BAIT-BAIT HIKMAH

isra'1

Sudah menjadi kelaziman bahwa seorang pengemban risalah, baik itu seorang nabi ataupun rasul dibekali mu’jizat, agar umat yakin akan kenabian dan kerasulan seorang utusan.

Seperti nabi Muhammad salallahu alaihi wasallam beliau dianugrahi mu’jizat yang sangat besar, salah satunya isro’ wa mi’roj.

Allah memperjalankan nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam, dengan sebuah perjalanan yang begitu menakjubkan, yang dimulai dari masjidil haram, menuju masjidil aqsha, kemudian menuju langit yang tujuh, sidratul muntaha, baitul ma’mur hingga bertemu dengan Allah, untuk menerima perintah shalat.

Sebuah perjalanan yang belum pernah di alami oleh manusia manapun di muka bumi ini, pengalaman yang sarat akan hikmah terkandung di dalamnya. Terkandung di dalamnya untaian-untaian faidah yang dirajut menjadi bagian dari kesempurnaan syariat agama.

Dengannya manusia diuji, siapa yang benar-benar beriman, siapa yang ragu-ragu dengan keimanannya dan siapa yang hanya bersandiwara bermuka dua, dengannya pula orang-orang kafir semakin bertambah kesesatannya setelah mendengarkan pristiwa tersebut, mereka menolak dan mendustakan kebenaran dengan penolakan yang keras, dan bukan saja menolak, bahkan mengolok-olok, serta menerbarkan hasutan yang menyuburkan keraguan di dalam hati manusia yang masih terlalu rapuh keimanannya.

Padahal telah datang bukti yang menguatkan kebenaran pristiwa tersebut, namun hal itu malah semakin membuat mereka jauh dan berpaling dari kebenaran.

Di tengah-tengah penolakan dan hujatan mereka yang tertutup hatinya, Allah turunkan hidayah-Nya kepada insan berhati lembut dan yang berjiwa mulia, semulia intan-permata, yang senatiasa menerima kebenaran. Abu Bakar, adalah salah seorang sahabat beliau yang serta merta menerima dan membenarkan pristiwa tersebut seketika mengatahui bahwa berita tersebut benar-benar datang dari nabi Muhammad salallahu alaihi wa sallam.

Sikap dan tindakan Abu Bakar yang spontan membenarkan perkataan beliau, menunjukkan betapa tingginya keimanannya terhadap apa yang disampaikan oleh orang yang ia yakini sebagai utusan Allah. Sikap yang ditunjukkan oleh Abu Bakar adalah contoh bagaimana dalam menyikapi kebenaran suatu berita, selama berita tersebut datang dari Allah dan rosulnya, apapun itu, logis atau tidak berita tersebut, sudah menjadi suatu kewajiban bagi kita menerima dan mengamalkannya.

Dibawah ini adalah beberapa hikmah dan faedah yang terkandung di dalam pristiwa isra’ mi’roj yang wajib kita yakini dan kita jalani:

  1. Diwajibkannya shalat lima waktu.
  2. Bahwa beliau diperjalankan bersama jasadnya.
  3. Pristiwa ini menunjukkan bahwa Allah berada di atas langit, yaitu di arsy, bukan seperti yang diklaim kebanyakan manusia yang beranggapan bahwa Allah ada di mana-mana.
  4. Diperlihatkannya surga dan neraka kepada beliau, menunjukkan bahwa surga dan neraka telah diciptakan.
  5. Kebenaran dinilai berdasarkan Al-Quran dan hadits nabi.
  6. Menunjukkan kebesaran dan keperkasaan Allah yang dengan ilmunya memperjalankan hambanya dengan waktu yang singkat, apabila ia berkehendak maka jadilah.
  7. Gelar As-siddiq yang disematkan kepada Abu bakar sebagai penghargaan terhadap pembenarannya akan pristiwa yang dialami oleh nabi sallallahu alaihi wa sallam.

 

Beberapa faedah di atas adalah segelintir dari sekian banyak faedah dan hikmah di balik pristiwa yang menabjukan tersebut. Masih banyak faedah yang terkandung dalam pristiwa isro’ mi’roj ini. Yang seharusnya dengan hal inilah kita menyibuk diri, memahami, mempelajari, dan menjalani setiap hukum yang terkandung di setiap berita yang disampaikan nabi Muhammad salallahu alaihi wasallam, sesuai maksud dan tujuan yang sebenarnya.

Oleh: bin Legan

Mahasiswa Fakultas Ahwal Syakhsiyyah

 

 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *