Adab Berkendara

mobil_sport_keren_honda
Pendahuluan:

Alhamdulilah, shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Dunia yang anda huni ini begitu luas. Di saat yang sama kebutuhan anda tidak terkumpul di satu tempat, namun tersebar di berbagai belahan bumi. Kondisi ini kadang menjadi sumber masalah tersendiri dalam kehidupan anda. Anda  terpaksa harus bepergian jauh agar dapat  memenuhi kebutuhan tersebut.

Coba anda bayangkan betapa susahnya nenek moyang anda ketika sebagian kebutuhan mereka hanya dapat dipenuhi di tempat yang jauh. Mereka harus bepergian, tentunya dengan moda transportasi yang sederhana. Bahkan tidak jarang mereka terpaksa harus bepergian tanpa sarana transportasi apapun. Perjalanan yang melelahkan dan menyedot banyak tenaga dan waktu. Ini membuktikan bahwa keberadaan moda transportasi sangat urgen bagi kehidupan anda.

Wajar bila Allah Ta’ala mengingatkan anda agar mensyukuri-Nya atas diciptakannya moda-moda transportasi bagi anda . Dengan demikian anda dapat berpindah dari satu tempat ke lainnya dengan mudah, cepat dan nyaman.

 

)وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْفِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىكَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلاً(

 “Sungguh Kami telah memuliakan anak keturunan Adam, dan membawa mereka di daratan dan di lautan. Kami memberi mereka rizki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas kebanyakan makhluq yang telah Kami ciptakan.”  Al Isra’ 70

Allah Ta’ala mengingatkan anda akan berbagai kenikmatan yang  telah Ia limpahkan kepada anda. Dimulai dari bentuk tubuh, akal pikiran, hingga berbagai kenikmatan yang melekat pada diri anda. Sebagaimana Allah juga telah menyiapkan berbagai tunggangan, baik ketika berjalan di daratan maupun di lautan.

Andai tiada hewan yang dapat anda tunggangi, lautan senantiasa bergelombang tinggi, atau tidak berombak, betapa susahnya hidup anda?.

      Kendaraan Adalah Nikmat.

Kendaraan, baik yang klasik, semisal, kuda, pedati, andong atau yang moderen, motor, mobil, kapal, atau kereta adalah karunia Allah Ta’ala. Keimanan inilah yang membedakan anda dari para pengendara kendaran lainnya. Keimanan anda tentang kendaran ini, dapat dibuktikan pada beberapa hal berikut:

1.      Ikrar lisan.

Lisan anda adalah penerjemah bagi isi hati anda. Berbagai keyakinan dan juga perasaaan hati, berupa cinta, benci, dan sedih, biasanya anda utarakan melalui lisan anda. Bahkan menyimpan perasaan hati anda, dan tidak mengutarakannya adalah suatu pekerjaan sangat berat.

Wajar bila Islam mengajarkan kepada anda untuk mengespresikan iman anda tentang kendaraan anda dalam ucapan lisan. Allah Ta’ala berfirman:

 

(وَالَّذِي خَلَقَ الْأَزْوَاجَ كُلَّهَا وَجَعَلَ لَكُم مِّنَ الْفُلْكِ وَالْأَنْعَامِ مَا تَرْكَبُونَ {12} لِتَسْتَوُوا عَلَى ظُهُورِهِ ثُمَّ تَذْكُرُوا نِعْمَةَ رَبِّكُمْ إِذَا اسْتَوَيْتُمْ عَلَيْهِ وَتَقُولُوا سُبْحانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ {13} وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنقَلِبُونَ) الزخرف

 “Dan Yang telah menciptakan segala yang berpasang-pasang dan menjadikan untukmu kapal dan binatang ternak yang engkau tunggangi. Supaya engkau duduk di atas punggungnya kemudian engkau ingat nikmat Tuhanmu apabila kengkau telah duduk di atasnya, dan agar engkau mengucapkan : “Maha Suci Tuhan Yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tiada menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami. Az Zukhruf  12-14

Ucapan lisan anda ini adalah bagian dari ekspresi syukur nikmat. Dengan demikian, ucapan lisan ini walau ringan dan mudah namun memiliki arti yang sangat penting, yaitu membedakan anda dari orang-orang yang kufur dan ingkar terhadap nikmat Allah Ta’ala.

 )أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا خَلَقْنَا لَهُمْ مِمَّا عَمِلَتْ أَيْدِينَا أَنْعَامًا فَهُمْ لَهَا مَالِكُونَ {71} وَذَلَّلْنَاهَا لَهُمْ فَمِنْهَا رَكُوبُهُمْ وَمِنْهَا يَأْكُلُونَ {72} وَلَهُمْ فِيهَا مَنَافِعُ وَمَشَارِبُ أَفَلَا يَشْكُرُونَ(

 “Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakan binatang ternak untuk mereka, yaitu sebagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan  kekuasaan Kami sendiri, lalu mereka memilikinya. Dan Kami tundukkan binatang-binatang itu untuk kepentingan mereka, maka sebagiannya menjadi tunggangan mereka dan sebagiannya mereka makan. Padanya mereka memperoleh berbagai manfaat dan minuman. Maka mengapa mereka  tidak bersyukur.” Yasiin 71-73

Karena itu dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bila mengendarai kendaraan, beliau mencontohkan kita untuk mengucapkan:

 (سُبْحَانَ الَّذِى سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ) ثُمَّ قَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ. ثَلاَثَ مَرَّاتٍ. ثُمَّ قَالَ: اللَّهُ أَكْبَرُ. ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ قَالَ: سُبْحَانَكَ إِنِّى ظَلَمْتُ نَفْسِى فَاغْفِرْ لِى فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ(

 “Maha suci Allah Yang telah menundukkan kendaraan ini untuk kami, padahal sebelumnya kami tiada menguasainya, dan kami pastilah akan kembali kepada Tuhan kami. Lalu beliau mengucapkan : Alhamdulillah 3 x, dilanjutkan dengan ucapan Allahu Akbar (takbir) 3 x,  dan ditutup dengan ucapan: “Maha Suci Engkau, sungguh aku telah banyak menzhalimi diriku sendiri, maka ampunilah hambamu ini, karena sesungguhnya tiada yang kuasa mengampuni dosa selain Engkau.” Riwayat Abu Dawud dan At Tirmizy.

2.      Menggunakan Kendaraan Pada Urusan Yang Baik.

Karena kendaraan andalah nikmat,maka sudah sepantasnya bila anda menggunakannya untuk urusan yang diridhai Allah. Layakkah bila anda menggunakan kenikmatan Allah untuk menjalankan kedurhakaan kepada-Nya?

 )لا تزول قدما عبد يوم القيامة حتى يسئل ……وعن ماله من أين اكتسبه وفيم أنفقه )

 “Kelak pada hari kiyamat, kedua kaki setiap hamba tidak akan bergeser hingga dimintai pertanggung jawaban tentang …… dan hartanya, dari mana ia memperolehnya dan kemana ia membelanjakannya.” Riwayat At Tirmizy

Kendaraan Adalah Sumber Kebanggaan.

Memiliki kendaraan, tentu mendatangkan kebahagian dan kebanggaan bagi anda, terlebih-lebih bila kendaran anda bagus. Allah Ta’ala berfirman:

 (وَالْخَيْلَ وَالْبِغَالَ وَالْحَمِيرَ لِتَرْكَبُوهَا وَزِينَةً وَيَخْلُقُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ ) النحل 8

 

“Dan kuda,  baghal (hewan hasil silang antara kudaa dan keledai), dan keledai untuk kalian tunggangi dan menjadi perhiasan bagimu. Dan Allah menciptakan apa (tunggangan-tunggangan lain) yang tidak kamu ketahui.” An Nahel 8.

Cermatilah saudaraku, bagaimana pada ayat ini, Allah mengutarakan bahwa kendaraan sebagai perhiasaan bagi anda. Ini mengisyaratkan bahwa ketika menunggangi kendaraan, anda semakin nampak tampan dan sempurna. Karena itu, sejak dahulu kala, umat manusia berbangga-bangga dengan kendaraan yang mereka miliki.

Fakta ini, tentu  rentan membangkitkan keangkuhan dan kesombongan pada diri anda. Terlebih-lebih ketika dengan kendaraan yang mewah anda melintasi orang yang lain yang sedang berjalan kaki. Bukankah demikian saudaraku?

Untuk mengikis habis kebanggaan dan keangkuhan yang tumbuh dalam hati anda, Islam mengajarkan anda untuk bersikap rendah hati. Kerendahan hati anda  dapat tercapai dengan beberapa hal:

1.      Mendahului pejalan kaki dengan ucapan salam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

)يُسَلِّمُ الرَّاكِبُ عَلَى الْمَاشِى ، وَالْمَاشِى عَلَى الْقَاعِدِ ، وَالْقَلِيلُ عَلَى الْكَثِيرِ(

 “Hendaknya pengendara lebih dahulu mengucapkan salam kepada pejalan kaki, dan pejalan kaki labih dahulu mengucapkan salam kepada yang sedang duduk, dan yang berjumlah sedikit lebih dahuu mengucapkan salam kepada yang berjumlah banyak.” Muttafaqun ‘alaih

Ibnu Hajar Al Asqalani berkata: “Penunggang kendaraan dianjurkan untuk lebih dahulu mengucapkan salam, agar ia terhindar dari kesombongan karena kendaraan yang ia tunggangi. Dengan demikian ia dapat menjaga kerendahan hatinya.” (Fathul Bary 11/17).

Anda sedang berjalan kaki, dan tiba-tiba ada pengendara mobil mewah mengurangi kecepatan laju kendaraannya dan dengan suara yang santun mengucapkan salam kepada anda. Apa dan bagaimana kesan yang timbul dalam hati anda kala itu? Dan bagaimanakah perasaan anda bila orang lain dengan kendaraan mewahnya melintas dengan kecepatan tinggi. Terlebih bila pengendara tersebut adalah orang yang mengenal anda?

2.      Memboncengkan orang lain Yang membutuhkan.

Diantara bukti akan kerendahan hati anda ketika mengendarai kendaraan ialah dengan memboncengkan orang lain yang membutuhkannya. Terlebih-lebih bila tujuannya searah atau bedekatan dengan tempat tujuan anda.

Demikianlah dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan dengan para sahabatnya ketika beliau menunggangi kendaraan. Diantaranya ketika beliau berkendaraan dari padang Arafah menuju Muzdalifah, beliau memboncengkan Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhu. Dan ketika esok harinya beliau memboncengkan sahabat Fadhel bin Abbas hingga tiba di mina. Dan pada lain kesempatan, beliau mengendari keledai dan memboncengkan sahabat Mu’ad bin Jabal di atasnya. Kedua kisah ini diriwayatkan oleh imam Bukhari dan Muslim

Syeikh Abdurrahman bin Hasan At Tamimi berkata: Pada kisah ini terdapat isyarat tentang kerendahan hati beliau. Beliau tidak merasa sungkan untuk mengendarai keledai dan memboncengkan orang lain . Tentu ini menyelisihi kebiasaan orang-orang yang bersifat angkuh lagi sombong. (Fathul Majid 47)

Kendaraan Dapat Menjadi Biang Petaka.

Di zaman kita, cerita tentang kecelakaan dan bencana karena kendaraan adalah sajian setiap hari. Dimulai dari pesawat jatuh, tabrakan kereta api, kendaran, hingga berbagai sial lainnya yang menimpa umat manusia akibat kendaraan . Ketika membaca apalagi menyaksikan kisah-kisah tersebut, anda menjadi merinding ketakutan dan menjadi mungkin juga gentar untuk mengendari kendaraan.

Kesadaran akan fenomena ini sudah barang tentu menuntut anda untuk bersikap waspada dan hati-hati ketika mengendarai kendaraan. Semua itu bertujuan agar kendaraan menjadi nikmat dan bukan sumber petaka.

Walau demikian, fakta telah membuktikan bahwa kesadaraan saja tidak cukup. Betapa banyak orang yang telah sadar akan hal tersebut, sehingga berlaku waspada, namun tetap saja menuai celaka dari kendaraannya. Kenyataan ini tentu menjadikan anda bertanya-tanya: mengapa semua ini dapat terjadi?

Jawabannya hanya ada satu: seluruh makhluq tunduk kepada kehendak Allah Ta’ala. Allah kuasa untuk menimpakan kecelakaan kepada siapa saja yang Ia kehendaki. Dan sebaliknya, Allah pun kuasa untuk menyelamatkan siapa saja yang ia kehendari. Betapa banyak orang yang megalami kecelakaan kendaraan, namun ia selamat tanpa mengelami luka sedikitpun.

Allah Ta’ala telah mengingatkan kita akan fenomena ini dalam firmannya:

 

(وَخَلَقْنَالَهُم مِّن مِّثْلِهِ مَا يَرْكَبُونَ {42} وَإِن نَّشَأْ نُغْرِقْهُمْ فَلَا صَرِيخَ لَهُمْوَلَا هُمْ يُنقَذُونَ {43} إِلَّا رَحْمَةً مِّنَّا وَمَتَاعًا إِلَى حِينٍ {44})

 “Dan Kami ciptakan untuk mereka apa yang dapat mereka kendarai seperti bahtera itu (bahtera nabi Nuh ‘alaihissalam). Dan jika Kami menghendaki, niscaya Kami tenggelamkan mereka, maka tiada yang kuasa menolong mereka, dan tidak pula mereka dapat diselamatkan. Tetapi (Kami selamatkan mereka) karena rahmat yang besar dari Kami dan untuk memberi kesenangan hidup hingga suatu waktu.”  Yasiin 42-44.

Dan pada ayat lain Allah berfirman:

 

(وَمِنْ آيَاتِهِ الْجَوَارِ فِي الْبَحْرِ كَالْأَعْلَامِ {32} إِن يَشَأْ يُسْكِنِ الرِّيحَ فَيَظْلَلْنَ رَوَاكِدَ عَلَى ظَهْرِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ {33} أَوْ يُوبِقْهُنَّ بِمَا كَسَبُوا وَيَعْفُ عَن كَثِيرٍ

 “Dan diantara tanda-tanda kekuasan-Nya ialah kapal-kapal yang berlayar di lautan yang menjulang bak gunung. Jika Dia kehendaki, maka Dia kuasa untuk menjadikan angin diam tidak berhembus, maka jadilah kapal-kapal itu terhenti di permukaan air laut. Sesungguhnya pada yang demikianitu terdapat tanda-tanda kekuasaan-Nya bagi setiap orang yang banyak bersabar dan banyak bersyukur. Atau Ia membinasakan kapal-kapal itu, akibat dari ulah mereka, dan Dia mengampuni sebagian besar dari mereka. As Syura 32-33.

Mungkin ini yang mendasari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  mengajarkan kita agar memohon perlindungan kepada Allah dari sial kendaraan.

 إِذَا تَزَوَّجَ أَحَدُكُمُ امْرَأَةً أَوِ اشْتَرَى خَادِمًا فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَمِنْ شَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَإِذَا اشْتَرَى بَعِيرًا فَلْيَأْخُذْ بِذِرْوَةِ سَنَامِهِ وَلْيَقُلْ مِثْلَ ذَلِك.

 “Bila engkau menikahi seornag wanita atau membeli seorang budak, hendaknya ia berdoa: “Ya Allah aku memohonn kepadamu untuk mendapatkan kebaikannya dan kebaikan perangai yang telah Engkau ciptakan padanya. Dan aku juga berlindung denganmu dari kejelekannya dan kejelekan perangai yang telah Engkau ciptakan padanya.  Dan bila engkau membeli seekor onta, hendaknya engkau memegang ujung punuknya, dan ucapkan doa yang serupa. Riwayat Abu Dawud.

            Mengendarai Kendaraan Di Jalan Yang Lurus Dan Benar.

Untuk dapat tiba di tempat tujuan anda, tentu anda memilih kendaraan yang bagus dan berjalan di jalan yang benar. Bayangkan apa yang akan menimpa anda bila mengendarai kendaraan yang bobrok, berjalan di jalan yang buruk, ditambah lagi melanggar aturan lalu lintas. Celakalah yang akan anda alami.

Anda bersikap selektif dalam memilih kendaraan, mengindahkan rambu-rambu lalu lintas, dan menempuh jalan yang benar, guna mencapai tujuan anda di dunia ini. Padahal bila anda tersesat masih ada kesempatan untuk kembali dan mencari jalan alternatif.  Maka sikap yang sama sudah sepantasnya anda lakukan ketika anda melakukan perjalanan guna encapai tujuan anda di kehidupan akhirat.

Karena itu, seusai menyebutkan kendaraaan dunia, Allah mengingatkan anda tentang pentingnya memilih jalan yang benar agar sampai ke tujuan anda dalam kehidupan akhirat. Selektiflah dalam memilih jalan hidup akhirat sebagaimana anda selektif dalam memilih jalan ketika berkendaraan di dunia.

 

(وَعَلَى اللّهِ قَصْدُ السَّبِيلِ وَمِنْهَا جَآئِرٌ وَلَوْ شَاء لَهَدَاكُمْ أَجْمَعِينَ)

 “Dan hanya hak Allah (menerangkan ) jalan yang lurus dan di antara jalan-lajan ada yang  bengkok. Dan jikalau Dia menghendaki , tentulah Dia membimbing kalian semua menujua jalan yang benar.” An Nahel 9.

 

(وَأَنَّ هَـذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ)

 “Dan bahwa yang Kami perintah ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kemu mengikuti jalan-jalan lain, karena jalanjalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.”  Al An’am 153.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan hal yang sama:

 

عنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّثُمَّ قَالَ هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ هَذِهِ سُبُلٌ قَالَ يَزِيدُ مُتَفَرِّقَةٌ عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ

 “Sahabat Ibnu Mas’ud mengisahkan: Pada suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat satu garis, lalu beliau bersabda: ini adalah (permisalan) jalan Allah. Selanjutnya beliau membuat beberapa garis dari sisi kanan dan kiri garis tersebut, lalu beliau bersabda: Inii adalah jalan-jalan yang bercerai berai, pada setiap jalan terdapat setan yang menyeru manusia kepadanya.  Riwayat Ahmad.

Karenanya selektiflah saudaraku dalam memilih jalan, sebagaimana anda selektif dalam memilih jalan ketika berkendara. Sikap asal ikut-ikutan orang lain dalam memilih jalan sering kali mencelakaan anda ketika berkendara di dunia, demikian juga halnya dengan jalan akhirat anda. Bila pengendara di depan anda ugal-ugalan, akankah anda mengikutinya, hanya kerena ia lebih mahir dalam mengendarai kendaraan? Demikian pula halnya dengan jalan akhirat, akankah anda mengikuti orang lain yang anda kira lebih mahir dalam beragama tanpa memikirkan alasan dan dalilnya?

Penutup:

Saudaraku! Berkendara adalah kenikmatan yang sepantasnya anda syukuri. Dan Kendaraan adalah sarana untuk anda guna memudahkan keperluaan anda. Namun apa guna kendaraan bila ternyata mencelakakan anda dan mendatangkan petaka? Karena itu berhati-hatilah, dan jadikanlah sikap anda ketika berkendaraan sebagai cerminan bagi sikap anda dalam beragama. Dengan demikian, anda sampai di tujuan yang anda dambakan, baik di dunia atau di akhirat. Semoga Allah memberkahi kendaraan anda dan menghantarkan anda tiba di tempat tujuan dengan lancar dan selamat. Wallahu a’alam bisshawab

Penulis:

Dr. Muhammad Arifin Badri, MA,

Ketua Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah Imam Syafi’i


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *