Bekal Menuju Kehidupan Yang Kekal

bekal1

 

Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat maka Kami tambahkan keuntungan itu baginya.”  (QS. asy-Syuro: 20)

Disadari ataupun tidak, kehidupan kita di dunia ini merupakan perjalanan menuju kepada Allah Ta’ala yang kelak di hadapan Allah kita akan mempertanggungjawabkan atas seluruh yang kita kerjakan di dunia ini. Kehidupan di dunia ini adalah kehidupan sementara. Tidaklah ada kenikmatan dan kesenangan di dalamnya, melainkan keduanya bersifat sementara dan memperdayakan. Allah Ta’ala menjelaskan: “Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan (palsu).” (QS. al-Hadid: 20)

Dan sebaliknya kehidupan di akhirat kelak adalah kehidupan yang sesungguhnya dan kekal abadi. Sebagaimana Allah Ta’ala menerangkan:“ Dan kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. al-A’la: 17)

Pada kehidupan akhirat terdapat azab dan ampunan dari Allah Ta’ala serta keridhaan-Nya. Allah Ta’ala berfirman: “Dan di akhirat nanti ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya.” (QS. al-Hadid: 20)

Pembaca yang budiman, kehidupan kita di dunia ini adalah nikmat kesempatan dari Allah Ta’ala bagi kita untuk menyiapkan bekal menuju kehidupan yang kekal. Sungguh Allah Ta’ala telah mengingatkan hamba-hamba-Nya agar senantiasa menyiapkan bekal, Allah Ta’ala berfirman: “Dan hendaknya setiap orang memperhatikan apa yang telah ia persiapkan untuk hari esok (Akhirat).” (QS. al-Hasyr: 18)

Berikut kami hadirkan kepada pembaca sekalian hakikat dari bekal tersebut, kiat-kiat meraihnya dan balasan bagi orang-orang yang berbekal dengan bekal tersebut.

 

HAKIKAT BEKAL MENUJU KEHIDUPAN YANG KEKAL

Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Allah Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam. Bekal yang Allah dan Rasul-Nya tunjukkan kepada kita adalah sebagaimana terdapat dalam firman Allah Ta’ala: “Dan berbekallah kalian, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa.” (QS. al-Baqarah: 197)

Sungguh tak lagi asing bagi kita bahwasanya hakikat dari takwa tersebut adalah kita menjalankan ketaatan kepada Allah dan meninggalkan larangan-larangan-Nya dengan mengikhlaskan niat hanya kepada-Nya serta di atas petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

 

KIAT-KIAT MERAIH BEKAL MENUJU KEHIDUPAN YANG KEKAL

Menuntut Ilmu Agama

Menuntut ilmu agama merupakan kiat terpenting bagi seorang muslim dalam menyiapkan bekal menuju kehidupan kekal. Jika kita mengamati, betapa banyak saudara-saudara kita yang menguasai berbagai cabang ilmu dunia, namun sangat disayangkan, ia lalai akan ilmu agama.

Pembaca yang budiman, ketahuilah, bahwasanya dengan ilmu syar’i tersebutlah seorang hamba mendapat petunjuk untuk menjalankan ketaatan kepada Allah Ta’ala dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menerangakan Firman Allah: “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui? Sebenarnya hanya orang-orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran.” (QS. az-Zumar: 9), beliau rahimahullah berkata: “Tidaklah sama orang yang berilmu dengan orang tidak berilmu, sebagaimana tidak sama orang yang masih hidup dan orang yang telah mati, dan antara orang yang dapat mendengar dan orang yang tuli, ilmu adalah cahaya yang dengannya seorang hamba mendapatkan petunjuk dan dengannya pula ia keluar dari kegelapan menuju terangnya cahaya.” (Kitab al-‘Ilmi, hal. 13).

 

Introspeksi Diri

Tidak ada seorangpun di antara hamba-hamba Allah Ta’ala yang tidak pernah melakukan kesalahan dan dosa, maka dari itu introspeksi diri adalah sikap yang paling bijak yang harus dilakukan seorang hamba.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan hendaknya setiap insan memperhatikan apa yang telah ia persiapkan untuk hari esok (Akhirat).” (QS. al-Hasyr: 18)

Imam At-Thabari rahimahullah menafsirkan ayat tersebut: “Hendaknya setiap orang di antara kalian, menyiapkan amalan apa saja untuk menghadapi hari akhir, apakah amal-amal shalih (yang telah ia siapkan) yang akan menyelamatkannya atau amalan-amalan keburukan yang akan membinasakannya?” (Jami’ al-Bayan ‘an Ta`wil Ayat al-Qur’an, hal. 27 Jilid 14)

Dengan introspeksi diri seorang hamba dapat menyadari, betapa banyak dosa dan kesalahan yang menghiasi dirinya. Kesadaran inilah yang menjadi salah satu sebab Allah Ta’ala memberikan hidayah kepadanya untuk menjalankan ketaatan dan menjauhi larangan.

Memilih Teman yang Baik

Berteman dengan orang yang baik sangat membantu seorang hamba dalam menyiapkan bekal untuk kehidupan yang kekal. Mengapa demikian? Karena yang orang baik adalah teman yang senantiasa berusaha menjalankan ketaatan kepada Allah Ta’ala dan berusaha menjauhi larangan-larangan-Nya.

Teman dengan kriteria yang demikian akan memberikan motivasi dan pengaruh yang besar bagi siapapun yang dekat dengannya dalam menjalankan ketaatan kepada Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Sungguh benar ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat penjual minyak wangi dan pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau dapat membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapat bau harum darinya. Sedangkan seorang pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari) Lalu sudahkah kita memilih teman yang baik?

Berdoa kepada Allah ‘azzawajalla

Berdoa kepada Allah Ta’ala merupakan upaya sangat penting bagi seorang muslim untuk menyiapkan bekal menuju kehidupan yang kekal. Karena dengan berdoa, Allah Ta’ala akan memudahkannya dalam menjalankan ketaatan kepada-Nya dan dalam menjauhi larangan-larangan-Nya.

 

BALASAN BAGI MEREKA YANG MENYIAPKAN BEKAL

Ketika seorang muslim berbuat kebaikan dengan ikhlas dan sesuai dengan petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak ada balasan yang layak baginya melainkan kebaikan pula. Allah Ta’ala berfirman: “Tidak ada balasan untuk kebaikan melainkan kebaikan (pula).” (QS. ar-Rahman: 60)

Lalu balasan apakah yang layak bagi seorang muslim yang menyiapkan bekal untuk kehidupan yang kekal? Berikut sekelumit dari sekian banyak balasan-balasan yang Allah janjikan.

Allah Ta’ala akan memudahkan segala urusannya di dunia dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan memberinya jalan keluar. Dan memberinya rezeki yang tidak disangka-sangka.” (QS. at-Thalaq: 2-3)

  • Allah Ta’ala akan menjadikannya mulia di sisi-Nya.

Allah Ta’ala berfirman: ”Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa.” (QS. al-Hujurat: 13)

  • Allah Ta’ala akan menyelamatkannya dari api neraka.

Firman-Nya: “Kemudian kami menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.” (QS. Maryam: 72).

Demikianlah tulisan kami yang singkat ini, semoga bermanfaat bagi para pembaca sekalian.

Oleh: Irsan

Mahasiswa Fakultas Ahwal Syakhshiyyah


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *