AWAS BAHAYA RIBA (1)

 riba

Definisi Riba.

Ditinjau dari ilmu bahasa arab, riba bermaknakan: tambahan, tumbuh, dan menjadi tinggi.

Adapun dalam pemahaman syari’at, maka para ulama’ berbeda-beda ungkapannya dalam mendefinisikannya, akan tetapi maksud dan maknanya tidak jauh berbeda. Diantara definisi yang dirasa cukup mewakili berbagai definisi yang ada ialah: “Suatu akad/transaksi atas barang tertentu yang ketika akad berlangsung tidak diketahui kesamaannya menurut ukuran syari’at atau dengan menunda penyerahan kedua barang yang menjadi objek akad atau salah satunya.”

Ada juga yang mendefinisikannya sebagai berikut: “Penambahan pada komoditi/barang dagangan tertentu.”

Hukum Riba.

Tidak asing lagi bahwa riba adalah salah satu hal yang diharamkan dalam syari’at Islam. Sangat banyak dalil-dalil yang menunjukkan akan keharaman riba dan berbagai sarana terjadinya riba.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.”  (QS: Ali Imran 130)

Ibnu Katsir rahimahullah  ketika menafsirkan ayat ini berkata: “Allah Ta’ala melarang hamba-hamba-Nya kaum mukminin dari praktik dan memakan riba yang senantiasa berlipat ganda. Dahulu, di zaman jahiliyyah, bila piutang telah jatuh tempo mereka berkata kepada yang berhutang: engkau melunasi hutangmu atau membayar riba, bila ia tidak melunasinya, maka pemberi hutangpun menundanya dan orang yang berhutang menambah jumlah pembayarannya. Demikianlah setiap tahun, sehingga bisa saja piutang yang sedikit menjadi berlipat ganda hingga menjadi besar jumlahnya beberapa kali lipat. Dan pada ayat ini Allah Ta’ala memerintahkan hamba-Nya untuk senantiasa bertakwa agar mereka selamat di dunia dan di akhirat.”

Pada ayat lain, Allah Tala’a berfirman yang artinya: “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba. Allah telah menghalalkan perniagaan dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang senantiasa berbuat kekafiran/ingkar, dan selalu berbuat dosa. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Rabbnya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasulnya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (QS: Al Baqarah 275-280)

Kelima ayat ini merupakan larangan sekaligus ancaman berat bagi orang-orang yang memakan riba. Dan pada kelima ayat ini terdapat berbagai petunjuk (alasan) kuat  lagi tegas bagi keharaman riba:

 

Pertama:  Pemakan riba akan dihinakan dihadapan seluruh makhuk, yaitu ketika ia dibangkitkan dari kuburannya, ia dibangkitkan dalam keadaan yang amat hina, ia dibangkitkan bagaikan orang kesurupan lagi gila. Ibnu ‘Abbas berkata: “Pemakan riba akan dibangkitkan dari kuburannya dalam keadaan gila dan tercekik.”. Penjelasan yang senada dengan ini juga disampaikan oleh Sa’id bin Jubair, Qatadah, dan Ibnu Zaid, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Jarir At Thobary dalam tafsirnya.

 

Kedua: Penegasan bahwa riba diharamkan oleh Allah Ta’ala, sehingga tidak termasuk ke dalam perniagaan yang nyata-nyata dihalalkan.

 

Ketiga: Ancaman bagi orang yang tetap menjalankan praktik riba setelah datang kepadanya penjelasan dan setelah ia mengetahui bahwa riba diharamkan dalam syari’at Islam, akan dimasukkan ke neraka. Bahkan bukan sekedar masuk kedalamnya, akan tetapi  dinyatakan pada ayat diatas bahwa “ia kekal di dalamnya.”

Disebutkannya ancaman berupa azab neraka atau hukuman didunia merupakan salah satu bukti bahwa perbuatan tersebut adalah dosa besar, sebagaimana dijelaskan oleh banyak ulama’.

Imam Az Zahaby rahimahullah  berkata: “Barang siapa yang melakukan salah satu dari perbuatan besar ini, yang padanya ditetapkan hukum had (pidana) di dunia, misalnya pembunuhan, [perzinaan, dan pencurian atau datang suatu ancaman di akhirat berupa azab atau kemurkaan (Allah) atau ancaman atau kutukan terhadap pelakunya melalui lisan Rasulullah shalallahu’alaihiwasallam, maka berarti perbuatan tersebut adalah dosa besar.”

Dan dalam banyak hadits Nabi shalallahu’alaihiwasallam nyata-nyata menyebutkan perbuatan memakan riba sebagai perbuatan dosa besar. “Dari sahabat Abu Hurairah bahwasannya Rasulullah shalallahu’alaihiwasallam bersabda: “Jauhilah olehmu tujuh dosa besar yang akan menjerumuskan (pelakunya ke dalam neraka). Para sahabat bertanya: Ya Rasulullah, apakah dosa-dosa itu? Beliau bersabda: Mensekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang dibenarkan, memakan harta anak yatim, memakan riba, melarikan diri dari medan peperangan, dan menuduh wanita mukmin yang menjaga (kehormatannya) lagi baik (bahwa ia telah zina).”  Muttafaqun ‘Alaih

 

Keempat: Penegasan bahwa Allah akan menghapuskan dan memusnahkan riba.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Ia akan memusnahkan riba, maksudnya bisa saja memusnahkannya secara keseluruhan dari tangan pemiliknya atau menghalangi pemiliknya dari keberkahan hartanya tersebut. Dengan demikian pemilik riba tidak mendapatkan kemanfaatan harta ribanya, bahkan Allah akan membinasakannya dengan harta tersebut dalam kehidupan dunia, dan kelak di hari akhirat Allah akan menyiksanya akibat harta tersebut.”

Penafsiran Ibnu Katsir ini semakna dengan hadits berikut: “Sesungguhnya (harta)  riba, walaupun banyak jumlahnya, pada akhirnya akan menjadi sedikit.” (HR: Imam Ahmad, At Thabrany, Al  Hakim dan dihasankan oleh Ibnu Hajar dan Al Albany.)

Bila kita mengamati kehidupan orang-orang yang menjalankan praktek-praktek riba, niscaya kita dapatkan banyak bukti bagi kebenaran ayat dan hadits di atas. Betapa banyak pemakan riba yang hartanya berlimpah ruah, hingga tak terhitung jumlahnya, akan tetapi tidak satupun dari mereka yang merasakan keberkahan dan kebahagiaan dari harta haram tersebut.

Bersambung ke-edisi selanjunya…

 

Oleh: DR. Muhammad Arifin Badri, M.A.

Ketua STDI Imam Syafi’i


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *