAL?

ClickHandler.ashx

                Puji syukur atas segala nikmat yang Allah berikan kepada kita, sholawat dan salam kita curahkan kepada Nabi kita tercinta Muhammad Shollallahu’alaihi wa sallam.

Kata-kata dukun, paranormal, orang pintar dan yang semisalnya sangatlah tidak asing di telinga kita, seolah-olah nama-nama tersebut sudah menjadi bagian hidup sebagian masyarakat kita pada khususnya dan masyarkat dunia pada umunya. Bahkan ada di antara mereka menggantungkan (menyandarkan) kehidupannya kepada dukun bukan hanya orang awam akan tetapi orang yang mempunyai kedudukan dan jabatan, bukan hanya anak muda bahkan orang tua, bukan hanya orang yang sehat bahkan orang yang sedang mengalami sakaratul maut pun meminta pertolongannya kepada dukun. Jika mereka mempunyai permasalahan ataupun keinginan yang masuk akal ataupun tidak masuk akal maka yang mereka datangi adalah dukun bukan Allah Ta’ala, nau’udzu billahi mindzalik.

Pada kesempatan ini marilah kita bersama-sama mengungkap hakikat perdukunan, paranormal dan yang semisalnya agar kita bisa tahu siapa mereka yang sebenarnya.

“Dukun atau Paranormal adalah orang yang mengabarkan tentang perkara-perkara pada masa yang akan datang dan mengaku mengetahui hal-hal yang ghaib. Pada zaman dahulu, di negeri Arab dukun dapat mengetahui sesuatu dengan bantuan Jin.” (Syarah As-sunnah, Imam Al-Baghowi, jilid 12, hlm.12)

Allah Ta’ala menggambarkan tentang perdukunan di dalam firman-Nya: “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al-kitab? Mereka percaya pada Jibt dan Thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Makkah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman.” (QS. An-nisa: 51)

Al-Jibt adalah sihir atau perdukunan. (Tafsir Alquran Al-‘adzhim, jilid 1)

Setelah melihat penjelasan di atas, kita telah memiliki pandangan tentang perdukunan atau yang semisalnya dari hal-hal yang bisa menjerumuskan kepada kesyirikan. Padahal Allah sangat benci kepada orang-orang yang berbuat syirik (menyekutukan Allah dengan selain-Nya), karena kesyirikan merupakan nenek moyangnya dosa. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzholiman yang besar.” (QS. Lukman: 13). Dan di dalam firman-Nya pula: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa selainnya (syirik), bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-nisa: 48)

Dunia perdukunan sangat identik dengan alam gaib dan sangat kental dengan aroma-aroma mistiknya dan sudah menjadi rahasia umum bahwa mereka bersekutu dengan jin sehingga kalalulah seseorang menginginkan sesuatu tentu sebagai taruhannya adalah hal-hal yang aneh bahkan di luar akal sehat, ada yang disuruh untuk berzina hanya ingin mendapatkan ilmu kebatinan atau ingin dilancarkan segala urusannya, ada yang disuruh membuat ayat-ayat Al-Qur’an dengan darah haid agar mendapatkan kekuasaan dan jabatan, bahkan adapula yang siap menghambakan dirinya untuk menjadi pengikut golongan setan la’natullah ‘alaihim hanya untuk mendapatkan popularitas, dan masih banyak lagi motif-motif lainnya yang mereka sebut sebagai syarat agar keinginannya bisa terkabulkan.

Sangat memprihatinkan memang, hanya ingin bendapatkan dunia harus mengorbankan keimanan yang telah Allah amanatkan kepadanya. Padahal dengan keimanan seseorang bisa membedakan antara yang baik dan buruk, dengan keimanan dia akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat, dan dengan keimanan pulalah dia akan dimudahkan masuk kedalam surga. Namun seseorang akan gelap mata apabila tujuannya adalah dunia, mereka sudah tidak menghiraukan lagi mana yang hak dan mana yang batil asalkan tujuan yang dia inginkan bisa tercapai.

Perdukunan ataupun paranormal sangat mudah kita temukan di negeri ini. Betapa tidak, media masa baik cetak maupun elektronik sangat gencar menyiarkan bahkan mempromosikan tentang dunia perdukunan. Padahal Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang mendatangi dukun lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, kemudian ia membenarkannya, maka tidaklah diterima salatnya selama 40 hari.” (HR. Muslim, no. 2230). Orang yang mendatangi dukun diancam dengan tidak diterima salatnya selama 40 hari, lantas bagaimana dengan orang yang bertanya kemudian membenarkannya?, maka Rasulullah Shollallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang mendatangi dukun lalu ia bertanya kepadanya dan membenarkannya, maka sungguh dia telah kufur dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad.” (HR. al-Bazzar dengan sanad bagus) (lihat: Al-qoul Al-mufid Syarah Kitab At-tauhid). “Dan janganlah kita membenarkan dukun dan tidak pula tukang ramal, dan janganlah seseorang mengajak sesuatu yang menyelisihi Alquran, As-sunah dan kesepakatan umat (Islam).” (lihat: kitabnya Syarah ‘Akidah Ath-thohawiyah Imam Ibnul ‘Iz).

FAIDAH PEMBAHASAN:

  1. Tidaklah terkumpul antara membenarkan perdukunan dengan iman kepada Alq (al-Qoul al-Mufid, jilid 1, hlm.551)
  2. Tidaklah yang mengetahui hal gaib kecuali Allah semata. Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah: “Tidak ada sesorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara gaib kecuali Allah.” (QS. An-naml: 65)
  3. Apa-apa yang telah dikabarkan oleh dukun dari hal-hal gaib, yang dia dapatkan dari bisikan jin atau setan telah ditambahi dengan seratus kebohongan.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha ia berkata: “Orang-orang dahulu bertanya kepada Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam perihal para dukun, lalu belia Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Mereka tidak ada apa-apanya.

Mereka berkata: “Sesungguhnya mereka berbicara tentang hal-hal aneh dan terkadang benar terjadi.”

Lalu beliau bersabda: “Ucapan tersebut dari Al-haq yang dicuri oleh golongan jin, kemudian ia bisikkan ketelinga pengikutnya dengan ditambah-tambahi seratus kebohongan.” (HR. al-Bukhori, no. 5762, Muslim, no. 2228)

  1. Perdukunan sangatlah banyak jenis dan macamnya, seperti melihat atau meramal nasib, kejadian yang akan datang, rizki, jodoh, dll. Dengan media kartu, telapak tangan, perbintangan, dll.

Apa pun jenis nama dan caranya tentu semuanya itu sudah jauh bahkan sudah keluar dari syari’at yang mulia ini, karena apa-apa yang dilakukan mereka sudah menyimpang dari ajaran yang dibawa oleh baginda Nabi kita yang mulia Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari uraian di atas telah jelaslah bagi kita bahwa perdukunan haram hukumnya karena dalil-dalilnya sangat jelas. Oleh karenanya marilah kita kembali kepada jalan yang benar yaitu jalan yang telah diajarkan oleh Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya, berpegang teguh kepada sunahnya dan menyandarkan segala urusan hanya kepada Allah Ta’ala semata dengan mentauhidkan diri kita kepadaNya secara benar.

Saudaraku seiman, sebagai penutup dari tulisan ini kami mengajak kepada diri kami dan anda semuanya agar senantiasa bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa di manapun kita berada sampai ajal menjemput kita dan mudah-mudahan kita meninggal dalam keadaan beriman kepada Allah Ta’ala. Aamiin.

 

Oleh : Saifullah al-Gabusi

Mahasiswa Fakultas Ahwal Syakhshiyyah

 

 

 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *