Antara Kebiasaan dan Kebinasaan

bumi

Musuh-musuh Islam tak henti-hentinya menyerang dan menggerogoti akidah dan keyakinan kaum muslimin. Rasa permusuhan, kebencian, dengki, dan hasad mereka tancapkan  di dalam hati-hati mereka terhadap kaum muslimin, sebagaimana yang Allah kabarkan dalam firman-Nya, “Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengkuti agama mereka.”( QS. Al-Baqarah: 120)

Ya, disaat musuh-musuh Islam melakukan makar-makarnya, kaum muslimin pura-pura tidak tahu atau bahkan tidak tahu sama sekali akan hal tersebut sehingga terbuai dengan dunianya.

Salah satu buktinya adalah tersebarnya ucapan-ucapan yang mereka anggap kebiasaan yang pada hakikatnya adalah kebinasaaan, diantaranya adalah ucapan “selamat Natal” yang tanpa canggung dan rasa kecemburuan agama di hati-hati kaum muslimin.

Kalau kita berfikir dan merenungkan arti ucapan tersebut kita akan mendapatkan bahwa ucapan tersebut merupakan ucapan yang sangat batil dan munkar dalam agama kita. “Selamat Natal” berarti anda telah memberikan ucapan selamat atas adanya sesuatu yang dituhankan selain Allah Ta’ala. Dan perkataan ini tidak akan pernah diucapkan oleh seorang muslim yang berakal.

Namun sangat disayangkan ada seseorang yang ditokohkan di negeri tercinta ini membolehkan mengucapkan selamat natal. Apakah dia buta dengan dalil-dalil yang mengharamkan loyalitas dan toleransi dalam agama dengan orang kafir? Semoga kita tidak termasuk dalam firman Allah, Sebenarnya bukan mata itu yang buta, akan tetapi yang buta adalah hati yang ada di dalam dada. (QS: Al-Hajj: 46)

Lihatlah Imam-imam kalian wahai kaum muslimin, adakah di antara mereka yang toleran terhadap kesesatan dan kekufuran?.

Yahya bin Rabi’ berkata: “Saya berada di rumah (Imam) Malik, kemudian ada seseorang yang bertanya, “wahai abu Abdillah (Imam Malik) apa pendapat anda tentang orang yag mengatakan Alquran itu makhluk? Imam Malik menjawab: “Dia adalah kafir, zindik, bunuhlah dia.” (Hilyatul Aulia 6/325, syarah ushul i’tiqad ahlussunnah wal jamaah 1/249)

Imam syafi’i berkata: “Barangsiapa yang mengatakan Alquran makhluk maka ia telah kafir”, beliau juga berkata, ”Hukumku terhadap ahli kalam, hendaknya dipukul dengan pelepah kurma, diarak dan diteriakan, inilah ganjaran orang yang meninggalkan Alkitab (Alquran) dan As-sunnah (Al-Hadis) dan beralih kepada ilmu kalam.” (siyar a’lamin Nubala’ 10/29).

Benar hanya dengan kembali kepada Alquran dan Al-Hadis dengan pemahaman dan pratek para sahabat Nabi kita akan selamat dan terhindar dari tipu daya orang kafir. Ini bukan berarti mau menang sendiri, bukan pula berarti emosi, atau hasad, melainkan dalil yang mengharuskan demikian, karena yang benar hanya satu, sedangkan jalan lainnya adalah batil dan penyimpangan. Allah Ta’ala berfirman: “Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, malainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenarana)?” (QS. Yunus:32)

Maka saya akhiri tulisan ini dengan firman Allah Ta’ala: “Maka kepada perkataan (ajaran) manakah (selain Al-quran) ini mereka mau beriman?” (QS. Al-Mursalat:77)

Oleh: Ferdiansyah

Mahasiswa Fakultas Ahwal Syakhshiyyah

 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *