Bencana Dunia Pendidikan Kita

pendidikanBeberapa hari yang lewat hati kita tersayat-sayat miris, pelajar SMP bermesum ria di depan teman-temannya , direkam , dan kemudian videonya disebarkan, sebuah fenomena kebobrokan dan kebejatan pelajar- pelajar kita.

Beberapa pekan yang lalu kita dihebohkan dengan berita seorang pelajar SMP  mengemudi dan menyupir ugal- ugalan sehingga menjadi penyebab kecelakaan dan kematian banyak orang. Di lain hari sebuah harian di jawa Timur memberitakan  seorang pelajar SMP menjadi mucikari.! Memperdagangkan teman-temannya sesama pelajar. Miris sekali kita membaca berita ini focus masalahnya adalah bukan hanya pada sang mucikari yang masih siswi SMP saja, tetapi lebih kepada para pelajar-pelajar yang direkrut dan melayani lelaki hidung belang. Ini nampaknya adalah fenomena gunung es yang melanda dunia pendidikan kita, yang tidak terungkap sangat boleh jadi lebih banyak lagi, apalagi di kota-kota besar.

Sebuah survey yang dilakukan BKKBN dan Komnas Ham Anak dibeberapa kota besar menunjukan data yang mengejutkan, 63 persen pelajar mengaku sudah pernah berhubungan seks, dan 93 % dari mereka sudah pernah melakukan apa yang disebut dengan genital stimulation.! Belum lagi berita berita yang sering kita baca mengenai kenakalan para pelajar ini. Mulai dari tawuran, narkoba,pergaulan bebas, sampai arisan seks pun ada.

Ada apa dengan dunia pendidikan kita?

Secara sadar ataupun tidak, pendidikan kita selama ini lebih kerap mengabaikan faktor agama, nilai-nilai religius masyarakatnya. Agama atau sisi spiritual kehidupan manusia cenderung dilupakan kalau tidak malah diupayakan untuk disingkirkan.  Padahal, pada sisi inilah tersimpan potensi dahsyat manusia. Karena ia merupakan puncak kesadaran tertinggi kehidupannya.

Lebih jauh,  praktik pendidikan ( di sekolah-sekolah/perguruan tinggi  umum non agama  terutama ) kemudian hanya memandang manusia sebagai instrumen fisik. Membangun dan mengisi otak dan cenderung kurang serius dalam mengisi jiwa peserta didik. Pendidikan digunakan sebagai  instrument pensuplai tenaga kerja, pendidikan jiwa belum bisa sepenuhnya sanggup mewarnai hasil-hasil pendidikan tersebut. Dalam banyak kasus, paradigma pertumbuhan dan pengembangan sumber daya manusia akhirnya hanya menjadi representasi ideologi kapitalistik yang selalu menjadi acuan. Dalam kerangka pendidikan yang “berbau” kapitalistik ini, peserta didik diarahkan untuk menjadi buruh atau tenaga kerja yang berkualitas. Bukan untuk menjadi manusia beragama, dengan cita-cita yang tinggi. Di sini, azas manfaat yang berjangka pendek mendominasi.

Pendidikan dan belajar seharusnya dijiwai sebagai bagian  dari iman dan pengamalan agamanya. Tujuannya adalah ibadah dan kemaslahatan bagi dirinya , masyarakat dan kemanusiaan . Pendidikan nasional haruslah meletakkan pendidikan adab dan akhlak ( termasuk akhlak kepada Pencipta dan makhluk-makhluk-Nya) dalam posisi yang sangat sentral. Sebenarnya hampir tidak ditemukan satu pun tulisan ulama dan ahli-ahli pendidikan yang mengabaikan moralitas sebagai penekanan proses pendidikan. Penekanan pada aspek moralitas, adab dan akhlak dalam pendidikan Islam tersebut justru harus dijadikan tujuan utama dan diusahakan bersama.

Kondisi riil di lapangan, dalam dunia pendidikan kita, titik tekan pada nilai-nilai agama bisa kita katakan  memprihatinkan. Alih-alih mengintegrasikan  nilai dan ajaran Islam terhadap ilmu-ilmu umum, yang terjadi justru marginalisasi pelajaran agama. Bukan rahasia lagi bila pelajaran-pelajaran agama kerap dipandang hanya sebagai pelengkap belaka. Pelajaran agama tidak diposisikan untuk menjiwai pelajaran-pelajaran lain.

Memang tugas yang di emban lembaga-lembaga pendidikan tersebut sebagai alat untuk lebih menghayati ajaran agamanya disana sini mengalami kendala dan tantangan. Dekadensi moral , hedonisme, yang melanda berbagai sendi kehidupan pun sudah sedemikian akut,sampai-sampai merambah lembaga-lembaga pendidikan Islam,bahkan pesantren-pesantren sekalipun yang notabenenya ketat dalam pengawasan para peserta didik, meskipun tingkat keparahannya masih agak mending dibanding yang ada di luar pesantren.

Pendidikan Agama di sekolah umum misalnya (dalam tingkat tertentu juga merambah dunia pesantren), bisa kita katakan hanya menyentuh aspek kognitif saja, statemen ini bisa kita lihat dari indikator-indikator kesalehan pribadi para siswa di sekolah umum yang jauh dari nilai-nilai Agamanya.Indikator-indikator kesalehan pribadi yang saya maksud misalnya : ketaatan mereka dalam menjalankan tuntutan Agamanya, cara berpakaian , akhlak mereka kepada guru dan orangtuanya, dan lain lain.

Alih-alih indikator ini tampak pada mereka, malah yang terjadi sebaliknya, tuntunan Agama banyak disepelekan, fenomena pacaran dan pergaulan bebas dikalangan pelajar begitu mengkhawatirkan, narkoba , tawuran, kehidupan hedonis, gaya hidup barat yang negative dan lain-lain sungguh menjadikan hati kita miris melihatnya..Rendahnya kwalitas guru dalam memhami da mengamalkan agamanya juga menjadi andil besar dalam kemerosotan akhlak mereka.

Seharusnya, melalui proses pendidikan, secara perlahan  kerangka bertindak (pola perilaku) peserta didik itu setara dan seimbang dengan kebesaran konsep yang menjadi landasan cara berpikirnya. Oleh karena itu memecahkan problematika pendidikan nasional ini menjadi tugas umat yang terberat pada abad sekarang ini.

Penyusunan  suatu kerangka pembelajaran yang komprehensif dalam mentransfer ilmu dan nilai nilai Agama menjadi suatu yang sangat dibutuhkan. Pembelajaran wudhu di sekolah-sekolah umum misalnya bukan hanya bertarget bias berwudhu dan hafal bacaan wudhu tapi juga punya target bagaiman nilai-nilai akhlak bisa disampaikan  di dalamnya. Begitupula pada pelajaran pelajaran yang lain. Para guru harus dilatih dan dibina sehingga mereka semakin dekat dengan Agamanya, semakin memahami agamanya, semakin tahu dan mengamalkan agamnya. Sehingga apapun yang mereka ajarkan dan amalkan bernilai spiritual dan berefek moralitas bagi siswanya.

Para orangtua juga dituntut terampil dalam mengawasi, mengarahkan, dan membina anak-anaknya. Pendidikan agama,akhlak dan moralitas yang ditujukan kepada para siswa, juga harus ditujukan pula kepada para orangtua. Pelatihan, pembinaan dan pencerahan agama harus juga diarahkan kepada orang tua peserta didik. Sebagai bekal mereka membina dan mengarahkan anak-anaknya.Tanpa peran serta orangtua yang tercerahkan secara agama maka sangat berat beban yang ditanggung sekolah.Hampir mustahil sekolah-sekolah menghasilkan peserta didik yang diharapkan tanpa bantuan para orangtua mereka di rumah.

Pemerintah lewat kurikulum yang bermutu agama dan sekolah-sekolahnya bekerjasama dengan para Ulama dan para Dai  bahu membahu meningkatkan kwalitas keagamaan, akhlak dan tingkah laku guru, peserta didik sekaligus orangtua mereka.

Ingatlah guru dan orangtua adalah panutan, sumber bimbingan, dan pembinaan.Jika guru dan orangtua juga tidak berkwalitas dalam agama dan moralitas apatah lagi peserta didiknya.

Jika guru kencing berdiri, murid akan kencing berlari.! Begitu pepatah mengatakan.

Artikel ini ditulis oleh Suhuf Subhan, S.Pd., M.Pd.I; Salah satu dosen di Program studi Ahwal Syakhsiyyah Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah Imam Syafi’i


One thought on “Bencana Dunia Pendidikan Kita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *