Pilar Utama Pendidikan Dalam Perspektif Manhaj Salaf

PILAR UTAMA PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF MANHAJ SALAF

(Orasi ilmiyah disampaikan dalam acara wisuda angkatan ke II mahasiswa

STDI Imam Syafi’i Jember, Ahad, tanggal : 14/2/2016)

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه، وبعد :

Sebagaimana yang disaksikan, bahwa perkembangan dunia pendidikan dewasa ini sangat pesat, dari level yang teredah sampai yang tertinggi, bermacam konsep pendidikan ditawarkan dan berbagai metode pembelajaran digunakan demi mewujudkan dan mencapai visi dan misi yang telah ditetapkan oleh setiap lembaga atau insitusi pendidikan, yang hakikatnya tidak keluar dari tujuan utama, yiatu mencetak manusia yang beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia serta melahirkan para sarjana dan ilmuan yang memiliki intelektualitas yang bagus dan loyalitas yang tinggi terhadap agama.

Ironinya, fakta dan realita menunjukan hal yang berbeda, moral manusia semakin hancur, akhlak para akademisi semakin luntur, nilai-nilai ketaqwaan tidak mewarnai kehidupan mereka, bahkan semakin terkubur, banyak orang yang berpendidikan tinggi yang menghadapi krisis akhlak yang mulia, banyak yang menyandang gelar akademisi yang tinggi tetapi gersang dari nilai-nilai ketaqwaan dan keislaman, bahkan tidak sedikit yang berani menolak kebenaran hanya dengan alasan tidak masuk akal dan tidak sesuai dengan logika.

Disisi lain muncul di tengah kaum muslimin fenomena yang lebih mengutamakan tradisi dan budaya dalam pengamalan dan praktek ibadah akan tetapi jauh dari ilmu yang berlandaskan Al Qur’an dan sunnah, sehingga tidak sedikit juga dari sunnah Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam dan tata cara ibadah beliau ditinggalkan dan ditolak dengan alasan tidak sesuai dengan tradisi dan budaya.

Itulah dua kondisi yang kontradiksi yang lebih mewarnai dunia pendidikan dan kehidupan masyarakat dinusantara ini. Realita yang sangat menyedihkan, tentunya kondisi yang jauh berbeda dengan prihal para ulama Islam dan generasi terbaik umat ini (shahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in) yang dikenal dengan salafus sholeh. Mereka adalah orang yang berpendidikan tinggi yang telah sukses ditarbiyah oleh sang guru yang paling utama dan mulia yaitu Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam, generasi yang ta’at dalam beribadah sesuai dengan syari’at, memiliki akhlak yang mulia dan jiwa yang tulus serta loyalitas yang tinggi terhadap agama, sebagaimana yang telah direkomendasikan oleh Allah dan Rasul-Nya.

( كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ) آل عمران.

“Kalian adalah umat yang terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, kalian memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran serta beriman kepada Allah”.

Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda:

(خير الناس قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم).

“Manusia yang terbaik adalah yang hidup dikurunku, kemudian yang datang setelah mereka, kemudian yang datang setelah mereka”.

Kebaikan dalam ayat dan hadits diatas mencakup seluruh kebaikkan dalam segala aspek kehidupan; ilmu, ibadah, akhlak dll.

Nah, apakah faktor utama yang menyebabkan terjadinya perbedaan yang sangat mencolok itu, bagaikan siang dan malam antara dua kondisi di atas (kepribadian dan kehidupan para salafus sholeh dan kepribadian dan kehidupan manusia/kaum muslimin sekarang ini)?

Di antara faktor utama yang menyebabkan hal itu adalah: Perbedaan antara dua konsep tarbiyah (pendidikan) yang digunakan. Konsep yang digunakan oleh salafus sholeh adalah konsep nabawi yang disadur dari tuntunan dan bimbingan Ilahi. Adapun mayoritas konsep pendidikan dewasa ini dari sisi keilmuan adalah konsep sekuler dan liberal yang diadopsi dari teori-teori filsafat yang bertentangan dengan syari’at dan dari sisi amaliyah adalah konsep yang disadur dari tradisi dan budaya kaum shufi dengan berbagai tarekatnya. Sehingga terdapat dalam kedua konsep tersebut banyak teori-teori keilmuan yang merusak pola pikir dan tata cara ibadah yang menyelisihi konsep Qur’ani Nabawi yang akan merusak jiwa dan hati.

Konsep manhaj salaf dalam pendidikan, tidak keluar dari konsep Al Qur’an dan sunnah, karena Al Qur’an dan sunnah adalah konsep hidup kaum muslimin dalam segala aspek.

Bila kita cermati dan renungi Al Qur’an dan hadits, bisa kita simpulkan bahwa konsep pendidikan dalam Islam dibangun diatas tiga pilar utama yang merupakan visi dan misi utamanya: 1) Ilmu, 2) Amal, dan 3) Akhlak.

Ketiga pilar tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, karena memiliki hubungan dan kolerasi yang sangat kuat.

Pilar pertama: ilmu, yang dimaksud adalah mengenal Allah, Nabi dan Agama.

Inilah tujuan dan orientasi utama pendidikan dalam Islam, mencetak seorang insan yang kenal kepada sang Pencipta yang diaplikasikan dalam keta’atan kepadaNya, yang kenal kepada nabinya yang diaplikasikan dalam menta’ati dan mengikuti tuntunan hidupnya, dan mencetak seorang muslim yang kenal kepada agamanya, memiliki loyalitas tinggi kepadanya yang diaplikasikan dalam melaksanakan ajaran syari’atnya.

Itulah ilmu yang bermanfaat yang memiliki keutamaan yang tinggi disisi Allah dan Rasul-Nya.

Pilar Kedua : amalan (ibadah).

Ilmu dituntut bukan sekedar untuk memperkaya khazanah ilmiyah dengan bermacam teori-teori keilmuan, bukan untuk memperluas wawasan, akan tetapi ilmu dipelajari untuk diamalkan. Korelasi antara ilmu dan amal (ibadah) sangat erat sekali tidak bisa dipisahkan, karena ilmu tanpa amalan bagaikan pohon yang rindang tetapi tidak berbuah, maka tidak ada gunanya. Oleh karena itu parameter kealiman seseorang adalah pengamalan terhadap ilmunya, bukan banyak ilmunya, sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah:

(إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ). سورة فاطر : 28.

“Sejatinya yang hanya takut kepada Allah dari hambaNya adalah para ulama”.

Ibnu Mas’ud mengatakan: “cukuplah sifat takut kepada Allah sebagai ilmu dan cukuplah tertipu dengan Allah sebagai kebodohan”.

Sebagian ulama salaf mengatakan: “Bukanlah ilmu dengan banyak riwayat tetapi ilmu adalah sifat takut (kepada Allah)“.

Sebagian mengatakan: “Barangsiapa yang takut kepada Allah maka ia adalah seorang yang alim dan barangsiapa yang mendurhakai Allah maka ia adalah seorang yang jahil“.1

Ilmu adalah imam yang diikuti dan amalan sebagai makmum yang mengikuti, ilmu tidak berguna kalau tidak diamalkan dan amalan tidak diterima kalau tidak berlandaskan ilmu yang benar. Kedua perkara ini yaitu (ilmu dan amal) merupakan subtansi utama risalah Nabi shalallahu’alaihi wasallam, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

(هو الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق)

“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa hudaa (yaitu: ilmu yang bermanfaat) dan hinulhaq (yaitu: amal sholeh)”.

Dan juga merupakan jalan orang orang yang telah mendapatkan petunjuk, sebagaimana yang tertera dalam suarat Al Fatihah:

(اهدنا الصراط المستقيم صراط الذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضالين).

“Tunjukilah kami kepada jalan yang lurus, jalan orang orang yang Engkau beri nikmat, bukan (jalan) orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat”.

Jalan orang-orang yang dimurkai adalah jalan kaum Yahudi yang memiliki ilmu tetapi tidak diamalkan. Maka setiap orang yang belajar yang orientasinya hanya sekedar menambah keilmuan bukan untuk diamalkan, ia telah menyerupai konsep kaum Yahudi dalam berilmu, metode inilah yang mewarnai dan mendominasi konsep kaum filsafat, sekuler dan liberal serta orang orang yang mengikuti jejak mereka dalam keilmuan.

Jalan orang-orang yang sesat adalah jalan kaum Nasrani yang beramal tanpa ilmu, hanya berlandaskan semangat dan mengada-ada. Maka setiap orang yang beramal tanpa ilmu akan tetapi hanya bermodalkan semangat, tradisi dan budaya, sungguh ia telah menyerupai kaum Nasrani dan telah tersesat dari jalan kebenaran. Inilah yang mewarnai dan mendominasi tata cara beragama kaum tradisional yang mengikuti budaya, tradisi dan warisan para leluhur.

Adapun jalan orang orang yang mendapatkan nikmat hidayah kepada jalan yang lurus adalah orang orang yang mengabungkan antara ilmu dan amal, ilmunya diamalkan sehingga selamat dari kemurkaan Allah dan amalan-nya berlandaskan ilmu sehingga selamat dari kesesatan, itulah konsep Tarbiyah Qur’ani Nabawi yang merupakan pilar utama pendidikan yang berbasis manhaj salafus sholeh.

Dua perkara ini (ilmu dan amal) merupakan dua kekuatan yang menentukan kesempurnaan dan kebahagian seorang hamba, kekutan ilmiyah dengan beriman kepada Allah dan kekuatan amaliyah dengan melakukan keta’atan kepadaNya. Kedua hal ini banyak dijelaskan dalam Al Qur’an, bahwa orang yang bahagia adalah orang yang mengenal kebenaran dan mengikuti (mengamalkan)nya dan orang yang sengsara dan celaka adalah orang tidak mengenal kebenaran atau mengetahuinya tetapi menyelisihinya atau mengikuti selainnya, sebagaimana yang diutarakan oleh Imam Ibnu Qoyyim rahimahullah2.

Kesimpulannya: Bahwa dalam doa yang selalu kita panjatkan dalam sholat tidak kurang dari 17x sehari semalam, terkandung pedoman hidup untuk meraih kemulian dan konsep tarbiyah dalam mencetak generasi Rabbani serta membangun masyarakat yang beriman dan bertaqwa, tentunya hal ini dipahami oleh orang orang yang menghayati dan mentadabbur kandungan Al Qur’an.

Pilar ketiga : akhlak atau adab.

Ini adalah pilar utama dan orientasi tarbiyah dalam manhaj salaf, karena akhlak atau adab merupakan hal yang sangat urgen dalam ajaran islam dan tidak bisa dipisahkan dari kehidupan kaum muslimin, ia memiliki kolerasi yang sangat kuat dengan keimanan, akhlak yang mulia adalah bagian dari iman, pertanda iman dan faktor utama yang akan menambah iman, iman yang sempurna menuntut akhlak yang mulia.

Pendidikan yang tidak berorientasi untuk membentuk kepribadian yang berakhlakul karimah dan berkarakter baik adalah pendidikan yang gagal dan tidak bemanfaat.

Oleh karenanya perkara ini (akhlak dan adab) dalam tarbiyah salafus sholeh merupakan hal yang menjadi perhatian utama mereka sebelum mempelajari ilmu.

قال الإمام مالك : ( كانت أمي تُعَمِّمني ، وتقول لي : اذهب إلى ربيعة ، فتعلَّم من أدبه قبل علمه).

Imam Malik berkata: “Ibuku memakaikan imamahku seraya berkata: pergilah ke majlis Rabi’ah dan pelajarilah adabnya sebelum ilmunya”.

قال الإمام مالك لفتى من قريش: “يا ابن أخي تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم“.

Imam Malik berkata kepada seorang pemuda Quraisy: “Wahai anak saudaraku; pelajarilah adab sebelum kamu mempelajari ilmu”.

قال عبد الله بن وهب قال: “ما نقلنا من أدب مالك أكثر مما تعلمنا من علمه“.

Abdullah Bin Wahab berkata: “Apa yang kami nukil (pelajari) dari adab Malik lebih banyak dari kami mempelajari ilmunya“.

وقال إبراهيم بن حبيب : قال لي أبي: يا بني ائت الفقهاء والعلماء وتعلم منهم وخذ من أدبهم وأخلاقهم وهديهم فإن ذلك أحب إلي لك من كثير من الحديث“.

Ibrahim Bin Habib menuturkan: Ayahku berwasiat kepadaku: wahai anakku, pergilah ke (majlis) para Fuqaha’ dan ulama, belajarlah dari mereka, ambillah adab dan akhlak mereka serta petunjuknya, sesungguhnya hal itu lebih aku sukai daripada mempelajari banyak hadits”.

وقال بعضهم لابنه: “يا بني لأن تتعلم بابا من الأدب أحب إلي من أن تتعلم سبعين بابا من أبواب العلم“.

Sebagian mereka berkata kepada anaknya: Wahai anakku, kamu belajar satu bab dari adab lebih aku senangi daripada kamu mempelajari 70 bab dari bab-bab ilmu”.

قال مخلد بن الحسين: “نحن إلى كثير من الأدب أحوج منا إلى كثير من الحديث“.

Makhlad Bin Husain berkata: “Kita lebih membutuhkan banyak adab daripada banyak hadits”.

Itulah sebagian perkataan ulama salaf tentang urgensi adab dan ahklah dalam tarbiyah, hal ini menunjukkan bahwa diantara pilar utama konsep pendidikan manhaj salaf adalah akhlakul karimah dan adab yang mulia.

Demikian yang bisa disampaikan, mudah-mudahan bermanfaat, sebagai kesimpulan: bahwa konsep pendidikan manhaj salaf adalah konsep Qur’ani Nabawi yang dibangun diatas tiga pilar utama yang tidak bisa dipisahkan, yaitu: ilmu, amal dan akhlak. Setiap konsep pendidikan/tarbiyah yang tidak dibangun diatas tiga pilar tersebut dan tidak memiliki orientasi untuk mewujudkannya maka itu adalah konsep pendidikan yang gagal dan metode tarbiyah yang menyesatkan, Wallahu a’lam.

1 Lihat: Ibnu Rajab , “Fadhlu ilmis salaf ‘ala ilmil khalaf” (hal: 32).

2 Lihat: Ibnu Qoyyim, “Igatsatul lahfaan” (1/25).


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *