RELEVANSI MANHAJ SALAFI SEBAGAI SOLUSI BERBAGAI PROBLEM UMMAT KONTEMPORER

islam_043Salah satu tohokan ( baca : syubhat ) yang sering dilontarkan para musuh Islam terhadap ajaran agama Islam adalah anggapan tidak sesuainya lagi ajaran islam menjadi sebuah solusi bagi problematika problematika kotemporer keummatan dan peradaban  dunia, banyak ajaran Islam yang sudah usang tertinggal kemajuan zaman dan fenomena kekinian.Tentunya  lebih spesifik lagi adalah tohokan terhadap manhaj salaf- sebuah metode memahamidan mngamalkan ajaran agama sesuai dngan sahabat dan salafsholeh- kembali dengan metode salaf dalam mengurai benang kusut problemtika ummat sekarang ini bagi mereka adalah utopia.

Kerancuan berpikir diatas tentunya ” diilhami ” oleh rendahnya penguasaan para pemikir tesebut terhadap ajaran Islam yang luas tak bertepi, Allah Ta’la berfirman:

مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ[1]

Alih alih hapal Al Qur’an ataupun kutub hadis, para pemikir ini lebih senang merenung dan berfilsafat. Apatah lagi memahami kandungan Al-Quran dan syarah-syarah hadits seperti yang dikuasai para ulama salaf, la wong terkadang sebagian mereka tidak mengerti bahasa Arab, bahkan tokohnya ada yang tidak sholat.[2]

Akhirnya mereka  ( sebagian pemikir Islam ) menoleh kepada barat yang sukses “memajukan” peradabannya dengan membuang jauh-jauh dogma usang kekristenan mereka dan menggantinya dengan filsafat, berpikir empiris, materialism dan isme isme barat yang lain. Lihatlah kata-kata mereka dibawah ini.

“Sesungguhnya jalan kebangkitan itu jelas, terang dan lurus tidak ada lagi keraguan yaitu kita mengikuti jalan hidup orang-orang Eropa dan mengikuti jalan mereka, untuk kita jadikan sekutu dan rujukan kita dalam peradaban kita..baik dan buruknya, manis dan pahitnya…[3]

Atau juga seperti apa yang dikatakan Qosim Amin dalm bukunya Al Mar’ah Jadidah , setelah dia mengungkapkan kondisi kaum wanita di Mesir dia mengatakan:

“Ini adalah penyakit yang harus cepat cepat kita mencari obatnya dan tidaklah ada obatnya kecuali kita mendidik anak anak kita sampai mereka memahami kehidupan barat dan mengambilnya baik pokok-pokonya maupun cabang-cabangnya dan pengaruh-pengaruhnya…”[4]

Dalam tulisan ini, penulis ingin memberikan bukti-bukti dalam lintasan sejarah bahwa pernyataan manhaj salaf adalah satu-satunya solusi untuk mengurai problema keummatan masa kini adalah sebuah kebenaran, tidak ada keraguan. Dan sebenarnya kita bias langsung memahaminya dari hadis Nabi ini –

إذا تبايعتم بالعينة وأخذتم أذناب البقر ورضيتم بالزرع وتركتم الجهاد

سلط الله عليكم ذلا لا ينزعه حتى ترجعوا إلى دينكم “.[5]

” Jika kalian sibuk dengan jual beli ‘inah ( perdagangan yang haram ) dan kalian sibuk  dengan beternak, dan terlena dengan bercocok tanam lalu dengan itu kalian meninggalkan jihad , pastilah Allah akan timpakan kehinaan kepada kalian, Allah tidak akan mencabut dan menghilangkan kehinaan itu ( dari kalian ) samapi kamu sekalian kembali kepada Agama kalian.”

Liat juga semboyan imam malik yang terkenal;

“لن يصلح آخر هذه الأمة إلا ما صلح أولها

“Tidaklah akan baik kesudahan ummat ini kecuali jika mereka kembali kepada kebaikan generasi awal ummat ini.[6]

 

Ahmad Ibnu Taymiyah dan Muhammad Ibnu Abdilwahhab

Dilahirkan di Harran Syam 661 H / 1263 M dan wafat di Damasykus tahun 728 H / 1328 M.Dalam tulisan, dakwah dan kehidupan Ibnu Taymiyah sangat jelas kita pahami bahwa Ibnu Taymiyah adalah salah satu pengibar panji manhaj salaf yang terdepan. Bisa kita sebut Ibnu Taymiyah adalah salah satu ulama utama dalam semangat purifikasi ( tashfiyah ) Agama dengan manhaj salafnya.Manhajnya ini tentunya tidaklah hanya disebabkan karena bidang kepakarannya yang sangat mumpuni dalam bidang hadit dan atsar-atsar salaf, tetapi  disebabkan pula karena karena problematika yang dihadapi ummat secara umum di zamannya harus di selesaikan dan dihadapi dengan manhaj salaf ini, konteks sosial, politik, lingkungan dan dinamika pemikiran Islam waktu itu sangat mendudkung thesisnya ini.

Bidang kepakaran Ibnu Taymiyah adalah hadits dan atsar, meskipun kepakarannya dibidang yang lain juga tidak diragukan. Adz-Dzahabi berkata tentang Ibnu Taymiyah : “Dia mempunyai pengetahuan yang sempurna mengenai rijal (mata rantai sanad), Al-Jarhu wat Tadil, Thabaqah-thabaqah Sanad, pengetahuan ilmu-ilmu hadits antara shahih dan dhaif, dan hafal matan-matan hadits yang menyendiri padanya. Maka tidak seorangpun pada waktu itu bisa menyamai atau mendekati tingkatannya.Menakjubkan dalam menghadirkan hadis dan dalam berhujjah dengannya dengan menyebut asalnya dalam kutubusittah dan Musnad. Sampai-sampai hamper bias dikatakan setiap hadits yang tidak diketahui oleh Ibnu Taymiyah bukanlah sebuah hadis.[7] Jika demikian komentar Adz-Dzahabi tentang gurunya tersebut maka bisa kita katakan Ibnu Taymiyah tidak menemukan kesulitan berarti dalam menghadirkan beragam riwayat ketika menafsirkan suatu ayat al-Qur’an,  hadis Atau mengurai berbagai persoalan ummat waktu itu.  Karena kepakaran dan kedalaman ilmu seseorang Ulama dalam bidang hadits dan atsar mutlak diperlukan jika seseorang ingin memahami Islam dengan obyektif dan lurus (mustaqiim).

Kondisi zaman, lingkungan sosial politik dan pemikiran keagamaan di masa hidup Ibnu Taymiyah juga ikut memberi andil yang besar dalam kokohnya beliau meneguhi manhaj salaf sebagai solusi yang solutif mengatasi keterpurukan ummat di zaman beliau hidup. Beliau hidup pada abad ketujuh hijriyah atau abad ke-13/14 masehi, zaman dimana masa keemasan Islam mulai memudar, daya cengkeram kekuasaan Islam melemah, perekonomian ummat juga memburuk.Hidup di tengah kecamuk perang antara umat Islam melawan serbuan bangsa Tartar dan perang salib, serta perpecahan dan peperangan antara keamiran-keamiran Islam sendiri.[8] Usaha-usaha untuk menggelorakan semangat jihad melawan serbuan Tartar menjadi suatu hal yang wajib waktu itu, memompa semangat jihad kaum Muslimin mau tidak mau adalah menyemangati mereka dengan semangat kepahlawanan para pendahulu mereka para penakluk Arab Muslim yang berhasil mengusir hegemoni Romawi dan Persia atas daerah-daerah Arab di Syam dan Irak, yaitu pasukan yang dipimpin oleh para sahabat Nabi Shalallahu alaihi wasalam dimana faktor utama penentu kemenangan mereka adalah keimanan mereka yang kokoh dan asli yang langsung mereka warisi dari pendidikan Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam.

Ibnu Taymiyah memandang tidak ada kejayaan kecuali jika umat Islam berhasil kembali menggali sumber-sumber kekuatan umat yaitu kembalinya aqidah dan pemahaman umat kepada zaman awal Islam. Faktor-faktor penyebab kejayaan masa keemasan Islam inilah yang kemudian ingin diejawantahkan oleh Ibnu Taymiyah dalam menghadapi problematika sosial politik waktu itu, dalam hampir semua hasil karya beliau, juga dalam ceramah-ceramahnya, khutbah-khutbahnya , dakwahnya, dan kehidupannya. Tulisan-tulisan, khutbah-khutbah, ceramah-ceramah dan dakwah Ibnu Taymiyah yang mengajak untuk kembali menelusuri atsar-atsar sahabat, tabiin dan tabittabiin berhasil membangkitkan semangat keberagamaan kaum Muslimin, membangkitkan keimanan mereka, meninggikan izzah mereka, menguatkan tawakal mereka kepada Allah Ta’ala dan meningkatkan keberanian mereka membendung serbuan Tartar yang merajalela.[9]

Kondisi pemikiran keagamaan umat Islam waktu itu juga ikut mewarnai corak pemikiran keagamaannya secara umum yang teguh dengan manhaj salafussholeh. Pada waktu itu perkembangan keilmuan Islam mencapai masa kematangan dengan banyaknya disiplin ilmu keislaman yang telah disusun dan dikumpulkan secara lengkap oleh para ulama. Tidak ketinggalan adalah ilmu filsafat Yunani dan Persia telah disusun dan dikumpulkan dalam bentuk mausuah.(ensiklopedi) Dalam bidang tafsir juga demikian, Tafsir at-Thobari telah lengkap tersusun dan dianggap sebagai ensiklopedi tafsir sahabat dan tabiin, begitu juga Tafsir al-Qurthubi dan Tafsir Zaad al-Masir Ibnu Jauzi. Dalam bidang hadits dan fikih juga demikian, ensiklopedi-ensiklopedi hadits dan fikih madzhab banyak disusun dan ditulis para ulama dan diberi syarah. Kitab-kitab mudah diakses para penuntut ilmu dan ulama karena tersebarnya berbagai perpustakaan diberbagai kota utama negara-negara Islam.[10] Pada zaman ini pula berkembang dan mencapai kematangan berbagai paham theologi dalam kehidupan pemikiran keagamaan, dengan matangnya perkembangan paham khawarij, rofidhoh, qodariyah, murji’ah, bathiniyah, muktazillah, jahmiyah, sufiyah dan kaum mutakalimun. Para pengikutnya terkadang berdalil dengan ayat-ayat al-Qur’an untuk mendukung pemahamannya meskipun sebenarnya ayat-ayat tersebut tidak ada dilaalah kearahnya, terkadang juga mereka menta’wilkan ayat-ayat yang bertentangan dengan pahamnya (sehingga terkesan ayat-ayat tersebut tidak menentang madzhabnya) dengan mentahrif (menyimpangkan) penafsirannya jauh dari maknanya.[11]Dan berbagai penyimpangan-penyimpangan lainnya.

Beberapa ulama muktazillah misalnya menyusun tafsir dalam madzhab theologi mereka, misalnya : tafsir Abdurrahman bin Kaisan al-Ashom, kitab abi Ali al-Juba’i atau tafsir al-Kabir oleh Qodhi Abduljabbar bin Ahmad Alhamdani atau tafsir al-Kasyaf oleh Az Zamakhsyari. Mereka menafsirkan tauhid misalnya dengan menafikan sifat-sifat Allah, dengan berkeyakinan bahwa Allah tidak bisa dilihat (di akherat), bahwa al-Qur’an adalah makhluk, bahwa Allah tidak berada di atas alam ini, bahwa Allah tidak berilmu dan tidak mempunyai qudroh, tidak hidup tidak mendengar, tidak melihat dan tidak kalam, tidak juga punya kehendak bahkan tidak mempunyai sifat dari sifat-sifat Allah.[12] Mereka juga berkeyakinan bahwa seorang Muslim yang berbuat dosa besar kekal di dalam neraka meski adzhabnya lebih ringan daripada adzhabnya orang-orang kafir,[13] dalam hal ini muktazillah sepaham dengan khawarij.[14] Mereka meyakini dan berpaham dengan madzhab theologi mereka dulu kemudian membawa (menafsirkan) lafadz-lafadz al-Qur’an kearah mendukung pendapatnya. Sementara penafsiran mereka tidak pernah dipendapati para sahabat dan tabiin, tidak juga dipendapati oleh para Aimah Muslimin baik dalam pemikiran mereka maupun dalam tafsir mereka.[15]

Setali tiga uang dengan mereka (muktazillah dan khawarij) adalah kaum bathiniyah, mereka mengatakan tentang Allah Ta’ala : bahwa kami tidak mengatakan bahwa Allah ada atau tidak ada, tidak juga kami mengatakan bahwa Allah mengetahui atau tidak mengetahui, tidak juga maha perkasa dan tidak juga lemah.[16] Belum lagi penafsiran golongan Syiah dan Sufi Bathini. Dengan kondisi banyaknya aliran theologi seperti inilah Ibnu Taymiyah berusaha menyaring berbagai pemikiran itu dengan kekuatan keilmuannya dibidang hadits dan atsar sebagai bentuk penangkalannya dari berbagai corak pemikiran Islam waktu itu.Sebagai upaya menjaga kemurnian Islam.Kondisi-kondisi sosial, politik dan pemikiran keagamaan pada masa hidupnya Ibnu Taymiyah inilah yang ikut menentukan corak dan metodenya dalam memahami agama Islam.Sebagai contoh hal ini sangat gamblang beliu tuangkan dalam Muqoddimah at-Tafsir-nya, di samping faktor dari dalam dirinya sendiri berupa kepakarannya yang tak tertandingi dalam bidang hadits dan atsar.

Penulis melihat bahwa setting sosiokultural ummat Islam zaman Ibnu Taymiyah tidak jauh berbeda dengan kondisi ummat Islam sekarang ini.Hegemoni kekuatan militer dan ekonomi Tatar di zaman Ibnu Taymiyah bias kita analogikan dengan hegemoni kekuatan militer dan ekonomi Barat di zaman kita sekarang.Sementara matangnya perkembangan pemikiran ilmu filsafat, kalam, theology dan mistic Islam di zaman Ibnu Taymiyah bisa kita padankan dengan makin meluasnya liberalisasi pemikiran Islam dewasa ini.Tesis Ibnu Taymiyah dengan metodologinya ( manhaj salaf ) yang digunakan juga untuk memahami ilmu aqidah, hadis, fikiih dan seterusnya-adalah jawabannya untuk mengurai dan menyelesaikan problem keterpurukan Ummat Islam pada zamannya, yang mana problem tersebut juga menjadi problem yang sama pada zaman kita sekarang ini.Ibnu Taymiyah dengan pemikiran keagamaanya secara umum,yang selalu ia dakwahkan, berhasil menggelorakan semangat kebangkitan Islam membendung serangan Tatar, menyatukan barisan Islam,barhasil mengusir Tatar dan memperbaiki kondisi ummat[17]sekaligus menegakan bendera purifikasi ajaran Islam.Masalah masalah yang diselesaikan Ibnu tamiyah bukan hanya Ibadah mahdhoh saja atau perkara-perkara aqidah dan keyakinan saja, tetapi meluas ke bidang bidang politik, ekonomi dan social kemasyarakatn,lihatlah tulisan tulisan dan fatwa-fatwanya.Dan seharusnya manhaj ini pun mesti diterapkan untuk mengurai benang ruwet problematika dan isu-isu kontemporer ummat Islam.

Muhammad bin Abdulwahhab

Senada dan seirama dengan Ibnu Taymiyah adalah syaikh Muhammad bin Abdulwahhab, dilahirkan di Uyainah dekat Ryadh sekarang pada tahun 1703 M, dakwahnya adalah penyebaran prinsip prinsip reformasi dan purifikasi ( tashfiyah ) ajaran Islam, ia berusaha menghapuskan pengaruh perkembangan zaman pertenganhan Islam yang mundur menuju keyakinan yang murni dan kembali kepada prinsip-prinsip fundamental yang terkandung dalam dua sumber utama agama Islam.Oleh karena itu ia menentang keras kebiasaan praktek Islam bangsa Arab waktu itu dalam ritual magis, keyakinan terhadap orang suci dan pemujaan terhadap para wali,dan menolak model teologi pantheistic sufi.Seruan seruannya yang reformatif tersebut kemudian menyebar dan berkembang sampai ke Muslimin India, Indonesia, dan afrika Utara.[18][19] Secara pasti dalam perkembangan dakwahnya ia berhasil menyatukan berbagai suku-suku arab, memasukan mereka kepada Islam reformatif, purifikasi ajaran Islam.Dakwah ini terus bertahan dan mencapai momentumnya kembali ketika dipimpin oleh  Raja Abdul Aziz Alu Saud, ia berhasil menyatukan kembali suku-suku di Arabia, serta mengembangkan Negara Saudi Arabia yang kita kenal sekarang.Penerapan syariah dan hukum-hukum Islam dilaksanakn secara konsisten oleh Negara, semboyan dakwah tauhid dan kembali meneladani kehidupan Rosululloh dan para sahabat benar benar diperhatikan pelaksanaannya. Barokah Allah dating karenanya.

Penemuan-penemuan sumber kekayaan minyak dan eksplorasinya kemudian menjadikan Negara Islam ini, negeri yang Barokah. Pembangunan negeri ini mengantarkan pada meluasnya kesempatan meraih pendidikan bagi warganya, jutaan rakyatnya bias mengenyam pendidikan tinggi dengan gratis, termasuk perempuan. Meluasnya lapangan kerja bahkan pada tahun 1975, 43 % jumlah penduduk adalah para pekerja asing dari berbagai Negara. Warga Negara dididik untuk mengisi pekerjaan teknik dalam industry perminyakan, perdagagan, pertanian, keuangan komunikasi dan militer yang berkembnag pesat.Ditengah perubahan social yang sangat pesat ini Negara Saudi tetap mempertahankan otoritas politik dan keagamaan yang diwariskan dari kolaborasi dakwah Muhammad bin Abdul wahab dengan Raja Saud, komitmen dengan manhaj salaf, ajaran Islam yang dijalankan Nabi dan para sahabatnya, masyarakat Saudi nyaris tidak terpengaruh oleh paham nasionalisme dan sekularisme yang berkembang dihampir seluruh Negara arab waktu itu  . Secara internasional Arab Saudi berhasil mengembangkan satu identitas Islam daripada identitas nasionalisme Arab.[20]

Arab Saudi  mendanai perguruan tinggi Islam diberbagai negeri muslim,berbagai beasiswa, membangun masjid masjid dan kegiatan social Islam di Negara-negara Islam ataupun di Negara Barat.[21] Arab Saudi juga mendukung perjuangan bangsa Kosovo, bosnia, Checnya, Kashmir, Afghanistan dan menentang pendudukan yahudi atas Palestina dan membela tujuan bangsa Palestina.Berbagai publikasi dan konfrensi Islam yang diprakarsai Arab Saudi berusaha untuk memperlihatkan superioritas Islam dan mempromosikan kebangkitan dan penyatuan sejumlah negeri.[22]Sebutlah misalnya OKI , Robithoh Alam Islami , Majma Fiqh Al Islami, WAMY , Haiah Ighotsah dan lain lain.[23]

Sangat jelas dimata kita segala usaha dan  kemajuan yang dicapai Negara baru ini diraih dalam atmosfir pemikiran keagamaan yang dianggap oleh musuh-musuh Islam sebagai pemikiran Islam yang ortodoks, jumud, kolot badui dan julukan-julukan jelek yang lain. Orang dengan sedikit akalpun akan mengatakan tidaklah mungkin segala kemajuan ini diraih dari masyarakat yang jumud, kolot , dan badui.

Kemajuan ini diraih semata-semata karena barokah Allah yang turun bagi bangsa yang berkomitmen menjalankan ajaran agamanya selurus-lurusnya. Allah Ta’ala berfirman :

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ[24]

Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.”

 

Menjalankan Agama selurus-lurusnya berarti keharusan mengikuti manhja salafusholeh, jalan hidupnya Rosululloh, para sahabatnya, para tabiin dan orang-orasng yang mengikuti mereka dengan baik.

Kita bisa bandingkan kemajuan ekonomi, pendidikan, kesempatan kerja,ketentraman hidup  yang diraih Saudi Arabia di tahun delapan puluhan misalnya , dengan Negara-negara Islam yang mengadopsi berbagai system barat dalam mengelola negerinya. Mesir , Suria, Indonesia, Turki  dan lain-lain. Fenomena kemiskinan, keterbekakangan pendidikan, sempitnya kesempatan kerja, inflasi yang tak terkendali bahkan kelaparan melanda sebagian Negara Islam.Mereka berkiblat ke barat dalam usaha memajukan negaranya dengan mengadopsi system-sistem yang yang bertentangan dengan Islam, sekularisme, kapitalisme, filsafat empirisisme materialisme, bahkan komunisme.” Kemajuan ” barat menyilaukan mata dan hati mereka.Kata kemajuan saya tulis dalam dua tanda kutip karena ia bukanlah kemajuan hakiki yang dicita-citakan fitrah manusia tapi hanya kemajuan semu, kemajuan yang tanpa moral , kemajuan dengan kolonialisme, penindasan, penjajahan ,dan penjarahan kekayaan bangsa lain.” Kemajuan ” dalam bidang kebebasan seksual, pornografi, narkotika,dekadensi moral, tingginya kriminalitas dan segudang kebobrokan lainnya, yang kemudian segala hal yang disebut kemajuan diataspun berpindah ke negeri-negeri Islam tersebut. Naudzu billah.

وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Akan tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.[25]

Nyatalah dalam lintasan sejarah ummat Islam jika berpegang teguh dengan ajaran Islam yang telah dipahami dan dipraktekan generasi awal Islam maka hanya kesudahan yang baiklah hasilnya di dunia maupoun di akheratnya. Allah Ta’ala berfirman :

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.[26]

 

Dan benarlah apa yang dikatakan Imam Malik :

“لن يصلح آخر هذه الأمة إلا ما صلح أولها

“Tidaklah akan baik kesudahan ummat ini kecuali jika mereka kembali kepada kebaikan generasi awal ummat ini.Itulah semboyan Imam Malik dan juga semboyan kita”.

 

Sumber: Majalah As-Sunnah Edisi Juni 2013

Oleh: Suhuf Subhan, S.Pd.I, M.Pd.I. Penulis adalah dosen Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah Imam Syafi’i Jember


[1] QS. Al An’am 38

[2] Seperti diceritakan salah seorang dosen UIN , bahwa Muhammad Arkoun bukanlah seorang practice muslim

[3] Perkataan Thoha Husain , Tokoh Liberal Mesir awal abad 20, di nukil dari : Jamil Abdullah Al Mishry, Hadhir Alam Al Islami,( Riyadh : Al Obeikan, 2007) hlm.180

[4] Ibid,hlm. 180

 

[5] HR. Abu Dawud, Baihaqi,dll. disohihkan Al Albani dalam Silsilah Shohihah

[6] Ibnu Abdil Bar, dalam Attamhid, di nukil dari : Sholeh bin Abdullah Al Abud, Aqidatu Muhammad bin Abdulwahhab Assalafiyah wa Atsaruha fi Al-Alam Al-Islami ( Madinah : Jamiah Islamiyah,2004) juz.1,hlm.21

[7] Ibnu Rajab, Dzail Thobaqot Al-Hanabilah,di nukil dari Abul Fadhl Shofiuddin Muhammad bin Ahmad Al-Bukhori, Qoulul Jali fi Manaqibi Ibnu Taymiyah Al-Hambali ( Beirut : Daar al-Kutub Al-Ilmiyah, 2005 ) hlm. 520

[8] Ibnu Taymiyah, Tafsir al-Kabir, (Beirut : Daar al-Kutub al-Ilmiyah, tanpa tahun), juz I, hlm. 14

[9] Jamil Abdullah al Mishry, Hadhir Alam Al Islam, (Riyadh : Al-Obeikan, 2007), hlm. 61

[10] Ibnu Taymiyah, Tafsir al-Kabir, (Beirut : Daar al-Kutub al-Ilmiyah, tanpa tahun), juz I, hlm. 34

[11] Ibnu Taymiyah, Muqoddimah at-Tafsir, dalam Majmu Fatawa, (Beirut : Muasasah ar-Risalah, 2002), hlm. 356

[12] Asy-Syihristani, Al-Milal wa an-Nihal, (Beirut : Daar al-Ma’rifah, 1993), juz I, hlm. 56

[13] Ibid., hlm. 57-58

[14] Ibid., hlm. 132

[15] Ibnu Taymiyah, Muqoddimah at-Tafsir, dalam Majmu Fatawa, (Beirut : Muasasah ar-Risalah, 2002), hlm. 358

[16] Asy-Syihristani, Al-Milal wa an-Nihal, (Beirut : Daar al-Ma’rifah, 1993), juz I, hlm. 229

[17] Muhammad bin Ahmad bn Abdilhadi, Al Uqud Ad duriyah, ( Beirut : Darul Kutub Al-Ilmiyah ,) hlm 120-140

[18] Sholeh bin Abdullah Al Abud, Aqidatu Muhammad bin Abdulwahhab Assalafiyah wa Atsaruha fi Al-Alam Al-Islami ( Madinah : Jamiah Islamiyah,2004) juz.2, hlm.763

[19]  Ira Marvin Lapidus, A Histoty of Islamic Societies ,  ( Cambridge : Cambridge University Press, 2002 ) hlm. 572

[20] Ibid, hlm.573

[21] Sholeh bin Abdullah Al Abud, Aqidatu Muhammad bin Abdulwahhab Assalafiyah wa Atsaruha fi Al-Alam Al-Islami ( Madinah : Jamiah Islamiyah,2004) juz.2, hlm.1029-1030

[22] Ibid,hlm.575

[23] Jamil Abdullah al Mishry, Hadhir Alam Al Islam, (Riyadh : Al-Obeikan, 2007), hlm.276-289

[24] QS . Al-A’raf : 96

[25] QS . Al-A’raf : 96

[26] QS An Nur : 55


2 thoughts on “RELEVANSI MANHAJ SALAFI SEBAGAI SOLUSI BERBAGAI PROBLEM UMMAT KONTEMPORER

  • April 1, 2014 at 5:29 pm
    Permalink

    Alhamdulillah, artikelnya sangat jelas dan gamblang, termasuk pada penjelasan tokoh yang disebut di atas yang seringkali didiskreditkan oleh ummat Islam itu sendiri, maupun uraian berikutnya tentang sifat serta watak asli penjajah yang dahulu menjajah secara fisik dan moral, namun sekarang tetap sebagai penjajah walaupun dengan cara dan modus yang berbeda dengan tetap mengatasnamakan “Kemajuan”.

    Semoga menjadi pelajaran untuk menyadarkan kepada kita semua akan pentingnya meniti jejak manhaj salaf. Banyak hal yang diberitakan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallaam mulai terjadi satu-per-satu dan hanya dengan mengikuti petunjuk dari Rasul saja kita sebagai umatnya akan selamat

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *