AWAS BAHAYA RIBA (2)

Riba (1)

Kelima: Allah Ta’ala mensifati pemakan riba sebagai “orang yang senantiasa berbuat kekafiran/ingkar, dan selalu berbuat dosa“.

Ibnu Katsir rahimahullah  berkata: “Sesungguhnya pemakan riba tidak rela dengan pembagian Allah untuknya, berupa rizki yang halal, dan merasa tidak cukup dengan syari’at Allah yang telah membolehkan untuknya berbagai cara mencari penghasilan yang halal.  Oleh karenanya ia berusaha untuk mengeruk harta orang lain dengan cara-cara yang batil, yaitu dengan berbagai cara yang buruk. Dengan demikian sikapnya merupakan pengingkaran terhadap berbagai kenikmatan, dan amat lalim lagi berlaku dosa, yang senantiasa memakan harta orang lain dengan cara-cara yang batil.”.

 

Keenam: Allah Ta’ala memerintahkan kaum muslimin agar bertakwa, dan hakikat ketakwaan adalah menjalankan segala perintah dan meninggalkan segala larangan. Bukan hanya hal-hal yang nyata-nyata haram, bahkan hal-hal yang tergolong sebagai syubhat, Rasulullah Shalallahu’alaihisallam memerintahkan ummatnya untuk meninggalkannya.

“Sesungguhnya yang halal itu nyata, dan sesungguhnya yang haram itu nyata pula, dan antara keduanya (halal dan haram) terdapat hal-hal yang diragukan (syubhat), banyak orang yang tidak mengetahuinya. Maka barang siapa menghindari syubhat, berarti ia telah menjaga agama dan kehormatannya. Dan barang siapa yang terjatuh kedalam hal-hal syubhat, niscaya ia terjatuh ke dalam hal yang diharamkan. Perumpamaannya bagaikan seorang penggembala yang menggembala (gembalaannya) di sekitar wilayah larangan, tak lama lagi gembalaannya akan memasuki wilayah itu. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki wilayah larangan. Ketahuilah bahwa wilayah larangan Allah adalah hal-hal yang Ia haramkan. Ketahuilah bahwa di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging (jantung) bila ia baik niscaya seluruh jasad (raga) akan baik, dan bila ia rusak, niscaya seluruh jasad akan rusak pula, ketahuilah segumpal daging itu ialah jantung. (HR. Bukhari & Muslim)

 

Ketujuh: Perintah tegas agar meninggalkan riba. Dan dari perintah tegas semacam inilah disimpulkan hukum wajibnya sesuatu. Dengan demikian meninggalkan riba adalah wajib hukumnya. Bila suatu hal telah diwajibkan untuk ditinggalkan, maka tidak diragukan lagi akan keharamannya.

 

Kedelapan: Allah menjadikan perbuatan meninggalkan riba sebagai bukti akan keimanan seseorang, dengan demikian dapat dipahami bahwa orang yang tetap memakan riba berarti imannya cacat dan tidak sempurna.

 

Kesembilan : Allah Ta’ala mengumandangkan peperangan dengan orang-orang yang enggan meninggalkan riba.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Allah Ta’ala menekankan hukum keharaman riba dengan suatu hal yang paling berat dan keras, yaitu berupa peperangan pemakan riba melawan Allah dan Rasul-Nya. Pada ancaman ini, dinyatakan bahwa pemakan riba adalah orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana Allah juga telah mengumandangkan peperangan dengannya. Ancaman semacam ini tidak pernah ditujukan kepada pelaku dosa besar selain memakan riba, perampokan dan upaya membuat kerusakan di muka bumi. Hal ini dikarenakan  masing-masing dari keduanya sedang berupaya membuat kerusakan di muka bumi. Perampok membuat kerusakan dengan kekuatannya dan tindakan kesewenanganya terhadap orang lain. Sedangkan pemakan riba berbuat kerusakan dengan sikapnya yang enggan memudahkan kesusahan orang lain dengan cara membebankan kepada mereka kesusahan yang lebih berat. Allah mengabarkan bahwa para perampok sedang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan Allah mengumandangkan kepada pemakan riba peperangan dari-Nya dan dari Rasul-Nya.”

 

Kesepuluh: Allah Ta’ala mensifati orang yang berhenti dari memungut riba dan hanya memungut modalnya (uang pokoknya) saja, dengan firman-Nya: “kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.”  Dari penggalan makna ayat ini dapat dipahami dengan jelas, bahwa orang yang memungut riba, berarti ia telah berbuat lalim atau aniaya terhadap saudaranya, karena ia telah mengambil sebagian dari hartanya dengan cara-cara yang tidak dibenarkan dalam syari’at.

 

Dan diantara hadits-hadits Nabi Shalallahu’alaihisallam yang menunjukkan akan haramnya riba, ialah hadits berikut:

Dari sahabat Jabir ia berkata: Rasulullah Shalallahu’alaihisallam telah melaknati pemakan riba (rentenir), orang yang memberikan/membayar riba (nasabah), penulisnya (sekretarisnya), dan juga dua orang saksinya”. Dan beliau juga bersabda: “Mereka itu sama dalam hal dosanya” (HR. Muslim). Orang yang dilaknat ialah orang yang dijauhkan atau didoakan agar dijauhkan dari kerahmatan Allah Ta’ala.

Agar kita semua semakin memahami tentang betapa besarnya dosa memakan harta riba, maka saya mengajak pembaca untuk merenungkan sabda Rasulullah Shalallahu’alaihisallam berikut yang menjelaskan kadar dosa memakan harta riba: “(dosa) Riba itu memiliki tujuh puluh dua pintu, yang paling ringan ialah semisal dengan (dosa) seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri. Dan sesungguhnya riba yang paling besar ialah seseorang yang melangggar kehormatan/harga diri saudarnya.”(HR. Thobrany dinilai shahih oleh Al-Albany)

Pada hadits lain, Rasulullah Shalallahu’alaihisallam bersabda: “Sesungguhnya satu dirham yang diperoleh seseorang dengan cara riba, dosanya lebih besar di sisi Allah dibanding tiga puluh enam kali perzinaan yang dilakukan oleh seseorang. Dan riba yang paling besar ialah yang berkaitan dengan kehormatan seorang muslim.” (HR. Ibnu Abi AdDunya, Al-Baihaqy dan dinilai shahih oleh Al-Albany).

Dalil-dalil diatas hanyalah sebagian dari sekian banyak dalil dari Al Qur’an dan hadits yang dengan tegas mengharamkan riba dengan berbagai bentuknya. Dan berdasarkan dalil-dalil tersebutlah para ulama’ mensepakati/berijma’ akan keharamannya.

Karena hukum dan dosa riba demikian besarnya, maka sudah semestinya atas setiap orang islam untuk memahaminya dan mengetahui berbagai transaksi yang tergolong kedalamnya, agar tidak tergelincir dalam perbuatan dosa besar ini. Terlebih-lebih pada zaman sekarang, dimana ambisi untuk mengeruk harta telah menguasai kebanyakan manusia, sampai-sampai sebagian mereka bersemboyan: “Yang halal adalah yang sampai ke tangan kita, dan yang haram adalah yang tidak sampai ke tangan kita. La haula wala quwwata illa billah.

Oleh karena itu jauh-jauh hari Khalifah Umar bin Khattab telah berpesan kepada kaum muslimin secara umum: “Hendaknya tidaklah berdagang di pasar kita selain orang yang telah paham (berilmu), bila tidak, niscaya ia akan memakan riba.”(Diriwayatkan oleh Imam Malik, Tirmidzi dan Ibnu Abdil Bar serta dinilai hasan oleh Al-Albany).

Demikianlah paparan singkat tentang bahaya riba, yang pada zaman sekarang ini banyak kaum muslimin yang jatuh dalam praktik terlarang ini tanpa ia sadari. Semoga Allah membimbing kita untuk memahami perkara ini dan menjaga serta menjauhkan kita dari terjatuh ke dalam praktik ribawi.

 

Oleh: DR. Muhammad Arifin Badri, M.A.

Ketua STDI Imam Syafi’i


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *