PETUNJUK NABI SHALLALLAHU ALAIHI WASALLAM DALAM MENYEBARKAN BERITA

PETUNJUK NABI SHALLALLAHU ALAIHI WASALLAM DALAM MENYEBARKAN BERITA

Oleh: Nur Kholis bin Kurdian

Di era globalisasi ini, dunia betul-betul terasa kecil seperti bola. Berita dari ujung dunia dalam hitungan detik dapat disebarkan ke penjuru, melalui situs-situs internet maupun jejaring sosial. Akan tetapi, tidak semua berita-berita yang disebar tersebut benar dan baik untuk dikonsumsi masyarakat, terkadang ada berita hoax alias bohong, ada pula yang mengandung unsur fitnah dan hasutan, ada pula yang membuat kerdil hati kaum muslimin. Amat disayangkan, ada diantara pengguna dari kaum muslimin yang mudah melakukan copas dan share ke yang lainnya, tanpa memperhatikan kebenaran dan madharat sebuah berita. Tulisan ini akan membahas etika-etika yang seharusnya dilakukan oleh seorang muslim dalam menyebarkan berita berdasarkan petunjuk Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

 

1. JANGAN MUDAH MENYEBARKAN SETIAP BERITA

Hendaknya seorang muslim berhati-hati di dalam berbicara dan berbuat, jangan mudah menyebarkan setiap berita yang didengar atau yang dibaca tanpa mengetahui kebenarannya, karena perbuatan tersebut madharatnya lebih besar dan tercela, Nabi shallallahu alaihi wasallam menyebut orang yang seperti itu dengan sebutan pendusta dalam hadits:

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

Cukuplah seseorang itu dikatakan pendusta jika ia mudah menyebarkan setiap berita yang ia dengar. (HR. Muslim).

Disamping perbuatan tersebut menyebabkan sipelaku mendapatkan predikat pendusta, hal itu juga merupakan sebuah perbuatan yang dibenci oleh Allah ta’ala, karena masuk dalam penyebaran desas-desus. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ كَرِهَ لَكُمْ ثَلاَثًا: قِيلَ وَقَالَ، وَإِضَاعَةَ المَالِ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ

Sesungguhnya Allah ta’la membenci tiga perkara: 1. Menyebarkan desas-desus (kabar angin), 2. Menghambur-hamburkan harta, 3. Banyak pertanyaan yang tujuannya untuk menyelisihi jawabannya.1

2. KLARIFIKASI-LAH TERLEBIH DULU

Seorang muslim jika ingin menyebarkan suatu berita, hendaknya ia mengecek kembali kebenarannya sebelum menyebarkannya. Mungkin saja, berita tersebut bersumber dari orang fasik atau pendusta atau musuh Islam atau sekedar dugaan belaka, yang efek negatifnya mungkin bisa merugikan si penyebar berita itu sendiri dan kaum muslimin.

Abu Mas’ud zpernah ditanya, “Apa yang pernah engkau dengarkan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentang prasangka atau dugaan? Ia menjawab, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

بِئْسَ مَطِيَّةُ الرَّجُلِ زَعَمُوا

Prasangka atau dugaan adalah sejelek-jelek sandaran seseorang”. (HR. Abu Dawud).2

Allah ta’ala juga berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik dengan membawa berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpahkan musibah kepada suatu kaum karena kebodohanmu, yang menyebabkanmu menyesal atas perbuatanmu itu”.3

3. PIKIRKANLAH SISI POSITIF DAN SISI NEGATIFNYA

Lihatlah bagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika memberikan kabar kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu anhu tentang hak Allah ta’ala atas hambanya dan hak hamba atas Allah ta’ala, beliau bersabda:

فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى العِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلاَ يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَحَقَّ العِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لاَ يُعَذِّبَ مَنْ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا» ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلاَ أُبَشِّرُ بِهِ النَّاسَ؟ قَالَ: «لاَ تُبَشِّرْهُمْ، فَيَتَّكِلُوا»

Bahwa hak Allah ta’ala atas hamba-Nya adalah hendaknya mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan hak hamba atas Allah ta’ala adalah tidak menyiksa hamba yang bertauhid dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu, kemudian ketika Mu’adz zmeminta ijin kepada beliau untuk mengabarkan hal itu kepada yang lainnya, akan tetapi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarangnya, dan mengatakan, “Jangan kamu beritakan hadits ini kepada mereka, dikawatirkan mereka salah paham, sehingga mencukupkan diri dengan tauhid dalam hati dan meninggalkan amal shaleh”.4

Disini, beliau memikirkan madharat dan fitnah yang akan terjadi jika umatnya yang waktu itu belum siap mendengarkan hadits tersebut lalu mendengarnya, karena tidak semua orang memiliki pemahaman seperti Mu’adzz, dan tidak semua orang dapat memahami hadits tersebut dengan pemahaman positif, yang akhirnya beliau melarang menyampaikan hadits tersebut kepada yang lainnya.

Tindakan tersebut adalah tindakan yang arif dan bijaksana, tidak seperti tindakan sebagian orang yang mudah menyebarkan perkataan seseorang dengan tanpa melihat sisi madharatnya, sehingga menimbulkan fitnah yang tidak karuan akibatnya. Hasbunallahu wani’mal wakil.

4. BERSIKAPLAH TENANG, JANGAN TERBURU-BURU

Ketika mendapatkan suatu berita, janganlah kita terburu-buru menyebarkannya. Mari kita bersikap bijak dan tenang, karena sesungguhnya sikap tenang itu terpuji. Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda:

التَّأَنِّي مِنَ اللَّهِ، وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ

Sikap tenang itu dari Allah ta’ala, sedangkan sikap tergesa-gesa adalah dari setan”.5

Dalam hal ini Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah memberikan contoh kepada umatnya. Saat itu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berencana menyerang orang-orang kafir Quraisy di Mekkah, akan tetapi berita ini dibocorkan oleh Hathib bin Abi Balta’ahzsecara sembunyi-sembunyi melalui surat yang ia tulis. Singkat cerita, setelah Nabi shallallahu alaihi wasallam mengetahui hal tersebut dan mendapatkan surat itu, beliau langsung memanggilnya dan bertanya kepadanya, “Kenapa kau lakukan ini wahai Hathib?”. Disini Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak tergesa-gesa menghukumnya atau langsung membunuhnya disebabkan perbuatan kufur tersebut, akan tetapi beliau menanyakan terlebih dahulu sebab yang melatarbelakangi perbuatannya itu, kemudian Hathib menjawab, “Wahai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, meskipun aku dekat dengan mereka tapi aku bukan dari mereka, aku melakukan ini bukan karena aku benci dan keluar dari Islam, akan tetapi aku meninggalkan kerabatku di Mekkah, aku tidak ingin kalau mereka disakiti oleh orang-orang Quraisy, oleh karena itu aku lakukan ini agar kerabat-kerabatku selamat dari gangguan mereka. Nabi shallallahu alaihi wasallam pun memakluminya meskipun Umar bin Khattabzmeminta ijin kepada beliau untuk memenggal kepala Hathib, akan tetapi Nabi shallallahu alaihi wasallam menjawab,

إِنَّهُ قَدْ شَهِدَ بَدْرًا، وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَكُونَ قَدِ اطَّلَعَ عَلَى أَهْلِ بَدْرٍ فَقَالَ: اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ

Dia pernah ikut berjihad di perang badar, wahai Umar !”, dan ketahuilah bahwa Allah ta’ala ketika melihat para pasukan perang badar, berfirman, “Lakukanlah apa saja yang kalian mau maka sesungguhnya Aku telah mengampuni dosa-dosa kalian”.6

Semoga Allah ta’ala senantiasa memberikan taufiq, hidayah serta inayah-Nya kepada kita semua sehingga kita dapat mengamalkan petunjuk-petunjuk Nabi shallallahu alaihi wasallam-Nya , Amiin.

Artikel ini telah dimuat di majalah As-sunnah pada edisi khusus juni-juli 2015

Sahih Muslim, cetakan tanpa tahun – Daar Ihya’ Turats al-‘Araby – Beirut, juz.1, hlm. 10. No hadits 4.

1 Sahih Bukhari, cetakan pertama th. 1422 H – Daar Thauq al-Najaah- tanpa nama tempat, juz 2, hlm. 124. No hadits. 1477. Lihat sahih Muslim, Juz 3, hlm. 1340. No Hadits: 1715.

2 Sunan Abu Dawud, cetakan tanpa tahun – al-maktabah al-‘Ashriyah – Beirut, juz 4, hlm. 294. No Hadits 4972. Dihukumi sahih oleh al-Albani. Lihat Silsitul Ahadits al-Sahihah juz.2, hlm. 522. No Hadits 866.

3 QS. Al-hujurat: ayat 6.

4 Sahih Bukhari, Juz 4, hlm. 29. No hadits 2856. Lihat sahih Muslim, Juz 1, hlm. 58. No hadits 49.

5 Musnad Abu Ya’la, cetakan pertama th.1404 H – Daar al-Ma’muun litturats – Damaskus, juz 7, hlm. 247. No Hadits 4256. Lihat As-sunan al-Kubro, karya Imam al-Baihaqy, cetakan th. 1412 H – Daar al-Kutub al-ilmiyah – Beirut, juz 10, hlm. 178. No hadits. 20270. Dihukumi sebagai hadits hasan oleh al-Albani dalam Silsilatul Ahadits As-sahihah, juz 4, hlm. 404. No hadits 1795.

6Sahih Bukhari, Juz 4, hlm. 59. No hadits 3007.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *